Kabar Terkini

Inovasi dan Asyiknya Tetabuhan Den Haag


Mungkin baru 90 tahun terakhir, dunia barat memalingkan kepalanya pada keajaiban bunyi tetabuhan. Kekaguman yang relatif baru ini kemudian mensejajarkan posisi alat musik pukul dengan musik melodius yang selama bermilenium diagungkan di sana. Mereka pun memalingkan muka pada kekayaan ritmis dari budaya lain di luar Eropa, Afrika, Asia dan Amerika untuk menyerap dan menikmati pergerakan musik tabuh yang dinamis. Malam ini di Salihara, Slagwerk Den Haag membawa kembali kekayaan dan pesona musik dunia untuk ditampilkan kepada publik ibukota.

Bermain dengan semangat yang tinggi, selalu sebuah kesenangan melihat bagaimana alat musik tabuh terasa hidup di tangan para pemain dari ensembel Belanda ini. Permainan ritme yang terkesan asik ternyata dibangun dari bebunyian sederhana di atas kayu dengan tinggi rendah bunyi yang berbeda. Lima buah kayu atau disebut clave yang dipukul menjalin alunan ritmis yang hidup bergantian, saling teranyam satu dengan yang lain. Konsistensi terjaga di sepanjang karya komponis Steve Reich, Music for Pieces of Wood ini yang alat musiknya terinspirasi dari instrumen clave yang digunakan oleh pemusik tradisi Amerika Selatan.

Di sela anyaman ritmis yang ramai dimainkan oleh 5 musisi, terbersit kuat bebunyian kotekan gamelan jegog Bali Utara yang terbuat dari bambu. Ternyata walaupun karya kontemporer, ternyata Steve Reich secara tidak sadar malah mendekati musik tradisi Indonesia yang menurut perkusionis/konduktor Gabriel Laufer yang juga hadir kemarin adalah gudangnya kekayaan musik perkusi.

Karya Javer Alvarez untuk solo maracas dan musik elektronik berjudul Tezmacal mencoba mengeksplorasi variasi bebunyian maracas dengan permainan yang lambat laun menuju klimaks yang ramai, cepat dan heboh. Permainan yang teatrikal memadukan dua maracas dengan ambians dari musik elektronik yang berpadu dengan pulsasi maracas, seakan menarik maracas hingga ke batas antara sadar dan ekstase.

Demikian juga dengan karya Louis Hendriessen/Martijn Padding Het Gesprek, memainkan bebunyian perkusif huruf konsonan pada mulut dalam permainan ritme yang timbal balik di antara dua orang pemain perkusi. Keduanya terduduk namun sibuk memperagakan secara komedik permainan “perkusi” ini dengan instrumen fantasi. Sembari menabuh angin, mereka membunyikan mulut itu dengan percakapan asli bahasa Bahasa Belanda yang dikawinkan dengan ritmik musik namun kemudian dibuang bebunyian vokalnya. Konsonan pun berterbangan, menjadikan karya ini sungguh perkusi tanpa alat.

Karya Mayke Nas dari Belanda dengan judul DiGIT #2 untuk piano 4 tangan, sesungguhnya lebih cocok sebagai permainan domikado anak-anak yang dimainkan di depan piano. Bunyi-bunyi tuts yang berdekatan dihentak bersama dengan asyiknya dua pianis bertepuk tangan dan paha, sembari sesekali menghadap satu sama lain saling menepukkan tangan seakan sedang bermain.

Karya komponis China Guo Wenjing untuk 6 buah gong china yang dimainkan oleh 3 perkusionis seakan benar mengeksplorasi alat musik logam yang kita kenal nyaring. Nada 6 gong yang berbeda dimainkan dengan ajaib lewat permainan ritme dan timbre suara. Variasi tongkat pemukul dan bagian gong yang dipukul dan terkadang ditekan membuat suara-suara ajaib dari gong terlahir. Gong yang seakan selalu memekakkan telinga ternyata punya sisi dramatis yang kuat, terlebih dengan cekatan pemain menyilang-nyilangkan tangan di antara 6 gong yang semuanya terletak di atas meja. Gong yang tertahan, gong yang gementang, gong yang tergores koin, suara-suara unik ini bertabuhan dengan manis.

Steve Reich kemudian didaulat untuk menutup pagelaran lewat karyanya untuk bongo Drumming yang dieksekusi dengan rapih oleh 4 orang pemain perkusi. Di sini pergeseran ritme yang bergesekan dengan sebuah konstan ditampilkan sembari dibumbui tema-tema ritmis yang hidup. Karya yang ditulis tahun 1970 ini pun dimainkan dengan cukup rapih dan terstruktur oleh Slagwerk Den Haag.

Jujur saja, permainan Slagwerk sangat kaya dan beragam. Namun semuanya berintikan disiplin dan kesempurnaan permainan. Bagaimana masing-masing mereka mengeksplorasi bunyi instrumen sesuai dengan keinginan komponis adalah kualitas tersendiri yang patut dicontoh. Pun bagaimana 5 musisi ini menghidupkan alat musik tabuh dan memadukannya dengan kelincahan dan teatrikal panggung, menjadikan acara ini menarik untuk disaksikan. Walaupun di karya Drumming sempat terbersit rasa monoton, namun secara umum sajian terasa asyik untuk dinikmati.

Ketika banyak pertunjukan menginspirasi kata-kata, Slagwerk Den Haag menuntun penonton untuk mengalami musik dalam bentuknya yang paling mendasar, tetabuhan.

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: