Kabar Terkini

Lagu Anak Kita, Bukti Tertindasnya Anak


~ Mencermati artikel diskusi musik di Malang oleh Erie SetiawanDalam diskusi musik yang berjalan di Kota Apel Malang, keberadaan lagu anak sepertinya menjadi sebuah keprihatinan tersendiri bagi dunia musik kita. Sudah lebih dari satu dekade anak-anak kita tidak lagi mendapat tempat di dunia musik kita. Masa-masa ketika lagu anak-anak yang manis dan mendidik nampaknya sudah menjadi bagian dari masa lalu. Lalu apakabar musik anak Indonesia?

Ya, media kita nampaknya tidak menjadi sarana yang berhasil untuk mendiseminasi musik anak, terlebih dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Zaman Joshua, Tina Toon, Enno Lerian, Trio Kwek-kwek, Kak Seto, Ria Enes menghias kaca nampaknya sudah agak jauh dari dunia anak-anak dekade ini. Tidak ada lagi musik anak di televisi yang merupakan hal baik atau buruk, ini memang bisa jadi pertanyaan yang belum terjawab.

Di kala lagu-lagu anak lawas hanya beredar dari sekolah ke sekolah, lagu-lagu dewasa kini yang merasuk ke dunia anak-anak dan terlebih ini yang didukung oleh media kita. Media televisi dan radio seringkali lupa bahwa kita memiliki pirsawan anak yang membutuhkan juga asupan lagu-lagu yang sesuai dengan tingkat umur mereka. Ketika acara kompetisi idola anak muncul, anak-anak berbakat cemerlang ini dikondisikan untuk menyanyikan lagu-lagu dewasa yang tidak sesuai dengan pemaknaan hidup merek sebagai anak-anak.

Memang untuk menarik dukungan dari SMS dan telepon seperti acara idola anak ini, akhirnya memang yang disasar adalah penonton dewasa, yang sudah punya modal dan fasilitas untuk mendukung mereka untuk memberikan suara. Pun pemasang iklan tentunya juga menyasar penonton dewasa yang mampu membuat keputusan membeli produk yang diiklankannya, bukan anak-anak yang hanya bisa menunjuk dan merengek minta dibelikan.

Nyatanya dalam acara pencarian bakat semacam ini, anak-anak peserta menjadi layaknya pertunjukan sirkus untuk menghibur penonton dengan mengingkari keberadaan diri mereka sendiri sebagai anak-anak. Di sini para calon bintang ini dipertontonkan untuk menarik uang bagi para dewasa, juga menghibur mereka yang kebanyakan dewasa dengan membawakan lagu yang dewasa. Pun anak-anak yang menonton dikondisikan untuk kagum pada kenyataan bahwa anak-anak seumur mereka bisa bernyanyi layaknya seorang dewasa, membawakan lagu-lagu orang dewasa sedang sebenarnya nilai anak-anak itu sendiri terbuang.

Demam anak ajaib berkapasitas layaknya seorang dewasa sudah kita lihat sejak dahulu. Dalam sejarah, dunia mencatat seorang anak ajaib Mozart yang sejak usia 5 tahun mencipta lagu sendiri, dan sudah keliling Eropa untuk dipertontonkan dalam konser-konser, sebuah kondisi yang diciptakan oleh ayahnya sendiri yang menyadari bakat anaknya tersebut. Pun banyak psikolog yang kini mencatat bahwa kondisi ini tidak tepat untuk tumbuh kembang anak, yang bisa kita lihat pada hidup Mozart sendiri yang dicatat para sejarawan.

Ini nyatanya bukan penyakit media. Ini adalah penyakit kita sebagai manusia yang terobsesi pada hal-hal yang seakan serba dewasa. Kemampuan dewasa dipaksakan pada kanak-kanak, bahkan dipaksakan tanpa pemahaman yang cukup juga di sisi anak-anak. Ini yang menjadi masalah sentral kita saat ini.

Anak-anak sudah termajinalkan oleh masyarakat kita lewat ketidakpedulian kita akan kelangsungan lagu anak. Secara tidak langsung kita mengondisikan dan mengeneralisasi bahwa adalah baik bagi anak-anak langsung mampu menikmati santapan seorang dewasa. Pun kita menjadikan anak-anak ini sebagai pemuas rasa keingintahuan kita dan rasa ingin kekaguman kita.

Dan bagi para seniman, mungkin mereka pun lupa bahwa pangsa pasar lagu anak adalah pangsa pasar yang memiliki potensi apalagi jika benar dibina dengan bertanggungjawab. Sudah saatnya penggerak ini cerdik melihat potensi ini dan mulai menggarapnya dengan menjadikan anak sebagai sentral pengembangan karya. Niche market? Ya.

Seakan bayi yang belum bergigi dipaksa untuk menyantap ayam goreng karena ayam goreng kita yakini enak, inilah gejala lain yang kita lihat saat ini. Orang dewasa mengukur kebaikan untuk anak lewat nilai-nilai kebaikan yang dia inginkan untuk diri sendiri. Penonton berpikir demikian, pemodal pun juga demikian. Penonton ingin dihibur, pemodal ingin untung, orang tua penyanyi ingin anaknya tenar. Ketiganya tidak ada bersentral pada apa yang terbaik untuk anak-anak itu sendiri baik sebagai pemirsa maupun sebagai seorang musisi/seniman.

Jadi ini adalah bukti hegemoni yang merusak dari orang dewasa? Bisa jadi. Tapi yang pasti, selama kita menyingkirkan kepentingan dan kebutuhan anak akan lagu anak yang sesuai untuk mereka, sebenarnya kita sedang menindas anak-anak dan penerus bangsa kita sendiri. Sudah saatnya anak tidak lagi dijadikan sebagai obyek, melainkan mereka harus diizinkan berperan sebagai subyek.

Bagaimana pilihan Anda? Apakah kita sebagai orang dewasa memilih sebagai seorang egosentris?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: