Kabar Terkini

Hari Musik Nasional Bagus, Lubangnya di Mana?


Hari Musik Nasional yang dirayakan setiap tanggal 9 Maret nampaknya tidak terasa gaungnya. Ya, beberapa tahun lalu momen ini menjadi sebuah momen yang banyak diangkat untuk meningkatkan apresiasi musik dalam negeri. Perayaan hari lahir penggubah lagu kebangsaan Indonesia, Wage Rudolf Supratman, ini pun menjadi titik peringatan terhadap sang komponis nasionalis Indonesia yang membakar lewat lagu “Indonesia Raya”.

Tahun 2015 ini adalah kali ke-13 hari ini diperingati, sebuah hari peringatan yang digagas oleh Presiden Indonesia kala itu Megawati Sukarnoputri, dan dikukuhkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2013 melalu Keputusan Presiden no.10 tahun 2013. Memang adalah saat yang tepat tentunya pada hari ini melihat gagasan ke-Indonesia-an yang begitu mengakar pada lagu “Indonesia Raya”.

Menarik apabila kita melihat peran lagu kebangsaan ini semenjak dikumandangkan dalam Kongres Pemuda II Indonesia dengan biola sang komponis sendiri dan langsung didapuk menjadi lagu nasional penggerak pemuda hampir ¾ abad yang lalu. Kala itu pula, seluruh pemuda di seantero negeri sepakat akan ide kesatuan Indonesia yang membakar semangat revolusi hingga masa pembangunan, reformasi dan Indonesia di abad ke-21 ini.

Namun nyatanya tanggal 9 Maret ini belum mampu menjadi unsur penggerak perkembangan musik Indonesia secara umum. Mencermati catatan berita di dunia internet akan apa yang terjadi di hari tersebut, kondisinya nampak tidak terlalu jauh dari eksploitasi komersil dari slogan Hari Musik Nasional. Semangat apresiasi pun lebih gencar diangkat terlebih oleh penggiat musik industri dengan banyak mengangkat isu-isu pembajakan dan pencegahannya seperti beberapa tahun lalu. Hal serupa yang dilakukan oleh 70 anggota DPR bersama Anang Hermansyah, musisi yang kini menjadi anggota legislative, yang mengambil momentum hari ini untuk melawan pembajakan. Beberapa pihak lain menggunakan kesempatan ini sebagai momen pemasaran dengan menyediakan jasa download music gratis di hari kesembilan bulan tiga ini. Beberapa mengisinya dengan diskusi intelektual seni untuk mengangkat apresiasi terhadap seni.

Gerakan melawan pembajakan yang dicanangkan ini tidaklah buruk namun hanya merupakan satu buah aspek dari upaya peningkatan apresiasi terhadap kekayaan musik bangsa. Nyatanya persoalan apresiasi bukanlah semudah menggalang opini mengenai pembajakan ataupun mengadakan satu hari khusus untuk musik semata, namun lebih berakar pada posisi musik dan seni secara umum di mata masyarakat.

Jujur saja, apresiasi kita terhadap seni masihlah rendah. Musik industri masih dihantui isu pembajakan, musik tradisi morat-marit kehilangan pendengar, dan musik inovasi baru kesulitan meraih pendengar. Inilah kasus yang kita hadapi saat ini. Tidak sedikit pemusik terutama di jalur industri lebih berharap cepat tenar dan cepat kaya dibandingkan dengan konsisten berkontribusi dalam dunia musik. Tidak sedikit pula yang ingin bisa diorbitkan tanpa benar-benar mengerti peran mereka dalam ekspresi berkesenian.

Ujung-ujungnya memang isu ini hanya bisa dibentuk lewat pendidikan umum yang harus berakar pada apresiasi seni dan budaya, baik budaya populer, budaya tradisi maupun budaya inovasi dalam berkesenian. Usaha untuk pemasaran, ataupun mosi melawan pembajakan hanyalah aksi sporadis semata apabila tidak didukung oleh pendidikan seni musik yang komprehensif sejak dini hingga dewasa.

Betapa banyak kita kehilangan momen berkesenian dalam kurikulum nasional. Pelajaran seni hanya secuil dari kurikulum, anak didik pun tidak pernah terlibat dalam proses kreatif dalam seni. Dan bukan hanya sejak dini, namun terus berinovasi hingga tingkat pendidikan lanjut. Hanya sedikit sekolah menengah musik dan karawitan yang kita miliki di negeri, apalagi institusi pendidikan tinggi yang membuka jurusan musik.

Sedikitnya peran pendidikan dan keikutsertaan peserta didik dalam bidang seni, sebenarnya membentuk generasi muda bangsa ini sebagai generasi konsumen yang tidak pernah terlibat dalam proses kreatif. Tidak heran apabila semakin banyak kita lihat konsumen kita pun tidak mampu mengapresiasi seni secara baik, termasuk di dalamnya proses kreatif dari seni itu sendiri. Alhasil, mereka lebih sibuk menjadi maling seni dan kekayaan intelektual untuk memuaskan kebutuhannya sebagai konsumen dan bukan sebagai konsumen yang bertanggung jawab. Substansi inilah yang sering terlupakan dalam konteks apresiasi seni musik dan peran pendidikan di dalamnya.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah pemangku kekuasaan dan pengaruh kita melihat sektor pendidikan ini dalam meningkatkan apresiasi seni musik dan pada akhirnya berbuah pada pemberantasan pembajakan? Ataukah Hari Musik Nasional hanya akan jadi hari biasa saja bagi perkembangan musik Indonesia? Yah kita lihat saja.

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Hari Musik Nasional Bagus, Lubangnya di Mana?

  1. I recently like the helpful information an individual present on the articles or blog posts. I’m going to take note of your own web site in addition to examination all over again below frequently Mussive. Now i’m fairly specified I will be explained to numerous brand new stuff good below! Good luck for the following!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: