Kabar Terkini

Cinta dari Masa ke Masa dari Archipelago


photo (3)Di hari yang didapuk sebagai Hari Kasih Sayang, The Archipelago Singers tampil membawakan persembahan manis cinta lewat konser bertajuk “Amore”. Mengangkat karya-karya paduan suara campur dengan tema cinta, konser malam itu menjadi pernyataan kasih dari para pendukung acara.

Dipimpin oleh konduktor muda Ega O Azarya, paduan suara yang dibentuk tahun 2008 ini sedari awal memperlihatkan kualitasnya sebagai paduan suara yang pernah memenangi kompetisi internasional. Choral sound terbentuk dengan padu dan penuh, dan terlihat sejak awal babak pertama yang dibuka dengan karya komposisi renaisans John Dowland “Come Again”. Setelah itu berturut-turut “O, Let Me live!” dari Thomas Tomkins, “My Delight and Thy Delight” dan “Since Thou, O Fondest” dari Hubert Hastings Parry. “Amodioa” dari Javier Busto dan “Three Rossetti Lyrics” dari Daniel Gawthrop adalah sajian selanjutnya sebelum babak pertama ditutup dengan karya dari Josu Eiberdin berjudul “Izar Ederrak”.

Dengan banyak menyanyikan karya berbahasa Inggris, terlihat bagaimana Ega secara teliti menggarap diksi dan artikulasi. Ega pun mampu mendukung paduan suara lewat gesture yang memungkinkan para penyanyi bernyanyi dengan intensitas yang cukup terjaga. Secara umum, terlihat memang sopran dan bass terdengar sebagai seksi yang cukup solid dengan warna baku yang cukup fleksibel. Di lain pihak, tenor memiliki karakteristik warna yang cemerlang dan lembut namun sayangnya belum didukung kestabilan intonasi yang hanya dapat dicapai lewat daya dukung pernafasan yang matang. Alto sendiri muncul sebagai seksi yang cukup kompak walau di beberapa tempat penonton seakan mengharapkan ada kehangatan yang keemasan hadir dari seksi ini.

Jujur dengan anggota 45 orang, ada harapan dinamika suara lembut dan keras dapat terdengar lebih kontras dan dengan intensitas terjaga, namun jujur harapan yang tidak kesampaian ini tertutupi dengan nuansa choral sound paduan suara ini yang membuai. Kecakapan paduan suara ini dalam membentuk dan sensitif terhadap warna suara patut diacungi jempol, masing-masing tampak berusaha menjadi bagian dari korps. Alhasil di babak pertama, penggarapan tampak maksimal.

Babak kedua diwarnai karya-karya aransemen lagu populer bertemakan cinta yang ditulis khusus untuk paduan suara campur. Di babak kedua ini, selain aransemen “Marry You” yang dipopulerkan Bruno Mars dan diaransemen untuk paduan suara tingkat lanjut hampir seluruh karya-karya di babak kedua ini ramah di telinga dan mengandalkan simplisitas yang cantik. Enam karya aransemen seniman paduan suara Filipina Ily Matthew Maniano diperdengarkan: empat di antaranya lagu Indonesia “Untukku” dari Yovie Widianto, “Kasih Putih” yang dipopulerkan Glenn Fredly, “Waktu Kan Menjawab” dari Andi Rianto dan Sekar Ayu Asmara dan “Sempurna” yang dipopulerkan band Andra & The Backbone. Selai itu ia juga menggubah “I Hate You Then I Love You” untuk paduan suara dengan nuansa swing yang kental. Komponis muda Ken Steven juga ambil bagian dalam aransemen “A Whole New World” yang populer lewat film animasi Alladdin di decade 1990-an.

Di awal babak kedua, lewat “Marry You”, sesaat Nampak paduan suara belum sepenuhnya stabil dalam membawakan karya populer ini. Memang membawakan karya populer dalam paduan suara adalah buah simalakama. Di satu sisi lagu yang populer tentunya dekat dengan penonton, dan paduan suara pun sedikit lebih mudah dalam menguasainya. Tapi di sisi lain, lagu ini juga menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam pendekatan bernyanyi. Setiap penyanyi seakan memiliki kebebasan untuk interpretasi sekaligus eksekusi nada, alhasil perlu kerja keras untuk menyamakan persepsi tersebut untuk menghasilkan karya yang padu. Walaupun sempat menunjukkan agak kurang tergarap, “Marry You” dan “A Whole New World”, paduan suara yang beranggotakan pemuda dan dewasa voluter ini kembali ke performa di babak pertama setelah lagu ketiga. Seakan tersadar kembali untuk lebih fokus pada alur musik dan pergerakan ensembel, paduan suara ini kembali merapatkan barisan dan memberikan kesan manis pada lagu-lagu lain hingga konser ditutup dengan karya “Sempurna”. Penonton pun berdecak kagum, dan meminta rangkaian encore yang dijawab oleh The Archipelago Singers lewat gubahan Soleram.

Jujur saja, paduan suara ini walaupun belum genap satu dekade telah dimaklumi sebagai salah satu paduan suara berkualitas kita. Pun kecerdasan dalam memilih program yang bertepatan pada Hari Valentine ini juga mengundang penonton untuk ikut meramaikan konser yang terjual habis ini. Tidak heran tokoh vokal Joseph Kristanto Pantioso menyatakan kekagumannya pada rasa kepemilikan para anggota akan paduan suara ini. Tentunya acara Sabtu malam kemarin adalah sajian yang asyik dicerap pendengarnya, sebuah pernyataan cinta dari masa ke masa.

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Cinta dari Masa ke Masa dari Archipelago

  1. Ini dimana acaranya?

  2. Di usmar ismail mas… Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: