Kabar Terkini

Menelisik Naluri, Mengelitik Akal oleh Asko|Schonberg dan Slagwerk Den Haag


IMG_5799.JPG
Lima puluh tiga motif pendek, dipilih sendiri secara acak, diulang sekena hati dengan kecepatan seturut rasa dan selera, dinamika pun terserah sang pemegang instrumen. Bisa keras bisa lembut, bisa menghentak bisa mendayu, bisa berlari bisa seakan diam dalam tidur, sekena hati dimainkan oleh dua puluh satu musisi yang juga diberi kebebasan untuk memilih motif manapun. Tidak ada konduktor untuk menyamakan langkah. Semua jalan sendiri. Alhasil, jutaan kemungkinan musik bisa terjadi. Setiap pergelaran music yang ditampilkan berbeda walau berangkat dari lima puluh tiga kerangka motif yang sama, bahkan panjang pendek pertunjukan bisa sangat beragam tergantung kesepakatan seluruh pemain. Instrumen yang digunakan pun diserahkan kepada pemain untuk menentukan sendiri.

Di tangan duabelas pemain Indonesia dan sembilan pemain dari Asko|Schonberg dan Slagwerk Den Haag kemarin di Erasmus Huis, karya “In C” dari komponis Amerika Terry Riley ini menjadi saat penegasan naluriah manusia. Kebebasan memilih bentuk dan langkah, dalam kerumitan sahut-sahut yang riuh rendah, ada sebuah kerinduan dalam hati manusia akan sebuah harmoni dan relevansi dengan sebaya.

Secara sadar maupun tidak, terlihat sekali kerinduan setiap pemain untuk mampu berinteraksi dengan rekan-rekan mereka. Berangkat dari ketidakteraturan, satu persatu instrumen mencoba mencari kawan untuk saling bertanya jawab. Memang ada yang sibuk sendiri, seperti layaknya kita di kehidupan kita. Namun banyak yang lain berkolaborasi dalam nada dan perlahan dari chaos terbentuk relasi yang bebas antara salah 2-3 pemain yang secara acak seakan bertegur sapa dalam permainan motif nada-nada pendek. Memang berpusat pada nada C, karya ini memang mengarahkan pemain secara bawah sadar untuk menyadari benang merah satu dengan yang lain. Di satu saat clarinetis Pierre Woudenberg berinisiatif memimpin, lalu diikuti oleh yang lainnya dengan meniru ataupun membalasnya.

Nyata juga bahwa bahkan pemain pun secara sadar melepas kebebasan mereka lewat perjanjian untuk merespon satu dengan yang lainnya lewat kanon, motif yang sama berbalasan di instrumen-instrumen gesek. Keindahan dalam keteraturan pun tercipta. Ini bisa jadi adalah perlambang kerja sama antara para pemain gabungan yang memang baru bermain bersama di sini. Pun di akhir karya semua pemain sepakat untuk mengikuti gerak pemain perkusi Fedor Teunisse untuk bersama-sama mengakhiri karya. Ya, naluri manusia inilah yang digarap pada babak kedua konser itu.

IMG_5794.JPG
Di babak pertama, karya komponis Belanda Theo Verbey berjudul Perplex membuka seluruh pertunjukan konser. Asko|Schonberg bersama Slagwerk Den Haag di bawah pimpinan Bas Wiegers membawakan karya yang banyak terinspirasi dari komponis modern Steve Reich. Berangkat dari frase ostinato yang berulang, karya kemudian berkembang sembari terus menyebar dari gesek viola dan cello, ke tiup flute dan clarinet yang berbunyi hangat. Di belakang vibraphone dan piano menirukan frase ini dalam rangka yang sedikit berbeda dengan dengung yang menawan. Dalam fragmen yang bertanya jawab, satu dengan yang lain, Bas mengarahkan dengan penuh presisi. Flute Jeanette Landré di beberapa tempat meliuk menarik perhatian sedang violin dan clarinet sesekali menjawab, lewat motif sama yang telah dimodifikasi, ataupun sayup di latar. Terlihat sekali bagaimana ensemble ini sungguh mengerti arah pergerakan musik yang mereka bawakan.

Di sela-sela, tampil kembali Joey Marijs dan Niels Melieste membawakan karya Het Gesprek karya Louis Andriessen dan Martijn Padding yang sehari sebelumnya dibawakan di Teater Salihara. Memperlakukan konsonan dari sebuah percakapan sebagai sebuah permainan perkusi, duo ini menampilkan interaksi di antara mereka yang hidup lewat alat perkusi imajiner mereka. Masing-masing mereka melafalkan konsonan dengan irama dengan gerakan yang sesekali memancing tawa. Namun nampaknya audiens di Erasmus kali ini terasa lebih kaku dan menjaga laku sekali dibandingkan dengan di Salihara. Pun memang aksi mereka yang sesekali memang ditujukan untuk mengocok perut seakan terbungkam oleh audiens yang terlalu berhati-hati padahal duo “perkusi” asal Belanda membawakannya dengan sepenuh hati.

Babak pertama pun ditutup dengan chorale kontemporer karya komponis kenamaan Belanda Louis Andriessen yang berjudul Perplex. Pada karya yang memecah ensemble menjadi dua, seksi perkusi dengan vibraphone, marimba dan piano, serta seksi gesek dan tiup yang digawangi clarinet, flute, violin dan cello. Piano yang dimainkan oleh Pauline Post seakan berfungsi sebagai tulang punggung perkusi yang menjawab seksi gesek dan tiup yang berpanjang-panjang dengan terpaan kord sinkop yang terputus seakan terbata-bata. Kalimat pun berubah menjadi sahut-sahut menyahut kanon tangga nada yang terdengar rusak dalam disonan, perlahan terputus dan menjadi semakin pendek hingga pengulangan dua not saja seakan lelah menjawab.

Konsep yang ditawarkan oleh Wiegers bersama Asko|Schonberg dan Slagwerk Den Haag sangat mudah dipercaya. Pemaparan singkat sang konduktor juga memudahkan para penonton untuk mencerna dan menikmati karya yang menurut kebanyakan orang tergolong sebagai “musik sulit”. Namun di tangan mereka, seperti pagelaran sehari sebelumnya di Salihara dan dalam Opera Tari Gandari, rangkaian musik yang dibawakan dengan teliti dan jernih ini walau memiliki konsep yang unik dan berbeda menjadi mudah dipahami. Musik apapun menjadi masuk akal.

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: