Kabar Terkini

Selamat Jalan, Mas Slamet


Mas Slamet di rumahnya di bilangan Cipinang -warisanindonesia.com

Indonesia kehilangan salah satu raksasa musiknya. Pagi ini 24 Maret 2015 pukul 06:00 WIB, komponis yang berjuluk Bapak Musik Kontemporer Indonesia Slamet Abdul Sjukur berpulang, di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya pada usia 79 tahun setelah terjatuh di rumahnya 2 minggu yang lalu. Sang Maestro Bunyi kita telah tiada.

Julukan Bapak Musik Kontemporer Indonesia bukanlah tanpa sebab untuk pribadi yang lahir 30 Juni 1935 ini. Sebagai seorang komponis, karya-karya pria kelahiran Surabaya alumnus dari Sekolah Musik Indonesia (cikal bakal: Akademi Musik Indonesia) ini memiliki khasanah kekayaan yang luar biasa, dengan bobot pemikiran yang kental dan keindahan yang seringkali menyentuh batas metafisika.

Ia pun menjadi bagian dari gelombang perdana musisi Indonesia yang belajar di luar negeri. Ia kemudian mengenyam pendidikan musik di Conservatoire National Supérieur de Musique – Paris, Prancis dengan komponis Olivier Messien dan Henri Dutilleux. Menetap selama lebih dari 10 tahun. Ia pun juga yang membuka khasanah pendidikan komposisi di Indonesia sepulangnya dari Prancis, khususnya di Institut Kesenian Jakarta tempat ia mengajar dari tahun 1976-1987. Sepak terjangnya sebagai komponis, pengajar, pemikir dan penulis tidak bisa dianggap remeh. Inspirasinya menular kepada banyak tokoh musik tua dan muda dari tahun ke tahun, lewat pertemuan, diskusi dan tulisan-tulisannya. Hampir semua sosok komponis Indonesia pernah bersentuhan dengannya, juga komunitas musik yang lebih luas. Kerjanya yang hampir tidak kenal lelah ini yang membuatnya menerima penghargaan Officier de l’Odre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis di tahun 2000 dan anggota seumur hidup Akademi Jakarta dari tahun 2002.

Memilih untuk hidup dua minggu di Jakarta, dua minggu di Surabaya, Slamet Abdul Sjukur yang karya-karyanya kental dengan unsur numerologi lebih suka dipanggil “Mas” dibanding “Pak”. Musiknya yang bagi kebanyakan orang tidak wajar, sebenarnya memiliki kekayaan yang luar biasa untuk dijelajah lebih jauh. Itulah yang dirasakan ketika tahun lalu serangkaian acara Sluman Slumun Slamet diadakan di beberapa kota besar di Indonesia untuk menghormati beliau yang telah mencapai usia 79 tahun. Baginya komposisi itu “Gathuk” atau “Permainan”, tapi harus “Permainan yang enak didengar”. Tidak heran ia banyak mengeksplorasi berbagai unsur bebunyian, dari musik elektronik hingga bebunyian mulut. Baginya, musiknya adalah “Mini-Max”, minimal namun berefek maksimal.

Mangkatnya hari ini mengejutkan banyak pihak, namun tidak meleset dari nubuatnya bahwa ia hanya akan hidup selama 79 tahun. Itulah sebabnya Sluman Slumun Slamet diadakan di tahun yang ganjil tahun lalu. Bahkan di salah satu kesempatan ketika berdiskusi tentang banyak tokoh musik senior Indonesia yang telah berpulang, ia malah berkelakar dan berkata kepada penulis, “Ati-ati lho, Mas” – sebuah sindiran lucu tapi sungguh menyentuh bahwa jauh di lubuh hatinya ia sadar akan takdir kematian itu.

Kalau semua orang sudah bisa menikmati bunyi alam, tidak perlu lagi komponis, Mas. -SAS-

Sosoknya yang pemikir selalu dibarengi dengan kelakar-kelakar cerdas yang khas. Kritiknya yang tajam selalu menohok bagi mereka yang bergerak di bidang musik. Diskusi dengannya selalu asyik dan mengalir ringan namun tidak pernah kehilangan esensi. Pemikirannya yang terbuka luas seakan tidak berhenti pada musik saja, namun merambah berbagai bidang ilmu dan dunia. Pertemuan Musik Surabaya dan Pertemuan Musik Jakarta yang digagasnya menjadi forum saksi diskusi-diskusi seru ini. Ia pun dihormati dan disegani baik oleh kalangan akademisi musik, pelaku, pemikir dan bahkan awam musik sekalipun. Dengannya, pribadi bisa berbicara musik secara teknis, namun juga ia mampu menjelaskan dengan bahasa awam.

Keisengannya yang tidak pernah berhenti

Keprihatinannya pada perkembangan musik dan dunia pendidikan musik seakan tidak pernah lepas darinya. Musik kontemporer yang tidak mudah dicerna lantas tidak membuatnya seakan berada di awang-awang, malahan ia sendiri yang turun untuk berbagi ilmu dengan banyak pihak. Musik baginya bukanlah konsumsi bagi kaum terpelajar saja, namun bagi semua. Ia pun pernah menyatakan, “Kalau semua orang sudah bisa menikmati bunyi alam, tidak perlu lagi komponis, Mas.” Eksplorasinya dengan bunyi dengan ataupun tanpa instrumen baginya adalah titik di mana musiknya bisa aksesibel bagi musisi maupun awam.

Mas Slamet sebagai seorang dengan figur yang luar biasa pun tidak tampil ke depan dengan arogan dan merendahkan yang lain. Kepercayaan dirinya selalu berbalut dengan kesantunan. Semua pihak ia anggap sebagai kolega, sapaan Mas dan Mbak lewat suaranya yang lembut bahkan bagi mereka yang usianya 50 tahun lebih muda tertanam di benak. Namun ketika ia sudah angkat bicara, kami yang muda ini sungguh seakan belajar dari sang begawan. Juga dalam Kuliah Kilat Komposisi (KuKiKo) yang beliau gagas dan pernah penulis cicipi di rumah beliau di bilangan Cipinang-Jakarta, cara-cara mengajarnya terasa sederhana, namun mencerahkan dan penuh esensi.

Tulisannya yang kini terangkum dalam buku “Sluman Slumun Slamet” yang disusun oleh Erie Setiawan dari Art Music Today, mengisahkan sepak terjangnya yang tidak pernah berhenti untuk musik. Walaupun demikian dengan nuansa gelap selalu terasa dalam tulisan-tulisannya, seakan ia berjalan maju dalam lorong yang gelap tak berujung, berjuang dengan musik dan keyakinannya yang kuat akan musik itu. Terasa bahwa Mas Slamet merasa kecil di alam yang luas dan kaya ini, mungkin itu yang membuatnya tidak pernah berhenti berjuang untuk mengarungi alam dalam bunyi dan menikmati kekinian. Hal ini pun diamini oleh empu piano Indonesia, sosok seperjuangan Mas Slamet, Ibu Iravati M. Sudiarso dalam diskusi penulis dengan beliau di Teater Kecil TIM tahun lalu.

Indonesia telah kehilangan sosok besar untuk Musik Indonesia: kontemporer, tradisional ataupun klasik. Nyatanya Mas Slamet berjuang untuk merubuhkan sekat-sekat genre itu. Hari ini Mas Slamet sudah menemukan dan keluar dari lorong gelap panjang itu. Di sini kami yang ditinggalkan kehilangan sosok beliau yang mencerahkan itu. Tapi kami tahu akhirnya tongkat jalan beliau yang telah menemani sosoknya, juga rompinya yang setia berisi segala keperluannya dalam perjalanan bisa beristirahat setelah setia menemani kelincahannya. Sungguh, Mas Slamet adalah sosok yang tidak pernah tua di mata kami dan akan tetap demikian di hati banyak pribadi.

Kami di sini kehilangan, tapi kami tahu Mas sudah berada di tempat yang lebih baik. Adalah sebuah kehormatan bagi kami generasi muda untuk mengenal sosok Mas Slamet Abdul Sjukur. Selamat jalan, Mas… Sampai bertemu lagi, dan hingga saat itu kami pastikan semangat, pemikiran dan musikmu bergema di sini. Au revoir…

dari kyaifatahillah.com

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Tentang Pemikiran Slamet Abdul Sjukur | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: