Kabar Terkini

Keindahan dalam Kematian


Junge Phil (2)Banyak orkestra pemuda bergerak di musik simfoni, tapi sedikit yang mencoba menjelajah pertunjukan musik kuno. Dan salah satu yang sedikit itu adalah Junge Philharmonie Zentralscweiz yang kemarin tampil di Jesuitenkirche, Lucerne di hari keempat Lucerne Festival at Easter 2015 ini.


Tampil dengan format orkes rokoko, orkes remaja ini menyajikan warna yang cemerlang dengan pendekatan yang nyaris otentik walaupun memainkan musik dengan alat-alat musik modern. Barisan gesek dalam format orkes kamar ditemani double kuartet tiup kayu, format yang cukup sederhana. Sebuah orgel berdiri di kanan panggung, dan harpsichord di tengah-tengah. Sang konduktor pun duduk di depan harpsichord bermain kontinuo memunggungi penonton, terkadang berdiri untuk mengaba paduan suara Akademiechor Luzern yang membawakan karya Carl Heinrich Graun “Der Tod Jesu” yang merupakan oratorio yang berkisah tentang kisah sengsara Yesus.

“Der Tod Jesu” adalah karya oratorio yang dibagi menjadi dua bagian besar dengan mengangkat teks dari Karl Wilhelm Ramler. Sebagai salah satu oratorio Paskah paling populer di abad 18, ia tidak mengambil kisah sengsara Yesus dan mengisahkannya kembali kisah kitab suci seperti oratorio dari J.S. Bach namun mengangkat sisi reflektif personal. Barisan paduan suara bahu membahu dengan empat orang solois dan orkestra menjelajah nomor-nomor chorale, resitatif, aria dan duet yang menjadi bangun dasar dari karya yang ditulis tahun 1755 ini.

Adalah konduktor Howard Arman yang memimpin barisan pemusik dan penyanyi malam itu. Sebagai konduktor yang menetap di Lucerne dan aktif sebagai direktur musik Luzerner Theater dan pemimpin musik Luzerner Simfonieorchester, Arman menunjukkan kefasihannya dalam menggarap orkestra yang diisi pemuda-pemuda berbakat dari Swiss Tengah ini. Pendekatan gayanya sungguh tepat dan cakap. Warna orkes pun terpengaruh warna galant yang kuat, yang adalah warna peralihan dari masa barok ke klasik. Musik pun mengalun indah dan berkarakter, dengan mempertahankan garis panjang melodi yang kuat namun tetap memiliki pulsasi ritmis musik barok. Orkestra pun tampil padu dan cemerlang, pun secara mengejutkan orkestra ini walaupun dengan alat modern mampu mengimitasi warna alat musik kuno yang lazim digunakan di abad 18.

Empat orang solois yang tampil juga memukau, terutama soprano Katharina Persicke dan Gabriella Bürgler yang tampil dengan temperamen yang kental namun cocok untuk karya ini. Duet “Feinde, die ihr mich betrübt” menjadi poin indah pagelaran semalam lewat interaksi musikal keduanya yang menawan hati. Suara keduanya seakan melayang-layang terjalin satu di langit-langit gereja. Di sisi lain Christopher Tonkin sebagai bass tampil dengan proyeksi yang mampu mengisi keseluruhan gedung gereja kuno dengan arsitektur barok ini. Namun perlunya perhatian pada diksi menjadikan teks yang diucapkannya kurang jelas di telinga pendengar. Begitu pula dengan tenor Nino Arelio Gmünder yang walaupun memiliki pendekatan yang dramatis, namun sayangnya suaranya kurang tepat untuk akustik gereja yang banjir gaung ini. Vibrasinya yang datang tepat setelah setiap nada kurang memiliki fondasi untuk menembus akustik gereja ini walaupun secara volume sangat bisa didengar oleh penonton. Akhirnya kejelasan teks yang menjadi korban.

IMG_6464Paduan suara Akademiechor Lucerne tampil impresif. Beranggotakan 40 orang penyanyi muda dari Sekolah Tinggi Lucerne (Hochschule Luzern), paduan suara mahasiswa ini demikian matang dari segi teknik vokal dan pendekatan musik. Kedisiplinannya dalam mengeksekusi karya dan mengikuti arahan konduktor menjadikan paduan suara yang dibentuk tahun 1954 ini mampu membawakan karya bersejarah ini dengan kualitas tinggi. Karakter galant dan secercah barok tercermin dalam fuga yang menutup bagian pertama karya berdurasi 100 menit ini. Intonasi yang bersih dan padat dan ekspresif menjadikan paduan suara ini tulang punggung dari penampilan semalam. Tidak mengherankan karena kemungkinan besar paduan suara ini juga diisi oleh mahasiswa musik dari sekolah tinggi ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Keindahan dalam Kematian

  1. thanks for sharing, Mike.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: