Kabar Terkini

Dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif


~dari kompas.com

Bagi banyak seniman, janji Presiden Joko Widodo untuk memajukan seni dan roda perekonomian di belakangnya adalah sebuah angin segar bagi perkembangan dan konservasi seni. Dan Senin kemarin 25 Januari, presiden baru saja melantik Triawan Munaf sebagai kepala dari Badan Ekonomi Kreatif, sebuah badan baru di bawah kepresidenan yang akan berfungsi sebagai penggerak dan tangan langsung presiden di dunia ekonomi kreatif.

Di antara polemik apakah seni dan budaya dapat dikomodifikasikan, dan seni seperti apa yang yang layak untuk dikembangkan, kita dapat menyerap bahwa memang dari arahan dan bidang yang dipilih, lebih berfokus pada industri kreatif yang saat ini tidak berinduk dan tergulung dalam sektor Usaha Kecil Menengah tanpa arah kebijakan yang terfokus bagi mereka.

Dalam diskusi informal bersama Serrano Sianturi di Sacred Bridge Foundation beberapa minggu lalu, karya seni memiliki dua aspek yang berbeda, dari segi fungsional ataupun estetika. Kedua sisi yang jelas mampu membantu kita melihat mana karya seni, mana produk yang memiliki nilai seni. Jelas, bahwa tuntutan fungsional dari sebuah karya, bisa jadi lebih akan difokuskan untuk mampu memaksimalkan nilai ekonomi dari karya tersebut, karena umumnya estetika tidak semudah itu untuk didongkrak nilai ekonominya. Maka dari itu tidak heran, bahwa banyak bidang yang dipilih adalah bidang industri yang memiliki nilai seni, seperti Desain dan Arsitektur, Kriya, Fashion, Kuliner, Pengembangan Perangkat Lunak dan Game, Musik dan lain-lain. Dana pun tidak tanggung-tanggung 1.5 triliun digelontorkan untuk mendorong sektor-sektor ini. Triawan Munaf pun harus menentukan arah tujuan kapal besar ini dalam 3 bulan.

Pertanyaan yang mungkin muncul saat ini adalah bagaimana Badan Ekonomi Kreatif menjadi perpanjangan tangan pemerintah saat ini. Bisa dikatakan bahwa Badan yang masih muda ini tidak memiliki infrastruktur yang kuat untuk menjangkau lapisan bawah. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di masa pemerintahan terdahulu belum sepenuhnya berhasil merangkul penggerak tersebut dan terjun sebagai regulator dan inkubator .

Memang ada dua cara yang harus diraih segera dalam strategi yang dibangun oleh Badan Ekonomi Kreatif. Selain membentuk infrastruktur mereka dari level atas hingga kotamadya dan kabupaten dalam susunan hierarkis birokrasi, adalah sentral bagi mereka untuk segera merengkuh badan-badan seni dan industri serta komunitas-komunitas akar rumput untuk mampu memaksimalkan program mereka. Asosiasi-asosiasi harus mereka kunjungi dan gandeng bersama untuk memajukan ekonomi kreatif ini. Untuk itu sosialisasi dan kematangan visi serta program kerja adalah esensial dalam langkah-langkah ini.

Dari perspektif seni musik, sebenarnya banyak asosiasi dan komunitas sudah terbentuk. Namun memang tidak ada lembaga yang mampu menjangkau 100%. Banyak seniman pun bisa jadi mempertanyakan fungsi dari Badan Ekonomi Kreatif ini, apakah memang akan menjadi penggerak seni ataukah hanya sebagai pajangan belaka atau malah menjadi otoritas yang mengekang kebebasan seniman. Pun banyak yang merasa bahwa secara struktural, banyak bidang seni memang sudah memiliki induk seperti Dewan Kesenian di setiap daerah. Namun apakah Dewan Kesenian tersebut sudah berada pada jalur fungsinya, itulah yang harus dikaji bersama. Karena sejauh mana organisasi ini menjalankan fungsinya, mungkin masih belum optimal.

Pun tidak dipungkiri bahwa banyak Dewan Kesenian di daerah berkonstrasi pada “seni yang bernilai artistik dan bukan komersial” seperti diungkapkan Aksan Sjuman di blog ini beberapa waktu lalu. Kalau demikian dimanakah posisi mereka dan seniman binaan mereka dalam peta Ekonomi Kreatif? Akankah mendapat konsentrasi yang cukup? Pun harus kita sadari bersama bahwa Badan Ekonomi Kreatif tentunya dituntut untuk segera membuahkan hasil, dan menata dunia seni yang tidak instantly profitable bisa jadi tidak akan menjadi prioritas dalam jangka waktu pendek ini.

Sebenarnya inilah yang kita dapat cermati bersama dari langkah-langkah Badan Ekonomi Kreatif ini.

  • Dengan bentuk apakah Badan ini akan bekerja?
  • Bagaimanakah visi, strategi dan fokus mereka dalam pengembangan dunia seni dan kreatif? Dan metode sosialisasi macam apa yang akan mereka gunakan?
  • Bagaimanakah mereka akan merangkul para pelaku seni dan ekosistemnya? Akankah ekosistem ini menjadi perhatian mereka juga?
  • Dan seberapa jauh ini akan berefek pada nilai ekonomi dan badan ini bukan hanya sekedar kosmetik belaka?

Mari kita lihat bersama dalam beberapa bulan kedepan.

~menyikapi chat dengan Aditya Pradana Setiadi

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: