Kabar Terkini

Berani Berpanjang-panjang?


Karena lagi terpapar premier karya besar macam “Missae pro Defunctis” dan “Requiem Aeternam” untuk paduan suara dan organ elektronik di minggu lalu, terbersit di kepala, betapa sulitnya kita menemukan sebuah komposisi simfonik dengan durasi kira-kira 30 menit. Apakah ini kondisi yang tidak mungkin dicari pemecahannya?

Terlintas di benak bagaimana sulitnya mencari sebuah komposisi panjang dari musik simfonik Indonesia yang berdurasi lebih dari 30 menit. Belum lagi mencari karya yang berkualitas untuk ditampilkan dan sesuai dengan tingkat keahlian pemusik di sekitar kita. Sekalipun ada, karya tersebut adalah karya opera/teater musikal yang membutuhkan penanganan khusus lainnya dalam pementasan. Musik instrumental kita agak miskin memang.

Harus diakui bahwa tradisi berpaduan suara di tanah air lebih kuat daripada tradisi musik simfonik. Ketika setiap instansi di republik ini berlomba-lomba membentuk paduan suara, nyatanya jumlah orkestra masih segitu-segitu saja. Walaupun pemain-pemain berkualitas kini mulai bermunculan, namun kita masih menunggu kematangan dunia musik simfonik di tanah air. Bisa dikata, sekarang ini hanya Jakarta Simfonia Orchestra yang mampu mempertahankan frekuensi pertunjukan setidaknya dalam satu bulan sekali.

Kondisi penciptaan kita
Kondisi ini tentu juga akan berdampak pada penciptaan. Butuh komponis nekad untuk mau menulis karya musik panjang dan untuk sebuah orkes kamar, alih-alih orkes simfoni. Terlebih apabila komponis tersebut sudah terlepas dari institusi pendidikan, semakin nekadlah ia apabila ingin menuliskan musik yang panjang dan membutuhkan orkes besar. Ketika di kampus mungkin banyak pelajar dan mahasiswa yang dengan rela hati membantu memainkan karya-karya baru ini namun apabila sudah keluar yang ada ia harus keluar ongkos dari kantong sendiri agar karyanya dapat dimainkan. Tidak heran lebih banyak komponis memilih untuk mengerjakan orderan aransemen lagu-lagu pop dan lagu pendek. Musiknya pasti dimainkan, tidak perlu keluar uang, yang ada mereka dibayar.

Sedikitnya orkes kamar maupun simfoni membuat proses workshop bisa dikatakan hampir tidak mungkin alias setengah mati sulit. Mahal adalah satu sisi, yang lain adalah tidak semua orkes sudi bermain-main dengan karya-karya baru untuk penampilan. Bahkan untuk workshop saja tidak bisa. Workshop sendiri adalah sebuah proses sebenarnya yang dapat dilakukan dalam proses penciptaan karya. Di sini, komponis mengetengahkan draft karyanya yang belum rampung untuk dimainkan oleh pemusik manusia sungguhan, bukan oleh bunyi tetot-nginging MIDI file di komputer. Ini adalah tahap di mana komponis bisa belajar banyak dari para pemain dan instrumen yang mereka mainkan secara langsung. Diskusi pun bisa berlangsung dengan baik.

 

Kondisi paduan suara lebih terbuka
Bedanya dengan paduan suara kita adalah saat ini sejalan dengan berkembanganya kualitas paduan suara tanah air dalam 30 tahun terakhir, tidak sedikit kita bisa menemukan paduan suara yang lumayan bagus di tempat-tempat yang tidak kita sadari sebelumnya. Dan karena paduan suara sudah menjadi bagian dari keseharian, tidak jarang kita melihat sebuah paduan suara amatir yang mampu menyanyikan karya-karya yang tergolong sulit, serta karya-karya baru.

Dengan berbekal sedikit kreativitas, kini seorang komponis muda berbakat bisa mendengarkan karyanya dinyanyikan oleh paduan suara secara langsung. Tidak jarang kita melihat seorang anggota paduan suara yang cerdik dalam meramu nada dapat mendengarkan karyanya dibawakan dalam konser paduan suara di mana ia rajin tarik suara. Alhasil ini adalah kondisi sebuah workshop tak resmi.

Kondisi ini lambat laun mampu menjadi sebuah kawah candradimuka yang mampu melahirkan komponis-komponis yang berani menulis karya panjang. Contohlah Benny Franklin Manumpil dan Levi Prakasa Setiadi yang minggu lalu memerdanakan karya “Missae pro Defunctis” dan “Requiem Aeternam” mereka dan dibawakan masing-masing oleh paduan suara yang mereka pimpin dan bina Benny dengan Terra Voce dan Levi dengan D’Angelic Choir yang masing-masing berdurasi lebih kurang 30an menit, bukan karya yang pendek.

Durasi ini agaknya masih belum terkejar untuk banyak karya simfonik anak bangsa. Sulit sekali untuk menemukan karya komposisi musik simfonik kita yang secara durasi dapat langsung mengisi satu babak konser. Padahal untuk tradisi simfonik dan instrumental, batas 30 menit untuk sebuah simfoni sudah tembus sejak 230 tahun yang lalu di Eropa. Tapi nyatanya penciptaan kita masih harus bertempur untuk mampu mengejar hal tersebut.

Kompetisi belum menjawab
Pernyataan bahwa akses musik kita ini seringkali terbatas untuk para komponis muda bahkan, adalah sebuah tanda tanya yang harus dijawab. Banyak sayembara komposisi dalam prasyarat durasi menyebut durasi maksimal sebuah karya. Banyak di antaranya yang tidak lebih dari 15 menit. Maka dari itu bisa kita asumsikan bahwa tidak terlalu banyak kompetisi komposisi mampu mendorong langsung proses penciptaan karya dengan durasi yang lebih panjang untuk komponis-komponis lokal. Alhasil komponis-komponis pun juga tidak tentu terdorong untuk menciptakan karya yang lebih panjang dalam sebuah kompetisi.

Apa yang akan terjadi apabila dalam sebuah kompetisi dituliskan syarat keikutsertaan lomba adalah karya komposisi tidak lebih dari 10 menit? Tentu saja apabila sang kontestan menulis lebih dari 10 menit, yang ada ia akan didiskualifikasi. Apabila dunia kompetisi demikian, sayangnya dunia keseharian tidak lebih baik. Seberapa banyak komponis kita adalah pemain orkestra? Ada beberapa, namun seberapa banyak orkestra mereka ini memainkan karya mereka? Terlalu jarang.

Persoalan ini sebenarnya bisa kita jawab apabila kita mampu menciptakan sebuah ekologi musik yang sehat. Banyak pemain bagus, banyak pula pemain yang berkualitas yang bersedia memainkan karya-karya komposisi lokal. Lebih banyak, lebih baik dan lebih panjang. Alhasil tidak ada kunci mudah untuk hal yang satu ini. Semuanya hanya bisa dilalui dengan berproses. Dan dalam hal satu ini, orkestra kita masi tertinggal dibanding paduan suara kita, meskipun kedua hal ini adalah “binatang” yang sama sekali berbeda.

Akan tetapi dari perspektif lain kita juga bisa mulai berdiskursus: Apakah memang benar musik dengan durasi panjang relevan dengan kehidupan kita saat ini? Apakah itu cuma sekedar ikut-ikutan gaya barat saja? Toh, musik simfonik Indonesia tidak harus latah gaya-gayaan luar bukan? Nah ini adalah pertanyaan lain yang layak dikupas dalam diskusi lanjutan.

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: