Kabar Terkini

Sekolah Musik Anda Mulai Kekurangan Murid?


Di balik pernyataan ini adalah kenyataan bahwa setelah menjamurnya banyak sekolah musik, ternyata kini mreeka perlahan mulai mengalami penyusutan. Ya, beberapa mulai merasakan fenomena berkurangnya murid. Banyak yang keluar lalu akhirnya perlahan tapi pasti lama-lama harus menutup cabang-cabang mereka satu persatu karena biaya operasional terlalu besar. Bahkan sekolah musik yang sudah mempunyai nama besar pun mengalami fenomena ini.

Hal ini bisa jadi adalah sebuah fenomena yang mengkhawatirkan bagi para pengelola sekolah. Guru-guru ada, tapi murid tidak ada, akan jadi repot juga. Namun untuk menjawab pertanyaan ini, yang pertama harus dijawab oleh pengelola sekolah saat ini adalah apakah mereka sungguh tahu alasan anak-anak ini keluar dari sekolah musik dan studio kursus mereka?

Ketika banyak perusahaan melakukan exit interview ketika ada karyawan mengundurkan diri, adalah baik apabila sebuah sekolah musik pun mengadakan exit interview dalam kondisi yang santai bagi siswa sekaligus orang tua mereka. Setiap alasan bisa diutarakan dan ini adalah sebuah kesempatan belajar bagi institusi akan sebab mengapa akhirnya peserta didik yang sekaligus adalah pelanggan memutuskan untuk tidak lagi mau membeli jasa pendidikan dari pribadi ataupun institusi tersebut. Jujur saja, seringkali surat pengunduran diri yang telah diketik dengan baik pun tidak tentu cukup untuk mengerti secara sungguh alasan-alasan terdalam. Apalagi murid-murid yang mendadak menghilang, hanya akan meninggalkan rumput yang bergoyang.

Adalah baik apabila exit interview ini dilakukan secara tertutup dan nuansa yang mendukung. Pun dilakukan oleh pihak ketiga akan menjadi nilai tambah tersendiri. Hasil exit interview pun juga akan lebih obyektif dan dilaporkan secara berkala bagi anggota direksi ataupun kepala operasional. Kadangkala masalah administratif yang dianggap sepele malah jadi alasan besar bagi orangtua murid untuk mencabut anak-anaknya dari sekolah tersebut. Apalagi alasan-alasan mayor yang bisa saja menjadi pendorong utama menghilangnya anak didik seperti kekecewaan dan ketidaknyamanan. Tentunya mereka yang akan meninggalkan studio ini bisa lebih jujur karena tidak perlu khawatir akan penghakiman guru ataupun rasa sungkan.

Di sisi lain, adalah baik pula apabila jika sekolah musik pun mulai membuka survei bagi murid-murid aktif dan orang tua mereka. Entah yang diambil adalah sampel ataupun untuk seluruh murid. Survei ini bisa dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif, tinggal dipilih. Tapi memang harus bersentral pada apa saja yang mereka cari pada sebuah pendidikan musik saat ini, nilai-nilai apa saja yang menjadi penggerak mereka dalam memilih sebuah institusi. Bahkan kalau perlu juga digali apa pendapat mereka tentang institusi dimana sekarang mereka bernaung.

Di masa ketika Jakarta macetnya tidak tertolong lagi, jarak menjadi masalah. Ketika sepuluh tahun lalu, murid akan suka rela menerjang 20km dan 40 menit untuk kursus yang baik, sekarang ini bisa jadi 20km dan 1.5 jam bisa jadi penghalang yang cukup kuat. Pun banyak sekolah musik menjamur sehingga apabila tidak cerdik-cerdik menggalang diferensiasi, institusi tercinta bisa jadi terlindas zaman.

Belum lagi sekarang ini banyak sekolah-sekolah berkualitas dan kelas menengah yang menjadi target pasar dari studio dan sekolah musik bisa jadi kini menawarkan program pendidikan musik yang tidak kalah lengkap. Dengan membaiknya kualitas persekolahan kita, secara tidak langsung mereka pun menjadi kompetitor kuat dari sekolah musik dan tempat kursus yang kita kenal. Selain yang saya ungkapkan ini masih ada segudang alasan lain, mulai dari mutu ajar, kepribadian pengajar, proses, kurikulum dan hal-hal lain yang bisa menjadi elemen penentu.

Namun yang terutama dari proses menarik angket ini adalah sikap pengelola yang sedari awal akan menentukan apakah angket ini akan memberikan hasil yang riil atau tidak. Sikap yang esensial itu adalah sikap terbuka dan mau menerima masukan. Akan percuma apabila kita mengadakan angket dan survei serta exit interview apabila pada ujungnya sikap arogan dan keangkuhan diri yang mengeraskan hati dari para pengelola. Setiap perkataan, “Ah itu kan anak muridnya saja yang tidak cocok”, “Orangtuanya memang tidak baik”, “Cara kita adalah cara yang terbukti baik dalam mendidik musik”, “Mereka memang tidak ada niat”, adalah sebuah kemunduran.

Memang pada akhirnya tidak semua masukan bisa menjadi masukan yang konstruktif. Dan tidak semua informasi harus diserap sedemikian rupa dan diakomodasi dalam kebijakan. Namun mau mengetahui lapangan adalah satu cara untuk mengarahkan pendidikan yang lebih baik. Dan memang, sebuah kecenderungan kita untuk menganggap remeh orang lain termasuk orang tua murid yang adalah stakeholder utama sekolah musik selain peserta didik itu sendiri adalah tindakan bunuh diri perlahan.

Pada akhirnya dibutuhkan kebijakan untuk memilah dan memilih masukan mana yang ingin kita akomodasi untuk menentukan kebijakan untuk mengurangi penyusutan ataupun malah meningkatkan jumlah peserta didik dan kualitas pendidikan itu sendiri. Bentuk skala prioritas, dan berani untuk melangkah. Dan bisa jadi, langkah yang Anda ambil sekarang dengan informasi yang memadai akan menentukan nasib institusi Anda 5-10 tahun mendatang.

 

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: