Kabar Terkini

Demokrasi Kritik, Kurang Waktu untuk Merenung


~ Setelah membaca CBC.ca

b04f1-ear_14439206Demokrasi dalam kritik seni memang sebuah hal yang dimungkinkan lewat perkembangan teknologi saat ini. Twitter, Facebook, Rottentomatoes dan banyak website lainnya membukakan jalan untuk setiap orang menjadi kritikus dan membentuk opini masyarakat akan sebuah karya seni.

Demokrasi dari kritik seni adalah hal yang baik. Banyak suara terbuka untuk didengarkan, semakin banyak orang menulis dan semakin banyak opini bergerak dan beredar di masyarakat. Dari opini yang personal dan tidak jelas bagi pemirsa, hingga opini yang disusun kuat semuanya tersedia. Banyak opini berkualitas yang juga dibukakan aksesnya, hingga bisa dinikmati banyak orang. Tapi tidak sedikit juga opini yang dangkal dan tidak berdasar. Namun demikian, dari semua gejala yang ada, muncul sebuah tanda-tanda yang semakin kuat, yakni semakin tereduksinya bentuk kritik dan juga kualitasnya.

Kritik seni yang semakin tereduksi sebenarnya paling dirasakan dalam dunia kritik film. Sebagai sebuah karya seni yang cukup lengkap, film terbatas dalam kapasitasnya yang tidak membuka interaksi dan perubahan dalam penyampaian karya. Hakikatnya yang diam tersebut menjadikannya obyek kritik yang terbilang mudah dan terbuka. Pun film dengan distribusinya yang luas juga membuka peluang lebih banyak orang untuk bersikap kritis pada film tersebut yang adalah sah-sah saja. Sebagai sebuah bentuk seni yang terbentuk di zaman industri dan kuat mengakar pada basis massa masyarakat modern, memang film adalah yang paling rentan.

Namun kenyataannya di lapangan, dengan berkembanganya situs-situs kritik film dan demokratisasi, kritik seni film nampaknya semakin tereduksi dalam bentuk yang terlalu sederhana sehingga mengancam keberadaan kritik seni itu sendiri. Ya, di satu sisi kritik seni film berubah untuk menampung lebih banyak pendapat masyarakat, namun kualitas seni alhasil cuma direpresentasikan oleh sejurus bintang, gambar tomat ataupun jempol belaka. Sedikit angka dan sejurus komentar pendek seakan sudah menggambarkan kualitas film yang disaksikan tersebut.

Kita pun harus mampu melihat fenomena ini, sebagai sebuah pemakzulan kritik seni yang berkualitas. Momen seringkali menjadi titik utama dalam dunia online. Semua harus serba cepat, dan ini pun menjangkit dalam dunia kritik dalam dunia maya. Kritik seakan didorong untuk semakin terkini. Secepat mungkin terbit adalah baik, dan akan lebih istimewa lagi apabila kritik seni bisa disampaikan secara real time, seakan seperti live tweet.

Pada akhirnya karena kebutuhan akan kecepatan itu yang sedemikian tinggi, memang yang terjadi adalah kurangnya kedalaman dalam kritik seni. Kritik seni selain merupakan pelaporan, juga harus merupakan sebuah refleksi. Refleksi macam inilah yang harus menunggu waktu dan biasanya tidak bisa matang mendadak. Dan seringkali dalam demokrasi kritik instan semacam ini kedalaman refleksi inilah yang akhirnya menjadi kurang digali. Konteks karya seni dan masyarakat sekitar serta zaman akhirnya cuma direduksi dalam paragraf-paragraf laporan yang justru membuat karya ini tercerabut dari dari konteksnya. Semua hanya berupa laporan serba cepat, serba instan.

The public is usually slow to catch on to new things, and it’s important that musicians stick to their guns and not look for that instant gratification.
~ Greg Ginn

Kritik seni film sudah mengalami hal yang demikian di luar sana. Akibatnya pun semakin terasa, kritikus seni pun dianggap tidak lagi penting di berbagai media pemberitaan di luar negeri dan dikurangi jumlahnya lewat PHK. NYTimes, Telegraph adalah sedikit dari media yang mengurangi jumlah kritikusnya. Banyak seniman pun berpendapat bahwa inilah zaman pergeseran tersebut. Kenyataan bahwa dengan semakin berkurangnya kritikus profesional, semakin berkurang juga tulisan-tulisan yang mampu dipertanggungjawabkan secara luas.

Selain pergerakan ini, juga bisa kita rasakan bahwa dengan semakin bergantungnya para pemirsa dengan dikte selera massa lewat kritik instan dan kurang mendalam dari karya seni. Penggerak seni pun terpaksa mendengarkan celoteh ringan dari banyak orang, mendengarkan opini publik. Apakah ini akhirnya akan berpengaruh pada progres seni terutama seni populer? Apakah seni populer akan mandek karena keinginan menyenangkan massa? Lalu apakah dengan demikian seni secara umum tidak akan terkena dampak dari kritik seni yang sudah berdemokrasi namun semakin mendangkal ini? Mari kita lihat bersama…

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: