Kabar Terkini

Menarik Pelajaran dari Kisah Kyung-wha Chung


IMG_5772.JPG

Tumben-tumbennya kisah musik mancanegara bisa masuk ke Kompas.com. Tapi begitu masuk, malah kisah yang seperti ini yang diangkat. Sebenarnya cukup memalukan, dalam arti bahwa kisah ini malah mengangkat dan seakan membenarkan bahwa musik klasik itu bersifat sangat elitis dan tidak berperikemanusiaan. Jujur saja ini adalah celah yang memalukan untuk dunia musik klasik, orang yang sejak awal ingin mendiskreditkan musik klasik seakan mendapat kesempatan untuk melakukannya dengan fenomena ini sebagai bukti. Kyung-wha Chung sendiri telah merilis pernyataan pembelaannya dan dimuat di situs The Guardian.

Di sisi lain, berbagai media di AS dan Eropa termasuk BBC yang dikutip dalam artikel ini mengangkat secara berimbang dan bahkan lengkap dengan analisis tentang apa yang terjadi. Mungkin problemnya adalah jarangnya media seperti kompas.com mengangkat isu seni pertunjukan, dan sekalinya muncul malah pemberitaan terjemahan yang kontroversial macam ini.

Kali ini kita tak akan sibuk berbincang soal kompas.com ataupun tendensi dari pemberitaan ini, tapi lebih kepada isu yang lebih substansial tentang sikap seorang seniman di atas panggung.

Kyung-wha Chung adalah musisi yang besar di berbagai panggung di dunia. Sebagai seorang prodigy, ia telah berkeliling dunia dan tampil di berbagai negara sejak usia belasan tahun. Pun keluarganya adalah keluarga musisi kelas dunia, adiknya konduktor ternama. Memang mungkin 12 tahun istirahatnya sebagai penampil menjadi beban mental tersendiri bagi penampil berusia 66 tahun ini.

Tapi sebagai seorang profesional, adalah tidak pantas seorang musisi untuk menolak audiensnya, terlebih audiens tersebut memang sedari awal telah memegang haknya sebagai penonton, contohnya telah membeli tiket ataupun telah diberi akses masuk. Sikap seperti ini adalah fair apabila memang oleh penyelenggara, batasan-batasan ini sudah diutarakan dengan jelas sebelumnya. Katakan bahwa anak bawah lima tahun tidak diperkenankan membeli tiket dan masuk ke dalam ruang konser.

Menolak penonton setelah penonton tersebut diberikan akses masuk adalah perilaku yang tidak dapat dimaklumi. Terlebih setelah penonton tersebut membayar tiket, adalah tidak profesional untuk menolak penonton tersebut sekalipun uang tiketnya dikembalikan. Tentu saja ini bukan masalah uang, tapi lebih mengarah pada cacat penyelenggaraan secara umum, tidak adanya komunikasi antara penyelenggara dengan calon audiens dengan efektif dan tepat.

Di sisi lain, kecenderungan seperti ini bisa jadi menandakan bahwa penampillah yang tidak bersikap profesional. Menyanggupi tampil dalam sebuah acara yang telah diterangkan sebelumnya berarti juga menyanggupi untuk tampil dalam kondisi apapun. Adalah kurang bijak apabila penampil di atas panggung menampakkan wajah tidak puas dan bahkan mengeluarkan komentar yang tidak pantas di atas panggung.

Sebagai seorang musisi kawakan tentunya Kyung-wha tahu batasan tersebut, bahwa komentarnya bisa saja mencederai penonton tersebut ataupun penonton lainnya yang mendengarkan komentar tersebut. Pun komentar ini bisa saja mengubah suasana konser dan menjadikannya tidak nyaman. Tentunya ia tahu. Mungkin ia sudah memperhitungkan bahwa apabila dia tidak berkomentar, pikirannya akan berkecamuk dan malah menghancurkan penampilannya di hari itu.

Seorang seniman panggung saat ini seringkali dinilai dari kemampuannya menakar dunia luar dan tidak membiarkannya mencederai penampilannya di atas panggung. Singkat kata, apapun yang terjadi the show must go on. Ketidakmampuan violinis internasional ini menakar reaksinya sama seperti ketika konduktor kawakan Michael Tilson-Thomas merasa terganggu oleh penonton dan mengusirnya dari gedung pertunjukan di awal tahun ini, sebenarnya menunjukkan masih adanya kelemahan kesiapan mental penampil kaliber internasional ini.

Kelemahan kesiapan mental seperti ini parahnya bisa jadi menindikadikan arogansi dari sang penampil yang sebenarnya haruslah hingga skala tertentu menjadi pelayan yang baik bagi para penontonnya. Alhasil pertanyaan seberapa jauhkah seorang seniman panggung boleh dan pantas menjadi pelayan penonton sembari terus menjaga keutuhan tanpa menjual diri dan menghancurkan seninya menjadi pertanyaan relevan bagi seniman panggung. Melayani untuk kepuasan penonton dan bukan menghambakan diri bagi kesenangan penonton memang menjadi batasan yang sedemikian kabur.

Intinya memang tidak ada hukum yang mengatur batasan macam ini. Pemain musik bisa saja jungkir balik bak pemain sirkus untuk menarik perhatian penonton, sejak zaman Mozart pun penampilan seperti ini memang sudah ada. Bahkan banyak pemain yang lebih sibuk berpose layaknya seorang model daripada benar-benar mengolah musiknya dan ini adalah simptom penyakit yang harus segera diobati.

Namun akhir cerita memang yang menentukan adalah output seni yang dihasilkan. Apabila mutu seni yang dihasilkan baik, masyarakat kita bisa dengan mudahnya abai terhadap hal-hal superfisial seperti kelakuan ini. Di ujungnya memang tergantung bagaimana persepsi masyarakat akan penampilan yang disuguhkan. Apabila publik melihat seni yang ditawarkan berkualitas, memang daya maklum publik biasanya lebih meningkat. Dan soal resepsi publik ini tentunya tergantung oleh tingkat edukasi masyarakat akan bentuk kesenian ini. Dari sini mereka bisa menilai apakah eksentrisitas itu pantas untuk musisi tersebut.

Jadi, menangkap arogansi dan keanehan ini sebenarnya adalah edukasi. Semakin tinggi pengetahuan masyarakat akan bentuk seni ini, tentunya semakin tinggi ekspektasi dari kualitas seni itu sendiri. Di lain pihak dengan tingginya kualitas seni, semakin rendah pula tingkat pemakluman masyarakat akan hal-hal konyol yang bisa saja ditelurkan oleh musisi di atas panggung.

Kyung-wha sendiri berutung karena dia sedari dahulu dianggap sebagai salah satu musisi papan atas bahkan oleh publik Eropa dan Amerika sana. Apabila dia dia kalibernya lebih rendah, katakan seperti penulis yang tingkat kecamatan saja tidak tentu lewat, mungkin sudah sedari awal dia telah dilempari telur dan mati karier dalam sekejap.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: