Kabar Terkini

Ogah Berpikir, Hanya Senang Merasa


~ Berkaca dari status Erie Setiawan soal musisi yang merasa tidak ada pentingnya berpikir.Berpikir MerenungOgah berpikir, mungkin inilah penyakit menahun yang menggerogoti dunia permusikan kita saat ini di Indonesia. Kalau dilihat-lihat kita banyak pemusik, tapi sedikit aktor intelektual musik. Lucu?

Mungkin banyak dari pelaku seni saat ini bersembunyi pada keajaiban musik. Musik sebagai “RASA” dan “INTUISI” begitu mengental dalam pandangan masa kini, jangankan diantara para awam, bahkan di antara para musisi sekalipun. Memang harus diakui bahwa musik berawal dari “RASA” dan akan berujung pada “RASA”. Musik memang berawal dari menikmati, merasakan sendiri, lalu kemudian ujungnya dalam proses kreatif pun juga kemudian menjadi innate, menjadi bagian dari budi dan bahkan bodhi (pencerahan). Ya dan inti dari pencerahan adalah intuisi yang sejalan dengan keindahan itu sendiri.

Berpikir itu menjadi hal yang penting sebelum semua menjadi tercerahkan. Memang berpikir dalam berkesenian itu menjadi bagian dari proses demistifikasi musik. Musik yang dirasa indah dan ajaib, setelah pada proses inisiasinya dirasakan, kemudian dibedah untuk mengetahui mekanismenya, bukan cuma sekedar bunyinya, tapi juga mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya dari berbagai sudut dan melihat dunia yang mengelilingi musik itu secara menyeluruh. Sebelum akhirnya kita mengembalikan fitrah keajaibannya setelah kita sedapat mungkin mengerti seluk beluknya, kita harus mampu menempatkan musik sebagai subyek keilmuan.

Keogahan untuk berpikir dan secara sadar melakukan demistifikasi musik untuk menyelami musik dan intrikasinya adalah buah dari arogansi pelaku sendiri. Sialnya, banyak yang kemudian mengangkat esensi ke-Timur-an kita sebagai alasan untuk mempertahankan arogansi kosong tersebut. Konon, Timur itu mengandalkan “RASA” tanpa banyak berteori dan sedihnya Sang “RASA” cuma jadi topeng keenganan manusia-manusia ini. Hidup di dunia modern saat ini adalah bodoh apabila kita tidak mau mengambil nilai-nilai terbaik dari yang ada di dunia ini. Kaya teori dan pemikiran yang dicap ke-Barat-an pun dicap buruk dengan alasan mempertahankan identitas diri yang sebenarnya semu. Toh sebagai manusia utuh, kita tidak dapat melepaskan rasa dari kenyataan kita sebagai pemikir, Homo Sensus Sapiens – Manusia yang merasa dan berpikir.

Sayangnya banyak insan musisi dan mereka yang mengaku penggerak seni tercecer pada proses yang bersumber pada kemalasan. Malas berpikir dan mengandalkan rasa menjadikan manusia sebagai makhluk intuitif saja, yang bagaikan binatang bergerak berdasar naluri belaka. Yang terjadi adalah mereka semua sibuk mencari jalan pintas, enggan untuk berputar dan memahami musik dan seni yang mereka geluti secara menyeluruh dari sisi paling banal hingga sisi paling spiritual. Ocehan bahwa kenapa musik Indonesia begini-begini saja tanpa ada kemauan untuk berpikir, hanya akan menciptakan manusia pasif yang tidak mampu menulis garis takdirnya sendiri. Ikut arus untuk akhirnya tergilas! Di lain pihak, mereka yang terlalu sibuk berpikir sehingga lupa merasa akhirnya memang akan menjadi robot cerdas.

Sebagaimana Gatotkaca harus menyelam di kawah Candradimuka, kemudian bangkit sebagai satria, lalu mati terpanah dalam pertempuran menjadikannya sebagai pahlawan, demikian juga merasakan dan memikirkan musik adalah sebuah siklus yang terus dihidupkan selalu. Dan dalam setiap perputaran tersebut, musisi yang lebih tercerahkan akan muncul. Memang ini adalah proses yang hampir tiada akhir, namun keniscayaan ini tidak bisa dipungkiri. Memang itulah hidup.

Melihat musik sebagai sekedar bebunyian indah tanpa mau ambil bagian dalam berpikir hanya akan menjadikan musisi dan insan kreatif kita ompong, terbuai dalam arus superfisial tanpa punya kedalaman dan keahlian. “RASA” memang punya tempat yang istimewa, tapi hanya melihat “RASA” sebagai kepenuhan hidup bermusik adalah pengerdilan luar biasa dari kepenuhan musik itu sendiri. Dan siapa yang salah kalau musik kita tidak berkualitas, ikut arus dan cuma memanjakan telinga? Tentunya, mereka yang terlalu arogan dan malas untuk berpikir.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Ogah Berpikir, Hanya Senang Merasa

  1. Jadi buruh,
    melakukan yang disuruh.
    Mudah-mudah yang menyuruh sudah berpikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: