Kabar Terkini

Minus One dalam Ujian?


Australian Music Examination Board atau biasa disebut sebagai AMEB baru saja mensahkan sebuah regulasi baru yang memungkinkan peserta ujian yang diselenggarakan oleh badan penguji yang berbasis di Australia ini untuk menggunakan kaset/CD minus-one untuk mengiringi ujian.

Kebijakan menggunakan minus-one tentu saja menjadi sebuah kontroversi tersendiri. Minus-one sendiri adalah sebuah rekaman yang berisikan musik pengiring dan seperti yang pembaca bisa bayangkan, minus-one diputar dan peserta ujian katakanlah pemain biola atau flute dapat bermain diiringi rekaman musik ini. “Karaoke” adalah contoh paling konkret dari bentuk menyanyi dengan minus-one seperti ini.

Menurut badan penguji yang diakui juga di Indonesia ini, izin menggunakan minus-one diberikan atas dasar pertimbangan praktis, terutama untuk mereka yang kesulitan untuk menemukan pianis pengiring pada saat ujian. Dengan demikian berbekalkan rekaman ini, ujian tetap bisa dilakukan dan peserta tetap mendapatkan feedback yang mencukupi dan menyeluruh bagi sang peserta ujian yang berperan sebagai solois. Pun ujian pun menjadi lebih terstandar dan tidak bergantung pada kualitas sang pianis yang mengiringi. Memang AMEB tidak serta merta hanya mengakui ujian yang diiringi oleh rekamannya, AMEB sendiri tetap mendorong anak didik untuk tetap diiringi musik hidup dan izin dapat diambil sebagai alternatif.

Di sisi lain banyak pendidik tidak menyetujui langkah ini. Mereka menganggap bahwa musik haruslah diciptakan dalam sebuah lingkungan komunal dalam kebersamaan. Dan inilah yang membedakan musik rekaman dengan musik hidup di mana peserta didik diajak mengalami dan terlibat aktif dalam proses kolaborasi ini. Bagi mereka, ujian dalam bentuk “karaoke” seperti ini mematikan proses kreatif dari anak, sehingga mereka terlatih untuk mengikuti dan sakleg pada rekaman dan bukan pada aspek musik yang dinamis dan dapat berubah.

Bagaimana menurut Anda?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: