Kabar Terkini

Orkestra Simfoni Santa Ursula BSD: Buah dari Komitmen


Sanur BSD1Melihat pertunjukan Sekolah Sancta Ursula Bumi Serpong Damai di hari Rabu minggu lalu, barangkali membuat kita semua terketuk. Bagaimana mengerahkan 130 orang pendukung acara, dari siswa-siswi SD hingga SMA untuk duduk bersama dan bermain musik orkestra. Dan memang di hari Rabu kemarin, Erick Awuy bertugas memimpin orkestra besar ini yang kesemuanya dimainkan oleh siswa-siswi tanpa pemain tamu dalam sebuah konser bertajuk GAIA.Dan memang kemarin dalam pemilihan program konser, menarik bahwa orkes sekolah ini mencoba mengeksplorasi Sejarah Musik hingga mencapai bentuknya di masa sekarang. Konten dari pendidikan musik dan apresiasi itu sungguh tergambar dalam pemilihan karya dan presentasi permainan musik yang dibawakan kemarin, dari karya Pachelbel di zaman Barok hingga Pirates of the Caribbean yang dari awal abad-21 ini, beberapa musik pop seperti Mamma Mia dari ABBA ditampilkan dalam konteksnya sebagai bagian dari sejarah musik kini. Di sisi ini saja, secara khusus peranan orkes sekolah ini untuk menjadi media pendidikan apresiasi seni sudah berhasil dengan baik.

Harus dikatakan bahwa membentuk sebuah orkestra bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Banyak pihak harus dilibatkan dari orang tua, pelatih, peserta didik, para guru hingga petinggi sekolah. Berbagai aspek pun harus diperhitungkan, dari bentuk pelatihan, peserta dan keanggotaan, fasilitas dan juga pendanaan.

Dari penampilan kemarin jelas terlihat adalah bagaimana kegiatan ekstrakurikuler ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para pemain di sekolah Katolik yang dibina oleh suster-suster Ursulin ini. Disiplin menjadi modal utama beserta kerelaan untuk mempersiapkan pertunjukan yang terbaik bagi para penonton. Berpuluh-puluh anak mempertontonkan hasil berlatih mereka di instrumen-instrumen orkestra dalam sebuah konser. Sebuah pendekatan yang berbeda tentunya dengan kebanyakan ekstrakurikuler lain yang seringkali lebih terpesona dengan gelar kejuaraan yang biasanya lebih terkesan bersinar.

Jujur saja untuk mampu membina sebuah ekstrakurikuler dengan tingkat partisipasi dan level seperti ini haruslah berbekalkan sebuah idealisme yang kuat yang juga didukung oleh komitmen untuk mempertahankan keberlangsungan ekstrakurikuler yang tidak biasa ini.

Memang Sancta Ursula BSD bukanlah yang pertama dalam membina sebuah orkestra sekolah, di sebuah lingkungan di luar Sekolah Menengah Musik. Namun keberadaannya hingga saat ini bisa dikatakan merupakan sebuah buah komitmen yang tidak kunjung putus. Di saat banyak orkestra sekolah bermunculan dan kemudian gulung tikar di medio 2000-an hingga kini, keseriusan untuk membina musik sebagai bentuk pendidikan tentunya menjadi modal utama.

Dari segi fasilitas dan guru-guru yang dipanggil saja, jujur sudah membuat penulis berdecak kagum. Banyak musisi senior dilibatkan untuk mengajar orkestra ini. Belum lagi dengan perlengkapan perang mereka untuk bermain musik. Set perkusi lengkap dan tujuh harpa saja sudah membuat banyak pihak yang pernah merasakan jatuh bangun membina orkestra tentunya berdecak kagum, pun bukan hanya alatnya saja yang banyak. Namun dukungan belasan pemain harpa dan belasan permain perkusi saja sudah bikin banyak kepala geleng-geleng.

Sanur BSD2Yang pasti, sebuah ektrakurikuler orkestra bukanlah barang murah dan gampang. Butuh kerja keras dari seluruhnya untuk mempertahankan serta memajukan ekstrakurikuler ini dan tentunya memastikan bahwa kegiatan ini memenuhi peranannya sebagai sebuah media pendidikan bagi para pesertanya. Tentunya kesempatan belajar alat musik orkestra dan tampil sebagai sebuah kelompok penampilan kolektif menjadi pengalaman yang berharga bagi siswa-siswi di malam itu.

Pun memposisikan orkestra ini sebagai sebuah kebanggaan sekolah tentunya bukan hal mudah. Namun sepertinya kemarin terasa sekali dari indikator yang paling mudah, dari para pelatih dan juga dari senyum guru-guru yang bertugas menjadi usher dan penerima tamu di konser tersebut. Semua merasa bahwa mereka menjadi bagian dari sesuatu yang besar di konser tersebut. Murid-murid pun tampil dengan riang.

Dan tahun ini, tentunya adalah langkah berani dari orkestra ini untuk menampilkan mayoritas musik instrumental, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang banyak menampilkan orkestra sebagai pengiring vokal. Sebuah langkah maju yang patut diapresiasi, dan ditunggu gerakan orkestra ini ke depan.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: