Kabar Terkini

Garapan dengan Komitmen dan Semangat


Menyaksikan para pecinta seni bekerja untuk meraih yang terbaik nyatanya selalu menyenangkan, dan ternyata itu juga yang kemarin dirasakan penonton dalam acara yang digelar Department of Arts dari Universitas Pelita Harapan di Goethe Haus, Jakarta. Beranggotakan pecinta seni dari berbagai disiplin ilmu di luar disiplin ilmu seni pertunjukan, kegiatan berbasis Unit Kegiatan Mahasiswa ini menunjukkan keseriusan penggarapan yang tidak main-main.

Mengangkat tema “Broadway Highlights”, acara di Sabtu sore ini mempersembahkan potongan-potongan populer dari karya-karya drama musikal legendaris sepanjang masa. Potongan dari drama musikal yang diluncurkan dari West End Phantom of the Opera, Cats, Love Never Dies, The Sound of Music, Les Miserables, Miss Saigon berbaur dengan West Side Story, Lion King, Dreamgirls, Annie, Jekyll & Hyde, dan My Fair Lady yang terlebih dahulu merengkuh pecinta musikal di benua Amerika.

Acara malam itu secara umum menghibur dan mengetengahkan pernampilan yang berkualitas dari Lighthouse Singers dan Spirit Dance Company, dua komunitas seni di UPH. Penampilan para mahasiswa ini pun juga cukup mencengangkan, terutama duet “Sun and Moon” dari musikal ciptaan Boublil dan Schonberg “Miss Saigon” yang dibawakan dengan mempesona oleh Sharon Bulo dan Ezra Pahala yang memerankan dengan sepenuh hati dua kekasih yang kasmaran. Ezra Pahala pun menyanyikan “Endless Night” dari “Lion King” dengan meyakinkan. Claresta Ravenska juga mampu menyanyikan “Phantom of the Opera” dengan mantap dengan eksekusi yang presisi dengan teknik yang tidak main-main.

Bastian Caesar pun membuka pertunjukan sore itu dengan “This is the Moment” dari musikal Jekyll & Hyde. Juga perlu dicatat perpaduan manis dari dua momen solo “I Dreamed a Dream” dan “On my Own” dari “Les Miserables” yang dinyanyikan dengan quod libet, menjalin melodi dari 2 lagu yang sebenarnya berbeda dan dibawakan dengan manis oleh Keia Laturiuw dan Ratih Boga. Agnes Bale cukup mengesankan, sedang Livia Margareth menemani performa luar biasa yang ekspresif dari duo penari Spirit Dance Company yang sedemikian menawan hati dengan teknik lifting yang sulit untuk menggambarkan lagu “Love Never Dies” dari musikal berjudul sama. Varilya Taroreh pun dengan badan yang mungil mampu melibas dengan teknik belt dan proyeksi yang tidak bisa dianggap remeh.

Koreografi dari Spirit Dance Company cukup menarik terutama mengingat ukuran panggung yang tergolong mini. Beberapa nomor tampak mengesankan seperti di “Love Never Dies” dan “All That Jazz” namun di sisi lain untuk “Memory” dari “Cats” yang dinyanyikan Edelweiss Angelita dapat lebih berbasis pada kisah asli dan makna dari konteks karya itu dinyanyikan. Sedikit masukan untuk tarian secara umum adalah bagaimana penari memberi makna pada setiap gerakan hingga tarian yang dibawakan selain menampakkan keluwesan juga intensitas di dalamnya.

Di sisi lain, walaupun banyak pemain sudah menampakkan kematangan karisma panggung, seperti Ezra, Claresta, dan Sharon, sutradara dapat lebih menggarap teknik akting para pelakon malam itu sehingga tampak lebih natural dan lepas. Di panggung yang tidak terlalu lebar, adalah penting untuk menggarap gerakan-gerakan kecil yang subtil namun mampu menyita perhatian penonton. Pergerakan yang terlalu besar dan canggung agaknya bisa dikurangi, konsep minimalis untuk efek maksimal layaknya harus diberi perhatian lebih. Demikian juga dengan penggarapan tata suara yang semalam agaknya bervolume terlalu keras sehingga seringkali membuat penyanyi tidak balans dan tertutupi oleh band yang mengiringi, sangat disayangkan.

Orkestrasi dari komponis dan aranger muda Andreas Arianto tampak cukup efektif dengan kuartet gesek, seksi rhythm dan perkusi, ditambah keyboard dan trompet. Andreas sendiri memimpin dari sisi keyboard, dan Dika Chasmala beberapa kali terdengar berimprovisasi lewat fiddlenya untuk menambah ramai suasana.

Namun dari segi umum, acara kemarin yang juga merupakan acara malam amal, sungguh menjadi kesan tersendiri yang menarik bagi para penonton. Nyatanya aspek panggung cukup diperhatikan dengan penggarapan yang matang, sebuah kemewahan karena didukung SDM balik panggung yang cukup banyak. Nampaknya seni dan apresiasinya memang terlihat berkembang, bukan karena sekedar pendidikan, namun karena dijalani dengan semangat dan penuh komitmen, dan malam itu senang melihat komitmen dan semangat itu di diri mahasiswa-mahasiswa muda kita yang dipimpin UPH Art.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: