Kabar Terkini

Warna dan Kreasi Masa Depan: Inspirasi Masa Lalu


Jugendorchester schweis1Menggali kearifan masa lampau dan kemudian menyarikannya untuk masa kini adalah sebuah kemewahan yang kita miliki sebagai makhluk yang awas sejarah. Tema “Liturgia” dalam konser di malam hari ini pun juga demikian. Komponis muda Swiss Dave Jegerlehner pun belajar dari masa lalu. Walaupun baru berusia 25 tahun, Jegerlehner memilih untuk berangkat dari akar dan sejarah.

Mengambil inspirasi dari karya Camille Saint-Saens Symphony No.3 yang bertajuk “Orgelsinfonie” bagian 2 dan 4, serta karya megah dari Gustav Holst “Jupiter-The Bringer of Jollity” dari rangkaian tone poem “The Planets”, Jegerlehner mengawinkan tema-tema utama dan mengawinkannya dengan konsep musik elektronik dan tata cahaya. Ia juga meramunya dalam susunan liturgi ordinarium, dari Kyrie hingga Agnus Dei yang menjadi tulang punggung olah nuansa dari karya ini. Dari kreativitas ini lahirlah “New Work for Symphony Orchestra, Pipe Organ and Live-Electronic”.

Konser sendiri dibuka dengan terlebih dahulu menampilkan karya Saint-Saens dan Holst yang menjadi sumber inspirasinya. Di awal konser, gemuruh principal pedal 31′ organ pipa utama Hofkirche Lucerne, Swiss memenuhi ruangan, serasa seluruh ruangan konser bergetar karena kemegahannya. Organ pipa yang dimainkan oleh organis utama Hofkircher St. Leodegar ini kemudan berpadu dengan sentuhan lembut orkestra simfoni dari Zentralschweizer Jugendsinfonieorchester atau dalam bahasa Indonesia Orkestra Simfoni Remaja Swiss Tengah.

Markus Güdel selaku penata cahaya pun mengeksplorasi arsitektur Hofkirche yang didominasi warna putih dengan sentuhan barok. Atmosfer pun terbentuk oleh permainan warna yang bergradasi, berubah lembut dan bergerak lembut sesuai dengan interpretasi musik, memberikan kedalaman rasa pada interior gereja yang didirikan tahun 1633 ini. Visual pun termanjakan oleh cahaya biru, jingga, merah dan keemasan yang mengisi langit-langit tinggi gereja.

Orkestra remaja yang tampil di bawah pimpinan konduktor Felix Schüeli juga bermain dengan cukup matang. Walaupun barisan tiup logam bisa lebih mantap dari sisi intonasi, namun kualitas bunyi dan musikalitas orkes remaja ini mampu menggerakkan hati penontonnya. Orkestra mampu menjadi partner yang setara dengan organ pipa yang memiliki 48 register (2,826 pipa) ini, sedang dalam karya Holst, seksi gesek bernyanyi dengan hangat, bertabur sentuhan energik dari perkusi.

Karya “New Work” Jegerlehner yang diperdanakan malam ini pun selain memiliki konsep yang menarik, juga bisa dikatakan sungguh diciptakan untuk orkestra dan ruang penampilan yang spesifik di gereja ini. Jegerlehner yang bermain di sisi Elektronik secara live duduk di antara para musisi orkes. Penonton pun digelitik dengan berbagai bunyi elektronik yang terpancar dari 6 buah speaker yang tertata mengelilingi para penonton. Bunyi klik, denyut nadi, nafas dan detak serasa bermain di dimensi ruang, berpindah dan bersambut hidup dengan barisan tiup kayu yang disebar di sisi kiri dan kanan penonton. Dari tengah panggung, musik spektral harmonik tinggi dari seksi gesek mengisi ruang bersama dengan dentum perkusi dan seruan lantang dari orgel pipa yang berada di belakang, tepat di atas pintu utama gereja.

Sesekali tema utama variasi dari tema utama “Jupiter” yang dinamis dan “Orgelsimfonie” yang lembut bersambut. Fragmentasi tema ini pun seakan menjadi nostalgia yang berkisah dekat di antara bebunyian elektronik modern yang terkadang terasa jauh. Cahaya biru dan kuning pun perlahan mengisi langit-langit gereja, menandakan pagi yang perlahan datang disambut denyut dan degup berbunyi seirama seakan menjadi riff pembuka. Rangkaian harmoni sederhana kemudian lahir dari orkestra, lalu bersambut dengan kemegahan dari orgel pipa yang berderu dan bernyanyi lantang menutup karya ini dengan megah dengan cahaya keemasan bergerak dinamis mengisi seluruh gereja.

Jugendorchester schweis2Kesempatan untuk membawakan karya-karya sumber inspirasi di awal konser mampu menjadi titik terang bagi para pemirsa. Pun karya ini memang tergolong muda dan walaupun lahir dari konsep yang terjalin erat, sebenarnya memiliki bentuk yang tidak terlalu rumit. Pun Kesederhanaan ini membuat karya berdurasi sekitar 30 menit ini menjadi titik awal yang baik bagi orkestra remaja ini mengenal musik baru sekaligus menjadi musik baru yang mudah dicerna oleh pendengar di kota Lucerne, Swiss ini.

Lagi-lagi konser yang menarik dari bagian Lucerne Festival at Easter ini. Sebuah konser orkes remaja, dengan karya komponis muda dipimpin oleh konduktor muda, menjadikan festival ini penuh dengan kesegaran baru.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: