Kabar Terkini

Repertoar Sebagai Kunci Keberhasilan TRCC dan Unpar


photo 1Di hari ketiga Pesta Paduan Suara di Balai Resital Kertanegara, tampil dua paduan suara untuk menutup rangkaian tiga konser paduan suara untuk memperingati 50 Years of Blessings Avip Priatna. Kedua paduan suara ini tentunya juga dekat dengan tokoh paduan suara ini, The Resonanz Children Choir dan Parahyangan Catholic University Choir.

Tampil di auditorium yang padat dengan penonton, acara di minggu sore itu cukup menarik untuk disimak. The Resonanz Children Choir yang tampil pertama membawakan tujuh buah karya yang tergarap dengan optimal. Tampil dengan kekuatan penuh dengan seluruh karya berhasil dihafalkan, sungguh menarik melihat anak-anak garapan Fiona Luisa dan Luciana Oendoen mampu menguasai panggung dengan keceriaan dan keseriusan mereka menggarap musik.

Táncnóta dari Kodály membuktikan kemampuan paduan suara ini untuk secara teliti menggarap warna dan diksi yang cemerlang juga nuansa bahasa Prancis J’entends Le Moulin yang walaupun bisa lebih digarap tetap tersampaikan dengan baik. Karya-karya lain seperti The Seal Lullaby dari Whitacre dan The Heavenly Aeroplane dari John Rutter dengan iringan piano Valencia Koean, Salve Regina dari javier Busto paduan suara anak ini yang sudah berprestasi secara internasional ini mampu menunjukkan kemampuan bermusik mereka yang tampil dengan riang dan penuh percaya diri. Proyeksi suara pun terbangun prima dan berkarakter, walaupun memang untuk anak-anak seperti mereka sedikit isu intonasi masih dapat dimaklumi. Paduan suara pun padu dan memiliki ketebalan timbre yang patut diacungi jempol dan cocok untuk karya-karya yang dibawakan.

Penampilan mereka pun juga juga tergarap dengan menarik. Keseluruhan barisan paduan suara tanpa malu-malu mampu dan total dalam menggarap nyanyian dan koreografi, menjadikan paduan suara anak ini sebagai contoh Show Choir yang lengkap. Karya Mejikuhibiniu dari komponis muda Indonesia Fero Aldiansya dan dendang semangat dari Libertango Piazzolla yang ternama membahana dengan hidup. Tidak banyak paduan suara di Indonesia yang mampu secara serius menggarap panggung secara visual, dan dengan ini, The Resonanz Children Choir bukan saja memantapkan diri sebagai paduan suara anak yang berkualitas, tapi juga sebagai paduan suara panggung yang memikat lewat pemilihan repertoar yang cocok dan ramah pada natur anak-anak.

Parahyangan Catholic University Choir dari Bandung mengisi babak kedua konser. Dengan konduktor Dody Soetanto yang kini sedang menimba ilmu di Utrecht Conservatorium bidang vokal dan direksi, paduan suara mahasiswa yang juga adalah tempat di mana karier Avip Priatna dibangun 20 tahun lebih yang lalu, paduan suara ini membawakan serangkaian lagu-lagu musica sacra (musik religi) dengan repertoar yang tergolong ambisius dan berat.

photo 2

Gabungan TRCC dan PSM Unpar

Bertumpu pada karya-karya level kompetisi internasional, tujuh buah lagu sacra modern dibawakan dengan eksekusi yang sebenarnya tidaklah buruk. Dody mampu mengarahkan seluruh paduan suara untuk membentuk arsitektur mayoritas karya dengan baik. Ave Maria dari Morten Lauridsen, Lavabo dari Vyautas Miškinis, dan Ave Maris Stella dari Trond Kverno adalah tiga karya yang dipilih untuk membuka sesi ini. Dilanjutkan dengan karya Z. Randall Stroope Caritas et Amor yang membutuhkan volume dan daya dukung yang luar biasa. O Nata Lux karya Budi S. Yohanes dan In Pace dari John Sheppard yang diaransemen oleh René Clausen.

Hanya saja harus dikatakan keenam dari tujuh karya yang dibawakan ini hampir berkarakter serupa. Semuanya merupakan karya accapella yang berat dengan kecenderungan tempo sedikit lambat dan cukup menguras konsentrasi penonton dan penyanyi. Di satu sisi memang diperlukan kejelian dalam menyusun program konser yang agaknya berbeda dari menyusun sebuah program kompetisi yang bukan hanya berfokus pada pemilihan karya yang menunjukkan kebolehan penyanyi, tapi juga pada tingkat fokus dan stamina penyanyi dan penonton.

Alhasil yang terjadi adalah bahkan penyanyi pun terdengar tidak terlalu nyaman dalam membawakan karya-karya ini. Bass dan alto terdengar berpegang pada beberapa penyanyi yang sudah matang walaupun terdengar solid, sedang barisan sopran bisa lebih fleksibel dalam menciptakan nuansa dengan tetap menjaga support.  Stamina pun cukup kedodoran sehingga, banyak intonasi di tenor sulit terjaga terutama di register tinggi, terutama menjelang memasuki 3 lagu terakhir. Untungnya beberapa hal ini ditutupi dengan jumlah mereka yang turun kali ini cukup banyak, dan penonton pun memaklumi pilihan repertoar yang diambil memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Jika kita kupas, sebenarnya penampilan PSM Unpar (nama lain kelompok ini) bukanlah buruk. Namun kecemerlangan mereka agaknya tertutupi dikarenakan pemilihan repertoar yang kurang berpihak dengan mereka, selain karena faktor kesiapan yang agaknya berbeda dengan ketika mereka sedang mempersiapkan kompetisi. Penulis menyadari adanya diskrepansi ini dan sejujurnya berharap paduan suara ini mampu menampilkan yang lebih baik. Ini pun terlihat jelas dalam keajegan ostinato dalam O Lux Beata Trinitas karya Ko Matsushita yang sebenarnya dapat membangun arsitektur karya selapis demi selapis.

Sebagai penutup, The Resonanz Children Choir dan Parahyangan Catholic University Choir menampilkan karya yang membuai As Long As I Have Music dari Don Besig, menutup penampilan mereka sore itu. Semoga kata-kata dari lagu itu “Musik akan membebaskan jiwaku” sungguh berakar pada mereka yang bernyanyi dan menonton. Semoga…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: