Kabar Terkini

Kelincahan & Uniknya Franz Liszt di Tangan Batsashvili


imageAgaknya jarang kita dapat melihat seorang pianis berperawakan kecil mampu membuat keajaiban dengan karya-karya yang menuntut teknik dan energy besar layaknya karya-karya komponis Franz Liszt. Namun itulah yang kita saksikan bersama di Erasmus Huis semalam. Mariam Batsashvili selaku pemenang dari Kompetisi Piano Internasional Franz Liszt ke-10 yang diadakan di Utrecht akhir tahun 2014 lalu, bermain dengan penuh energi.

Sebagai pemenang dari kompetisi tiga tahunan yang mengetengahkan komposisi dari komponis yang melegenda dengan karya-karya yang virtuosik, tidak mengherankan apabila Batsashvili tentunya memiliki kecakapan teknis yang luar biasa. Permainannya yang lincah di atas papan nada mengungkapkan betapa nama besar Franz Liszt memang dibangun atas kariernya sebagai pianis handal yang terkenal di penjuru Eropa di abad-19.

Pianis berusia 21 tahun asal Georgia ini membuka recital dengan tema sentral Liszt semalam dengan Grande Etude de Paganini No.4, S141/4 yang secara jelas melukiskan virtuositas pianis termuda yang memenangkan kompetisi ini. Karya berikutnya adalah Bénédiction de Dieu dans La Solitude (Harmonies Poétiques et Religieuses) S173/3 yang secara jelas menggambarkan ketenangannya dalam membina frase-frase yang tersulit sekalipun. Alhasil nuansa doa dan khusyuk tetap dapat tergambarkan di sepanjang karya.

Babak pertama konser pun ditutup dengan Fantasie über Themen aus die Oper Le Nozze di Figaro und Don Giovanni, S697 yang mengambil tema dari opera-opera Mozart yang ternama. Franz Liszt secara cemerlang menggubah dan mentranskripsikan untuk piano. Menarik adalah pendekatan dari pianis yang belajar di Mikeladze Central Music School di Tbilisi dan Hochschule fur Musik Franz Liszt di Weimar ini yang mampu menciptakan elemen orchestra penuh lewat sentuhan piano yang mengiringi melodi-melodi indah Mozart. Harus dikatakan bahwa kepekaan Batsashvili dalam memproduksi kalimat sangat menawan, semua seakan menyanyi dengan tenang walaupun di latar permainan virtuosi kala Franz Liszt tidak berhenti. Satu rangkaian nyanyian yang membuai bisa berpindah dari tangan kanan ke tangan kiri namun tersampaikan dengan mulus tanpa terasa.

Walaupun pada awalnya sempat menyangsikan kedalaman dari sang pianis, tapi dengan perlahan dan pasti Mariam Batsashvili yang kini sedang menjalani tur keliling dunia sebagai bagian dari hadiah kejuaraan ini, meyakinkan penulis bahwa ada pendekatan lain dari music Franz Liszt yang selalu terkesan mendentang nyaring dengan volume suara yang besar. Di babak kedua dengan karya Sarabande and Chaconne dari Tema Singspiel Almira, S181 serta Die Lorelei, S532, penonton dibawa Mariam kepada dunia penuh warna dari Franz Liszt. Eksekusinya yang cekatan dan terkadang bertenaga mampu mendukung permainan Sarabande dan Chaconne yang diambil dari tema karya komponis barok G.F. Handel.

Dengan ekseskusi nafas dan pembentukan kalimat yang terstruktur, Batsashvili sama sekali tidak kehilangan sentuhan alami dari musik yang ia bawakan. Kepekaannya dalam mengelola jeda musik menjadikan permainannya terasa lugas dan rileks. Dikala banyak pianis mengambil pendekatan yang menekankan sulitnya sebuah karya (sebuah pendekatan yang banyak diambil pianis-pianis untuk karya Franz Liszt), pemenang termuda dari kompetisi ini malah membalutnya dalam suasana yang ringan dengan sesekali membiarkan penonton terkagum-kagum dengan keleluasaannya membentuk musik dalam rangkaian nada yang kadang bergemerincing, kadang menderu.

Postur tubuhnya yang cenderung kecil untuk orang Eropa dan tanpa jangkauan tangan yang terlampau lebar, Batsashvili mampu menciptakan ilusi rentang tangan besar lewat permainannya yang terkonstruksi dan dieksekusi dengan baik. Pun ini membuatnya mampu secara unik mengalokasikan energi untuk interpretasi yang berbeda. Di tangannya karya seperti Hungarian Rhapsody no.2, S244/2 yang seringkali menjadi tour de force pianis-pianis lain, digarap dengan mengetengahkan permainannya yang cerdik diantara dua kutub ekstrim tanpa menghilangkan genggaman musik. Memang permainannya tidak terpaku pada tenaga yang mendentum di papan nada. Mungkin para pencinta karya Liszt yang berdentang pun akan sedikit mempertanyakan pendekatan Batsashvili. Namun secara ajaib dan apik, dentang itu ia tempatkan di tempat yang tepat yang mampu memberi ruang interpretasi dan kepekaan yang berbeda.

Memang karya-karya Franz Liszt kebanyakan bukanlah karya-karya yang dapat memaksa pendengar merenung untuk memahami arti hidup, namun pendekatan Batsashvili semalam membuka khasanah baru dari pendekatan musik Franz Liszt yang dapat juga sedemikian unik dan kaya dengan dilandasi keterampilan teknis yang luar biasa. Dari permainan pianis ini, sedikit terkuak cerminan benih-benih spiritualitas Franz Liszt yang adalah selebritas di masa mudanya namun beralih menjadi relijius di masa tuanya. Dan untuk Batsashvili yang berusia 21 tahun, perjalanan kariernya pun masih sangat panjang dan masih menyisakan ruang kedewasaan yang lebih jauh lagi.

Maka tak heran semalam penonton pun bersorak dan Batsashvili menutup konser dengan encore La Campanella juga dari Franz Liszt dengan jemari-jemari menari dengan lincah dan manis di atas papan nada tanpa kehilangan sedikitpun stamina dan konsetrasi. Tentunya, resital semalam adalah suguhan pembuka tahun 2015 yang menarik untuk kita simak bersama.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: