Kabar Terkini

3 Karya Standar, 3 Waltz untuk 2015


~photo by Julien Pantas

photo by Julien Pantas

Hari ini adalah hari pembuka untuk musim baru di Aula Simfonia Jakarta tahun 2015. Dan di Sabtu sore ini Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) menyelenggarakan sebuah konser megah dengan judul New Year’s Concert 2015 dengan program yang beragam.

Sebagaimana kebiasaan konser tahun baru di Wina Austria, JSO pun tidak mau ketinggalan dalam menyuguhkan musik-musik berirama waltz untuk tahun baru ini. Tidak kurang dari 3 buah waltz dimainkan, di antaranya The Blue Danube Op.314 karya Johann Strauss II, Skater’s Waltz Op.183 karya Emile Waldteufel, dan Aufforderung zum Tanz Op.65 karya Carl Maria von Weber. Kesemuanya adalah karya Waltz dengan durasi sekitar 10 menit masing-masing.

Tapi bukan cuma itu saja, ada tiga buah karya lain yang tidak kalah berbobot yang dimainkan malam itu, karya-karya yang tergolong sebagai karya orkestral standar. Karya Symphony No.41 in C Major “Jupiter”, K.551 dari Mozart, Trumpet Concerto dalam E flat Major dari F.J. Haydn, dan Serenade for Strings in C Major, Op.48 karya Tchaikovsky yang masing-masing paling tidak terdiri dari tiga bagian disuguhkan semalam.

Di babak pertama, giliran Billy Kristanto memimpin JSO dengan karya The Blue Danube Strauss dan Symphony no.41 dari Mozart. Di bawah pimpinannya seluruh orkestra bergerak dengan ringkas. Kepemimpinannya pun kini terkesan memiliki sentuhan yang mampu mengundang suara orkestra yang lebih hangat, petunjuk-petunjuknya pun untuk seksi cukup jelas, walaupun di banyak sisi memberikan banyak ruang untuk orkestra yang dipimpin oleh concertmaster Wen Wen Bong untuk mengambil inisiatif bergerak dan memimpin arah kalimat.

Permainan orkestra pun cenderung nyaman, sebagaimana dituntut oleh karya Strauss, sedang permainan Mozart juga dibina secara mendetail dengan proporsi yang sesuai. Namun, akan lebih berisi apabila karya yang ditulis menjelang akhir hidup sang komponis jenius ini juga juga dieksplorasi kedalaman dan pergolakannya. Ditulis dengan mengoptimalkan gaya Sturm und Drang yang penuh intensi, agaknya penampilan semalam walaupun bersih dan tertata, belum mampu merangkum pergolakan dan semangat dari karya yang kadang didaulat sebagai jalur pencetus Romantisme di dalam musik, mendahului karya-karya Beethoven. Perlu dicatat juga permainan Gabriel Laufer yang selalu berada di depan ensembel untuk menjadi tonggak ekspresi bagi para pemain lewat permainan timpaninya.

Babak kedua pun dibuka dengan warna yang berbeda. Kali ini giliran Stephen Tong yang mengambil tempat di atas podium untuk memimpin karya populer untuk orkestra gesek, Serenade for Strings karya Tchaikovsky. Secara mengejutkan, orkestra mengambil kebebasan yang memang diberikan oleh konduktor untuk memadu suara dengan lembut dan berisi. Tidak banyak orkestra di Jakarta yang mampu memproduksi kenyalnya permainan JSO dalam karya ini. Dimulai dalam tempo yang tergolong lambat yang beresiko kehilangan sejumlah detail permainan dikarenakan arahan yang tidak serta-merta jelas, namun orkes membuai dengan luar biasa semalam lewat kalimat-kalimat yang seakan bernyanyi memanjakan telinga.

Konser pun dilanjutkan dengan penampilan konserto trompet dengan prinsipal trompet Erick Awuy sebagai solois malam ini. Bermain dengan trompet Yamaha Xeno barunya, Erick bermain dengan ekspresif dan lincah. Konserto trompet Haydn ini memang secara teknis menantang, dengan akrobatik nada yang sedemikian banyak, namun Erick mampu melibasnya dengan musikal dan proyeksi yang mencukupi. Memang perlu diakui bahwa trompet baru ini belum sepenuhnya dikenal oleh Erick yang pernah bermain untuk Montreal Symphony Orchestra. Di beberapa tempat, kurang pengenalan ini berakibat pada kurangnya artikulasi permainan yang disuguhkan. Namun harus dikatakan lewat permainannya kemarin, Erick masih patut didaulat sebagai pemain trompet yang dimiliki Indonesia saat ini.

Konser pun ditutup dengan dua buah Waltz: Aufforderung zum Tanz Op.65 karya Carl Maria von Weber dan Skater’s Waltz Op.183 karya Emile Waldteufel yang mengingatkan penulis akan permainan game nintendo Penguin yang mengambil karya ini sebagai musik pengiringnya. Permainan solo cello Muhammad Affan yang bersahut dengan permainan klarinet Nino Ario Wijaya mampu menyita perhatian penonton di karya Weber. Orkes pun bermain dengan elegan dalam karya-karya ini yang berujung pada tepuk tangan yang ramai dari para penonton yang berujung encore pada Radetzky March dari Johann Strauss I yang digalang bersama dengan penonton yang bertepuk tangan mengiringi karya ini layaknya konser Vienna Philharmonic di Austria.

Sebuah pembuka tahun yang menarik memang disuguhkan oleh Jakarta Simfonia Orchestra ini. Juga pemrograman ini sekalipun panjang dan menguras tenaga, tetap mampu menghibur. Penonton pun meninggalkan gedung pertunjukan dengan perasaan puas.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: