Kabar Terkini

Kritik: Memilih Jalan Seorang Diri


~ menjawab tulisan Hazim Suhadi

Sebagaimana disinggung oleh pianis Indonesia Hazim Suhadi tentang kritik dan kebanggaan dalam tulisannya. Memang harus diakui bahwa di Indonesia kita belum melihat situasi yang kondusif untuk perkembangan dunia kritik seni. Selama lebih dari 7 tahun mencoba berenang di dunia kritik dan pengamatan seni, nampaknya keberadaan kritik seni termasuk musik, belum memasuki babak di mana kritik seni itu menunjukkan tanda-tanda sehat di Indonesia.

Tapi daripada bergumul dengan kondisi kritik seni di Tanah Air, mungkin ada baiknya apabila kita melihat dari perspektif yang berbeda. Dengan situasi seperti saat ini, di sini kita mencoba untuk mengkritik diri mereka sendiri. Mereka yang ingin menjadi kritikus seni harus bagaimana?

Yang harus disadari oleh aspiran kritikus seni adalah bahwa di Indonesia menjadi kritikus seni adalah suatu momok bagi banyak seniman. Maka dari itu, kritikus seni di satu sisi harus sadar bahwa memilih menjadi kritikus dan pengamat, berarti siap menjalani jalan sunyi sendiri. Tidak banyak orang yang ingin mendengar opini yang berlawanan dengan persepsi pribadi mereka. Dan memang menjadi seorang kritik seni harus siap untuk berjuang sendiri.

Selalu merupakan penghiburan sebenarnya untuk mendapati pembaca yang mendukung aktivitas kritik yang dilakukan, entah mereka sepakat ataupun tidak akan opini kita. Setidaknya ada yang membaca dan tergelitik oleh tulisan dan opini yang kita lontarkan, itu sudah luar biasa. Memang pada akhirnya kritikus tidaklah sendiri, namun alangkah pun demikian sang aspiran haruslah siap lahir batin. Kritikus seni harus siap berjalan di jalan sunyi. Teman seperjalanan adalah bonus yang luar biasa.

Kritik seni ditujukan untuk membangun apresiasi akan seni, dan bukan untuk menyanjung atau menjatuhkan pribadi. Karenanya kritik seni yang baik adalah kritik seni yang membangun wacana, akan sebuah fenomena dan peristiwa seni. Karenanya adalah wajib kritikus memandang seni dan kepentingan publik sebagai tujuan mutakhir dari proses kritik itu sendiri. Maka dari itu kejujuran adalah tonggak utama yang harus ditegakkan. Menulis seni adalah bentuk bakti kepada seni itu sendiri, bentuk bakti yang tidak banyak dilakukan orang.

Bentuk bakti dan ide jalan sendiri itu berarti seorang kritikus haruslah siap bahwa beberapa pribadi bisa jadi bersikap bermusuhan atau menjauhi. Ada pihak-pihak yang mungkin sedikit terintimidasi dan memilih untuk tidak banyak bekerja sama dengan sang kritikus. Tidak jarang, kritikus masuk daftar hitam dan terpisah. Pun ada pula kolega musisi yang akhirnya sibuk dengan pencitraan terlebih ketika berelasi dengan sang pengamat. Kritikus seni bukan sepenuhnya praktisi, mereka bukan sepenuhnya administratur, mereka bukan pula sepenuhnya wartawan. Sedikit catatan, tidak jarang hubungan kerja terputus karena tulisan jujur yang terungkap atau opini membangun yang dilontarkan.

Karenanya, banyak kritikus seni tidak dapat sepenuhnya menjadi seorang aktivis ataupun seniman aktif, bukan karena ketidakmampuannya dalam bersikap objektif, namun bisa jadi lebih karena menjadi kritikus berarti membuka pintu kesempatan karier panggung. Karena kolega panggung hari ini bisa jadi berubah menjadi subjek pengulasan di keesokan hari. Padahal harus kita akui bersama bahwa tidak ada media di Indonesia yang mampu mensustain penghidupan kritikus seni di sana. Belum ditemukan seorang kritikus seni Indonesia yang bisa hidup karena menulis kolom seni semata di satu surat kabar.

Adalah wajar apabila memang mereka yang menjalani kritik seni haruslah mereka yang sungguh terpanggil ke sana, demi panggilannya menyajikan kebenaran kepada publik. Selama sang pengulas berani jujur dengan diri sendiri dan lewat ulasannya jujur kepada publik, komentar yang ia sampaikan akan berada dalam koridor membangun. Karenanya tidak sepantasnya pribadi itu menjadi gentar. Terlebih apabila ia memiliki dorongan untuk terus belajar dan mengembangkan diri secara bertanggung jawab.

Entah benar atau tidak, kritikus seni harus siap memilih untuk jalan seorang diri. Selama ia menjunjung kebenaran dan kepentingan seni serta publik, tidak selamanya ia sendiri. Perlahan akan muncul mereka yang juga menghargai kerja keras dan dedikasinya di dunia kata-kata ini. Dan hingga saat itu tiba, tidak bisa sang aspiran kritikus sembarang menyerah karena pada akhirnya mereka tidak bekerja untuk diri sendiri, tapi untuk sebuah asa yang lebih mengakar dan mendalam.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Kritik: Memilih Jalan Seorang Diri

  1. Maju terus, Mike!

  2. Terimakasih banyak ka Lendi… Semangat dan maju terus juga ka dengan Simfoniettanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: