Kabar Terkini

Sentuhan Personal di Tahun ke 50


50 blessKonser Emas pada malam ini yang merupakan penutup dari rangkaian 50 Years of Blessings Avip Priatna berlangsung dengan suasana terbuka dan santai, sekalipun konser ini merupakan pergelaran gala dari festival yang diadakan selama bulan Januari ini di Balai Kertanegara.

Konser ini pun dibuka dengan persembahan Come Ye Sons of Art dari Henry Purcell yang mengetengahkan soprano Valentina Nova dan Yoanita Mulyawan bersama Jakarta Concert Orchestra (JCO) dan Batavia Madrigal Singers (BMS) yang dipimpin langsung oleh Avip Priatna. Membuka konser dengan karya barok yang sangat mencerminkan tema malam itu adalah sebuah langkah yang tergolong berani. Kendala terletak pada JCO yang sepertinya belum mampu menghadirkan nuansa barok yang elegan dan cantik. Permainannya yang terlalu temperamental untuk karya riang ini seakan bertolak belakang dengan natur karya ini. Alangkah pun demikian, BMS tampil dengan solid, mengangkat kemilau karya komponis Inggris ini dengan sigap dan gempita. Kedua solois tampil dengan ekspresif, namun demkian nampaknya belum mampu menghadirkan kolaborasi yang rekat di antara keduanya.

Sajian berikutnya adalah karya Ch’io mi scordi di te dari Mozart KV 505 dengan solois Iswargia Sudarno dan Aning Katamsi. Iswargia pada piano bermain dengan fasih dan sigap sedang Aning pun mampu berekspresi dengan bebas meskipun masih dalam koridor nuansa klasik yang manis.

Jakarta Concert Orchestra sendiri baru menemukan kecocokan warna permainan ketika memulai karya ketiga yang merupakan karya dari Chopin Grande Polonaise Brilliante Op.22 yang memang membutuhkan ketebalan tone yang lebih. Oerip Santoso yang juga adalah guru piano dari Avip sendiri di waktu muda bermain dengan keluwesan yang menawan. Permainannya berkarakter dengan warna-warna yang beraneka ragam mampu menyedot penonton masuk dalam musik yang disampaikan. Memang di satu sisi permainannya di beberapa tempat dapat diuntungkan dengan tenaga yang lebih, namun tanpa itupun permainan pianonya mampu mengundang decak kagum.

Konser yang juga mengetengahkan para juara dari sayembara komposisi musik dan dirigen ini juga menarik perhatian. Karya komposisi orisinal orkestra dari juara dua Fauzan Wiriadisastra dengan judul Sia-sia menarik perhatian dengan eksplorasi spektral dan pengembangan tematik yang perlu diacungi jempol. Alhasil karya ini sungguh berkarakter kuat dan memiliki konsep yang jelas. Di sisi lain, juara satu karya Avian Aditya yang juga terinspirasi dari puisi Toety Herraty dengan judul Sia-sia ini mengetengahkan daya tarik yang berbeda. Musik dari karya berjudul 5 Miniatur untuk Cello dan Orkestra memang lebih mudah untuk dicerna dengan Dani Ramadhan sebagai solois cello yang bermain sepenuh hati. Pendekatan komposisi ini mengingatkan penulis pada eksplorasi impresionistik ala Debussy dan Satie, dipadu dengan kepiawaian merangkai melodi yang teatrikal pada cello dalam balutan eksplorasi harmoni yang membungkus indah. Karya Ken Steven yang memenangi juara dua kategori komposisi paduan suara pun membuai hati lewat teks yang menyentuh dan pergerakan harmoni yang mengingatkan penonton pada cita rasa yang dibangun paduan suara Filipina. Ken Steven sendiri yang memenangi kompetisi dirigen paduan suara maju untuk memimpin BMS dengan ringan dan teliti dalam karya gubahannya sendiri ini.photo 1 (4)

Konser ini pun menjadi momen yang penuh dengan sentuhan personal Avip. Konser ini pun menjadi kesempatan bagi Avip untuk berterimakasih pada para pribadi yang telah mendukung kariernya di dunia musik selama ini diselingi senda guraunya yang mampu mengurai keseriusan penonton. Karya The Sky, The Dawn and The Sun orkestrasi dari Fafan Isfandiar yang mengetengahkan concertmaster Michelle Siswanto juga kental dengan nuansa Gaelic dengan teknik fiddling. Karya Wanita dari Ismail Marzuki dengan Valentina Nova sebagai soprano menjadi kesempatan Avip untuk mengungkapkan terimakasih pada sosok wanita yang menjadi inspirasi dan pemacu hidupnya. Juga karya Mama yang pernah dipopulerkan Il Divo dibawakan Four Tenors yang tampil solid. Perlu dicatat penampilan Pharel Silaban yang memiliki presensi dan karakter suara yang mengundang decak kagum semalam.

Kawan Avip, Teddy Panelewen juga memberikan penampilan yang mengesankan lewat karya Guruh Sukarnoputra Sendiri yang memang memiliki makna tersendiri bagi Avip Priatna yang mengiringi di piano dengan JCO bermain di latar. Memang perlahan stamina pun menjadi problem baik bagi orkes maupun paduan suara dalam konser berdurasi lebih dari dua jam tanpa jeda ini. Kualitas nada pun sedikit terkompromikan karenanya seperti dalam karya Rememberance dari Will Todd yang sebenarnya mampu lebih dioptimalkan untuk merengkuh penonton.

Karya Farman Purnama beserta Fero Aldiansya yang menggugah Pinta Hamba, Farman yang tampil sebagai solois tenor walaupun tidak sepenuhnya menguasai kata-kata namun memberikan muatan emosi yang pekat dalam karya yang penuh ungkapan takjub pada yang kuasa. Konser pun ditutup dengan  suara Farman pada karya Through Heaven’s Eyes dari film Prince of Egypt yang juga mengetengahkan Farman dan BMS yang penuh daya hidup lewat permainan ritmik khas lagu Timur Tengah dan Palestina.

Ya, konser ini adalah memang sebuah ungkapan syukur dari pribadi Avip Priatna yang tergambar jelas dalam setiap jejak konser malam itu. Sebuah sentuhan personal bagi mereka yang penting dalam hidup konduktor paduan suara dan orkes kenamaan Indonesia ini dan tentunya sebuah suguhan menarik untuk penonton yang hadir malam itu.

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: