Kabar Terkini

Menilik Kompetisi Dirigen Pertama


kompdirigenDi antara banyak bidang pekerjaan sebagai musisi, salah satu yang paling misterius adalah mengaba. Mengaba atau mendirigen atau direksi adalah sebuah kegiatan yang seringkali menjadi tanda tanya bagi banyak orang, bahkan kalangan pemerhati musik sekalipun. Mengetahui nilai dan fungsi dirigen adalah sulit, terlebih bagaimana mengapresiasinya. Bagaimana gerakan dan tindak tanduk seorang yang berdiri di depan tanpa bersuara mampu mempengaruhi keindahan suara yang dihasilkan oleh musisi yang ia pimpin adalah sumber kekaguman banyak orang. Dan memang mengapresiasi fungsi konduktor umumnya bermula dari pengalaman merasakan sendiri dipimpin oleh konduktor-konduktor yang berkualitas, baru setelah itu fungsi mengaba dan kepemimpinan ini menjadi nyata. Dan di hari Sabtu-Minggu, 10-11 Januari 2015 ini di Balai Kertanegara, Jakarta dan Indonesia untuk pertama kalinya menyaksikan sebuah kompetisi dirigen untuk memilih dirigen paduan suara terbaik dari 8 orang semifinalis yang tampil. Dalam acara yang diselenggarakan dalam rangka merayakan ulang tahun ke-50 konduktor paduan suara Indonesia yang berprestasi internasional, Avip Priatna.

Memang Indonesia punya banyak kompetisi paduan suara yang menawarkan predikat dirigen terbaik, namun hampir tidak ada kompetisi dirigen paduan suara yang berkonsentrasi pada kualitas dan sosok dirigen di pentas dengan anjungan yang sejajar.

Dengan fungsi konduktor dan segala misterinya, konduktor memiliki aspek yang sedikit banyak berbeda dengan musisi umumnya. Ketika kompetisi instrumentalis mengandalkan kemahiran bermain alat musik dan interpretasi musik yang matang dari musisi itu sendiri, kompetisi dirigen menjadi makhluk yang sama sekali berbeda. Kemampuan dirigen untuk mengkomunikasikan ide musikal secara verbal maupun non-verbal dan memampukan seluruh ensembel mengeluarkan seluruh potensi untuk menciptakan musik bersama yang sebangun dengan konsep si konduktor dan komponis adalah hal yang akan dibandingkan satu dengan yang lain.

Efektivitas sebuah kompetisi dalam menciptakan tokoh pengabaan tentu bisa dipertanyakan, entahlah mampu menciptakan seorang pemimpin yang handal dan mampu bertahan sebagai seorang seniman musik yang tentunya banyak bersinggungan dengan bidang dan keterampilan lain. Namun tentunya besar harapan bahwa kompetisi ini bisa menjadi ajang belajar bagi para pemerhati musik dan sekaligus sebagai batu pijakan karir bagi pemenang untuk memulai karir sebagai seorang musisi dengan cakupan yang lebih luas lagi.

Di lain pihak, kompetisi dirigen yang digagas Resonanz Music Studio ini sudah terbilang berhasil menguak misteri dari kegiatan mengaba itu sendiri. Dibantu oleh salah satu kelompok paduan suara terbaik negeri, Batavia Madrigal Singers yang sensitif dan sigap, kita mampu melongok ke dalam mekanisme melambaikan tangan yang sering disebut teknik direksi tersebut. Adalah cantik untuk melihat bagaimana sekumpulan orang yang sama, membaca sekumpulan not dari lagu yang sama namun memiliki pendekatan yang berbeda ketika dipimpin oleh orang yang berbeda dalam proses latihan selama 30 menit.

Di dalam kompetisi ini juga kita melihat bagaimana konduktor memimpin proses berlatih yang efektif dan efisien yang kemudian prosesnya dinilai oleh para dewan juri. Gaya komunikasi yang berbeda dapat memberi dampak yang berbeda pada ensembel dan musik yang dibawakan. Dalam kompetisi ini kita juga melihat pendekatan yang keras dan otoritarian, bersaing dengan pendekatan yang simpatik, kepercayaan diri bersaing dengan malu-malu, heboh dengan yang tenang. Gerakan tangan yang sistematik skolastik bersaing dengan lambaian yang terkesan bebas tapi natural mampu mengubah pendekatan dari para penyanyi.

courtesy by Nesca Alma

courtesy of Nesca Alma

Bahkan apabila kita awas, bunyi volume keyboard untuk mengambil nada saja mampu mempengaruhi atmosfer latihan secara umum. Bagaikan kita melihat praktek mengajar seorang guru di kelas, kita bisa melihat seberapa baik guru tersebut mengajar lewat reaksi kelas, demikian juga kita bisa melihat kualitas dirigen dari reaksi subtil dari BMS. Tanda-tanda lelah, bosan dan ragu melawan antusiasme, fokus dan keyakinan dapat terlihat dengan jelas dari dinamika kelompok paduan suara dalam merespon sang pelatih di depan.

Yang pasti dalam semifinal di hari Sabtu yang diikuti oleh 8 semifinalis, 3 orang dewan juri, Avip Priatna, Aning Katamsi dan Agustinus Bambang Jusana akan menilai dengan seksama proses simulasi latihan setiap konduktor yang bergantian memimpin Batavia Madrigal Singers. Dan dalam acara itu pula, kita semakin melihat jelas perbedaan gaya kepemimpinan mampu mewujudkan hasil yang juga berbeda.

Dalam semifinal kemarin harus dikatakan Batavia Madrigal Singers lah yang bekerja paling keras dengan konsentrasi penuh untuk mengikuti arahan berbagai dirigen. Kualitas dan stamina merekalah yang jelas paling teruji sepanjang sesi kemarin. Setiap konduktor maju di depan BMS dan membawa gaya yang berbeda, pendekatan yang berbeda, dan setiap anggota paduan suara harus cepat bereaksi. Memang di beberapa tempat masih ada isu kecil yang mendetail dari BMS yang sebenarnya dapat diperhatikan oleh peserta yang mendireksi, dan di sinilah menurut pengamat sekaligus konduktor Gabriel Laufer yang juga hadir kemarin menjadi penting untuk diarahkan oleh para peserta.

Dengan membandingkan beberapa peserta, kita dapat perlahan mengintip ke dalam dunia kondukting atau mengaba yang misterius. Dan misteri itu semakin lama akan semakin tercerahkan, dan perlahan penonton mampu mengapresiasi peran, fungsi dan tentunya kualitas konduktor mereka di keseharian. Dan Kompetisi Dirigen Paduan Suara ini adalah sebuah warna manis dari kehidupan musik dan apresiasinya di Jakarta. Bagi para finalis, selamat berjuang di hari Minggu ini.

~Final dilaksanakan di Balai Resital Kertanegara 11 Januari 2015, pk.16:00

Update:
Pemenang sudah diumumkan untuk kompetisi ini:

Ken Steven Juara 1
Ageng Pujarachman Juara 2
Aris Kristiadi Juara 3

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Menilik Kompetisi Dirigen Pertama

  1. mungkinkah tahun depan diadakan lg?🙂

  2. Harapannya bisa diadakan rutin sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: