Kabar Terkini

Panggung Markas: Penting Tapi Terlupakan


Boston Symphony Hall

Mengamati kecenderungan banyak penampil di Indonesia yang rutin mengadakan pertunjukan di panggung, sedikit banyak kita melihat bahwa banyak dari kelompok penampil termasuk kelompok musik klasik tidak banyak yang memiliki panggung tetap. Banyak dari kelompok ini nomaden dari satu tempat ke tempat lain, berpindah dari satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya, dari satu auditorium ke satu aula di gedung lain. Inilah kenyataan banyak kelompok di Indonesia.

Memang perlu sebuah kelompok seringkali dituntut untuk mampu bermain di medan apa saja, dan semakin mampu beradaptasi dengan sekitar, dirasakan bahwa kelompok tersebut semakin tinggi kualitasnya. Benar bahwa variasi dalam suasana berkesenian adalah baik, namun sayangnya adalah terjadi salah kaprah, kelompok musik merasa semakin bangga ketika sudah berkeliling dari satu venue ke venue lainnya. Padahal jika kita melongok dengan seksama, memiliki markas dimana sebuah kelompok tampil dengan rutin di sana juga memiliki keuntungan yang besar. Ini yang ingin kita kupas dalam artikel kali ini.

Mempunyai panggung rumah ataupun markas penampilan adalah sebuah kemewahan sebenarnya. Semakin mapan sebuah kelompok, semakin besar pula kemungkinan mereka memiliki markas yang representatif bagi kelompok mereka. Dan ini kita bukan hanya berbicara mengenai pamor, melainkan sebuah pembiasaan dalam berkesenian dalam lingkungan yang kondusif.

Jika sekelompok musisi memiliki rumah yang tetap ketika tampil, atau bahkan apabila memungkinkan, juga berlatih di rumah yang sama ini kita sebenarnya mampu melihat musik yang ditampilkan dalam kondisi paling optimal. Sebagaimana sebuah instrumen, setiap auditorium gedung memiliki karakter akustik, pencahayaan, penataan panggung, ruang gerak, fasilitas yang berbeda-beda. Dan sebagaimana instrumen musik, karakter-karakter ini hanya akan dapat semakin dikenali dan dekat dengan musisi apabila kelompok tersebut semakin rutin tampil di tempat tersebut. Dengan mengenali karakter akustik misalnya, musisi sebenarnya dapat semakin mampu melakukan penyesuaian dalam permainan mereka atau bahkan ruang itu sendiri untuk memaksimalkan potensi akustik ruang tersebut.

Di sisi lain, dengan mengenali seluruh perangkat gedung, baik peralatan maupun kru, kelompok musik pun dapat secara sadar melihat kondisi di sekeliling dan mengadaptasinya dalam konsep pertunjukan yang sesuai dan mengoptimalkan seluruh perangkat yang ada. Alhasil pertunjukan pun akan terasa lebih berkarakter dan memang secara khusus ditujukan untuk gedung tersebut.

Basilika San Marco

Dalam sejarah, kita mengenal konsep double choir yang tercetus di masa renaissance di Venezia. Terinsipirasi oleh dua balkon berseberangan di Basilika San Marco yang merupakan gereja terbesar di kota itu, di abad 16 para komponis dan terutama maestro di cappella yang memang bekerja di gereja tersebut sebagai musisi kepala dan memimpin paduan suara dalam setiap kebaktian di gereja tersebut, akhirnya memutuskan untuk mengeksplorasi akustik gedung lewat paduan suara ganda yang berdiri di kedua balkon tersebut dan menulis karya khusus untuk akustik yang demikian. Alhasil sebuah fenomena akustik yang stereophonic muncul di dalam gereja itu, yang dikagumi dan dipelajari hingga berbagai generasi sesudahnya. Cap itu begitu menempel di gereja San Marco serta maestro di cappella Adrian Willaert serta penerusnya Giovanni Gabrielli.

Penampil yang terus berpindah-pindah agaknya akan sulit untuk mampu menemukan celah untuk memaksimalkan akustik semacam ini. Pun dapat kita lihat, hampir semua orkes besar, kelompok opera, kelompok balet dan bahkan grup teater pun umumnya didorong untuk memiliki sebuah rumah tetap. Dalam rumah ini sebenarnya kita bisa melihat secara paripurna kualitas permainan kelompok yang mengerti betul reaksi dari gedung, dan menyatu dengan gedung di mana mereka bermarkas.

Di sisi lain, adapula keuntungan yang lainnya. Dari sisi branding, adalah baik apabila sebuah kelompok mampu memiliki tempat penampilan yang identik dengannya. The Philharmonie identik dengan Berlin Philharmonic, Teatro alla Scala dengan kelompok Opera La Scala, Concertgebouw dengan Concertgebouw Orchestra dan Mariinsky Theatre dengan Mariinsky Ballet dan banyak lainnya. Semuanya lekat satu dengan yang lain dan memperkuat image branding mereka.

Berlin Philharmonie

Apabila kita melihat sisi finansial, sebenarnya memiliki markas adalah sebuah keuntungan tersendiri. Apabila memang markas ini dibuat oleh kelompok seni itu sendiri, tentunya sang kelompok seni tidak perlu lagi keluar uang untuk menyewa panggung di luar. Tapi bagi kelompok yang tetap menyewa namun sudah menentukan bahwa tempat itu adalah panggung markas mereka, kelompok tersebut bisa sedari awal berkomitmen untuk memakai panggung tersebut untuk sekian kali. Tentunya dari sisi manajemen pelanggan, kelompok ini tentu akan menjadi pelanggan utama yang memiliki bargaining power yang lebih. Contoh termudah dari hal ini adalah tentunya biaya sewa yang bisa dinegosiasikan lebih murah dan juga berjurus-jurus keuntungan lainnya.

Jadi ada baiknya dipertimbangkan apakah kelompok musik Anda dapat menentukan markas. Ada untungnya pula. Memiliki markas adalah untuk membentuk sebuah perilaku rutin yang berkualitas, dan apabila demikian, tour ke luar markas sesekali tentunya akan menjadi pengalaman asyik yang juga akan semakin memperkaya dan bukan memiskinkan.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: