Kabar Terkini

Pasio Yohanes dari Hedwig Berlin


2015/03/img_6298.jpg
Kisah Sengsara Yesus Kristus memang merupakan kisah yang familiar dijumpai di berbagai tempat di Jerman dalam minggu-minggu terakhir ini. Ya, bagi banyak penganut Kristen minggu-minggu ini memang adalah bagian dari masa Prapaskah yang berujung pada kisah sengsara dan kebangkitan Yesus di hari Paskah. Konduktor Budi Utomo Prabowo mengatakan bahwa merupakan hal yang lumrah apabila di dalam periode ini hampir setiap minggu diadakan konser karya-karya Kisah Sengsara Yesus (Passion) karya Johann Sebastian Bach bergiliran dari satu tempat ke tempat lain. Bach sendiri menulis dua buah, yaitu Passion St. Matthew dan Passion St. John.

Di Minggu malam ini, giliran Katedral St. Hedwig Berlin yang mementaskan salah satu karya oratorio dari Bach yang monumental ini. Bagi kebanyakan musikolog, karya ini adalah opera yang tidak pernah ditulis J.S. Bach. Ya, Bach tidak pernah menulis opera seumur hidupnya, namun hampir keseluruhan karya ini menggambarkan bagaimana Bach sebagai komponis menunjukkan kemampuannya menggubah musik dengan narasi yang dramatis. Inilah yang dibawakan oleh Chor der St. Hedwigs-Kathedrale bersama dengan Capella Vitalis Berlin yang dipimpin oleh Harald Schimtt sebagai konduktor.

Terbentuk dari rangkaian resitatif, aria dan choral, karya ini bertumpu pada narasi yang dibawakan oleh tenor Matthias Bleidorn yang berperan sebagai Evangelist/Narator. Dan Bleidorn menunaikan tugasnya dengan sangat mantap, penuturannya begitu jelas dan mampu menjadi poros yang kuat dari keseluruhan kisah yang penuh drama dan emosi namun tidak boleh kehilangan kejernihannya. Bass asal Finlandia Artuu Kataja yang berperan sebagai Yesus pun tampil dengan karakter yang mengakar dan dominan. Mattias Weichert pun tampil sebagai Pilatus dengan tingkat persuasi yang tinggi. Walaupun oratorio ini tanpa gerak, namun penampilan ketiganya sudah mampu memberi ruang gerak sendiri yang menggambarkan kisah ini.

Soprano Stephanie Petitlaurent tampil menawan dengan suara yang mengisi gereja kubah ini, suaranya yang fleksibel seakan menari di atas gaung gedung yang dibangun berbentuk lingkaran, menyerupai Pantheon di Roma, atapnya pun berbentuk kubah, lengkap dengan lubang oculus di atasnya. Di sisi lain Alto Fransizka Markowitsch walaupun tampil dengan warna suara yang dalam dan penuh, namun tetap belum mampu secara utuh mengambil aria-aria yang membutuhkan interpretasi yang jauh mendalam secara personal.

Paduan suara Chor der St. Hedwigs ini sebagai paduan suara tampil dengan solid. Intonasi bersih dan lagi-lagi memiliki kemampuan bertutur yang luar biasa. Mengejutkan bahwa sedari awal kita menyadari Paduan suara gereja ini mampu mencuri perhatian penonton dengan permainan warna dan emosi. Walaupun belum seluruh anggota melihat pentingnya peran konsonan dalam ruangan berdiameter 66 meter ini dan kebersihan eksekusi, namun Chor hari ini sudah terdengar kuat dalam membawakan karya terlebih mereka mengenal karakteristik akustik markas mereka.

Harald Schmitt yang bertugas sebagai konduktor pun memimpin orkes dengan penuh keyakinan. Terdengar juga bagaimana ia menjalin komunikasi dengan awak kapal dengan arah yang jelas, alhasil paduan suara ini mampu membawakan secara mendetail dan total. Orkestra Capella Vitalis yang disusun atas instrumentalis alat musik kuno juga bermain dengan musikal dan padu. Secara eksekusi pun terdengar ringkas dan jelas namun tidak mendikte walaupun ada kesan sedikit terburu-buru. Pemain pun diajak responsif terhadap apa yang terjadi di luar, terutama panjang gaung yang tidak normal utk sebuah musik barok.

Kisah sengsara ini telah biasa jadi adalah karya yang menantang, namun adalah sebuah peristiwa yang mengagumkan adaah bagaimana sebuah paduan suara gereja menyanggupi membawakan karya ini dengan agung, sebuah prestasi yang jarang ditemui di terlebih di Indonesia, terlebih paduan suara gereja.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: