Kabar Terkini

Gandari: Langkah Seorang Ibu di Garis Waktu


Ia, yang tidak ingin lagi melihat dunia,
Sore itu menengok ke luar jendela
buat terakhir kalinya:

Mengalami Gandari, mungkin inilah yang menjadi tutur mula kisah yang membahana di Teater Jakarta. Setelah kalimat diatas berkumandang, seluruh isi teater dibawa menyelami sosok yang sering terlupakan, terduga sebagai aktor salah dan lemah dalam kisah epos Mahabharata. Kini dalam sastra Goenawan Mohamad, ia diangkat sebagai tokoh yang sentral namun tak terlihat. Opera Tari Gandari memandang sang Permaisuri kaum Kuru dari perspektif orang ketiga. Tiada sosok sang Putri dari negeri Gandara, hanya ada personifikasinya dalam gerak dan suara serta balutan musik Tony Prabowo.

Katrien Baerts asal Belgia menyajikan nuansa lewat suara sopranonya yang cekatan melintas nada. Setiap gerak yang dilandasi ide sutradara Yudi Tajudin terasa khidmad berkembang. Sepintas terdengar pengembangan tematik dari komponis senior Indonesia ini dalam personifikasi yang dibawakan secara padat oleh Katrien Baerts. Jarak-jarak nada yang sedemikian sulit untuk seorang vokalis seakan dilibas tanpa kenal ampun dan meyakinkan. Demikian juga dengan Batavia Madrigal Singers yang ambil bagian sebagai ensembel vokal untuk opera tari ini. Di bawah arahan chorusmaster Avip Priatna, ensembel mampu membangun atmosfer yang pekat. Sedang Sita Nursanti dan Landung Simatupang selaku dua orang narator secara konsisten mampu mencuri presensi panggung lewat daras yang terjalin erat dengan garis melodi Katrien Baerts.

Puisi Goenawan Mohamad sendiri yang diperlakukan sebagai libretto sekaligus sumber naskah inspirasi melepas kerangka kronologis dari kisah Mahabharata dan menempatkan peristiwa Gandari sebagai cermin bagi para penonton. Perenungan perang Kuru dibahasakan dalam kepedihan yang merasuk Gandari setiap kali berita kekalahan dan kematian paman yang ia kasihi dan hormati, hingga satu  per satu anak-anaknya mencapai telinganya. Kata-kata menjadi teriakan tercerabutnya Gandari dari kesenangan dan harapan hidupnya, dewa-dewa seakan bermain-main dengan hidupnya.

Dalam jumpa pers (sumber foto: Antara)

Waktu berpindah cepat dari peristiwa dan renungan terlebih menjadi sangat kuat lewat garapan gerak koreografer kontemporer Akiko Kitamura yang penuh simbolisme hidup. Enam penari, tiga penari Indonesia Danang Pamungkas, Rianto, Luluk A. Prasetyo bergabung dengan tiga penari Jepang, Kana Ote Yuki Nishiyama dan LIon Kawai. Keenamnya dalam balut kostum putih menjadi representasi teks Gandari dalam gerak yang tidak kenal lelah. Walaupun tidak selalu padu dengan musik, namun kesinambungan tarian inilah yang menjadi faktor keajaiban, selain teks dan musik. Adalah tidak berlebihan apabila memang pertunjukan ini didaulat sebagai opera tari, di mana tari memiliki peran yang sentral dalam menggerakkan kisah. Nomor-nomor solo seperti yang ditarikan Kawai dalam penggalan Bhisma gugur sungguh menjadi sorotan tersendiri. Akiko Kitamura dan tim penarinya memang berhasil memadu cinta, ragu, amarah dan perang dalam ayunan gerak yang luwes dan penuh ruh yang sesekali berpadu dengan langgam langkah dan gerak khas tari tradisional Jawa.

Menyaksikan konduktor Bas Wiegers yang berdiri di atas bahtera di atas panggung menjadi sebuah penghubung visual tersendiri dengan musik atonal yang menantang namun juga memanjakan telinga di sepanjang pagelaran. Di tangannya musik ini memiliki nafasnya tersendiri yang berpendar lewat penguasaannya yang penuh presisi. Walaupun dalam kondisi statis, kepiawaiannya menguasai orkes yang sengaja diletakkan di atas panggung oleh penata panggung Teguh Ostenrik, berbeda dengan orkes opera tradisional, bahkan menjadi santapan yang mampu menjadi pelengkap koreografi enam orang penari yang menjelajah panggung di depannya. Di sisi lain, dua ensembel Belanda, Slagwerk Den Haag di seksi perkusi dan Asko|Schönberg di seksi gesek dan tiup berpadu dengan ringkas dan apa adanya. Penguasaan instrumen yang luar biasa memampukan mereka mengeluarkan suara seperti yang dituntut oleh komponis dengan kejernihan dan penggarapan yang mendetail, seakan menggambarkan dunia bunyi Gandari yang bersumpah menutup matanya demi sang suami yang terlahir buta.

Tony Prabowo sendiri meramu musik dengan kepekaan yang tinggi. Dengan idiom musiknya yang atonal, penonton dibawa menyeberangi lanskap Kurusetra serta Astina dan memaparkan kisah hati Gandari. Kesunyian bunyi harmonics pada seksi gesek berpadu dengan riuh rendah orkestra. Seksi perkusi pun berdentang syahdu, sesekali mendengar rintih seksi tiup yang gegap dan sesekali lirih. Kesemuanya berlapis kefasihannya menggarap kontrapung dan perbendaharaan tematik. Dalam karya ini sungguh terlihat, kemampuan Tony dalam memacu penonton dalam ruang sonik tak bernada dasar memancing penonton mendengarkan dengan seksama. Dengan cerdik, ia pun membiarkan penonton mendengar lepas untuk merenungkan kekayaan dari teks Goenawan di atas pemaparan musik spektral.

Di hampir penghujung, opera Gandari ini menawarkan jawab atas pertanyaan “Siapakah Gandari hari ini?”. Hadir sosok Ibu Maria Katarina Sumarsih, seorang aktivis HAM sekaligus seorang ibu dari seorang aktivis 98 yang mati tertembak peluru tajam tentara di Semanggi, yang berkisah dengan jujur tentang kematian putranya dan usahanya mencari keadilan yang tidak kunjung berbuah. Opera seakan terhenyak menyaksikan sosok Ibu Sumarsih yang hingga kini setiap Kamis sore berdiri di depan istana. Penonton pun tercekat menyaksikan nyatanya pedih Gandari yang bukan berupa aksi di aksi panggung, namun sungguh hadir dalam sosok dan kebesaran hati Ibu Sumarsih. Gelayut kelabu lalu mendorong penonton menyaksikan Gandari dalam ruang imaji menyaksikan Drupadi yang memenuhi sumpahnya untuk mencuci rambut dengan darah anak Gandari sendiri Dursasana yang terkapar mati.

Ia hanya ingat. Ruang adalah
sisa masa lalu.

Di atas panggung, gerak dan tari Kitamura berpadu gerak orkes dan konduktor serta imajinasi tata lampu dan multimedia yang sederhana tapi kaya seakan sibuk bercurian perhatian dengan kekayaan narasi teks tahun 2013 Goenawan Mohamad dan sensasi aural Tony Prabowo lewat vokal soprano, pendarasan dan permainan musik orkes serta paduan suara. Pun inspirasi Gandari dari kitab Mahabharata sendiri sudah memiliki nilai falsafah yang sedemikian mendalam. Malam kemarin kekayaan keindahan seakan bercampur jadi satu. Bahkan bagi yang terlatih sekalipun, sulit untuk sungguh meresapi setiap momen indah dengan penuh, karena setiap elemen dari pergelaran ini yang sarat makna dari momen ke momennya. Berlalu, bertumpuk dan terjadi bersamaan dan terkesan tiada henti di atas garis waktu.

Di atas panggung Taman Ismail Marzuki kemarin, kekayaan opera menjadi sungguh nyata, di mana beragam talenta dari penjuru dunia bersatu membangun perenungan baru. Dunia opera Indonesia semakin diperkaya lagi lewat premier karya baru ini. Dan bagi pecinta seni, Opera Tari Gandari adalah sebuah karya klasik yang layak ditonton berulang kali, dengan pemaknaan yang baru setiap kali.

IMG_5778.JPG dari FB page Asko|Schoenberg

~masih ada satu pagelaran lagi malam Sabtu 13 Desember ini di Teater Jakarta pk.20.00
And thank you ka Aisha for the ticket!

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Gandari di Frankfurt Malam Ini | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: