Kabar Terkini

Musica Aeterna: Rameau yang Membara


Musica Aeterna (2)Tidak pernah sebuah panggung gedung konser orkestra terlihat sebagai sebuah panggung teater. Panggung pun gelap dengan lampu standpart yang dimatikan. Sesaat kelompok kontinuo dengan viola da gamba, theorbo, gitar barok, flute dan biola, yang diterangi dengan lampu standpart masing-masing memainkan Pieces for clavecin and concerts yang tenang, perlahan lampu standpart di seluruh panggung menyala bersamaan dengan lampu panggung yang menyala lembut ketika La Cupis, sebuah karya untuk orkestra dimainkan, dan seketika musik memuncak menuju forte tutti, lampu panggung bersinar terang menyilaukan menyibak seluruh orkestra. Gedung konser KKL Luzern pun berubah menjadi sebuah panggung teater.

Tapi di atas semua itu memang penyajian musiklah yang menjadi faktor utama unsur teatrikal yang diketengahkan Rabu malam ini di pagelaran Lucerne Festival at Easter pertama tahun ini yang diadakan di dalam Konzertsaal yang memiliki kejernihan akustik yang luar biasa ini.

Hadir di atas panggung, orkestra barok-klasik yang baru saja menginjak usia 11 tahun tapi dengan prestasi yang luar biasa. Penampilannya yang enerjik menjadi kekayaan utama orkestra ini. Pendekatan permainan musik orkestra barok Prancis Jean-Philippe Rameau yang dramatis diramu dengan semangat Rusia – daerah asal orkestra ini – yang temperamental dan kukuh.

Pemain gesek biola dan biola alto mengambil posisi berdiri bersamaan dengan kelompok tiup kayu yang juga berdiri di bagian belakang. Empat buah fagot, dua rekoder, dua oboe. Di sela-sela kontinuo petik, gitar dan theorbo, dua pemain flute berdiri mengambil posisi sentral panggung. Barisan cello yang disandang di kaki (tanpa penyangga) duduk di kanan panggung bersama dengan rentetan doublebass. Sedang di kiri belakang dua orang pemain perkusi mengambil tempat.

Alhasil permainan yang enerjik mengisi setiap sudut panggung, terlebih dengan musik Rameau yang ditulis untuk kisah-kisah tragedie dan ballet-heroik. Sang konduktor pun bergerak seakan tidak habis tenaga, mengarahkan permainan musik. Tidak jarang ia terlihat menari sungguh bersama dengan musik yang dimainkan orkestra. Kakinya pun sesekali menghentak podium seirama dengan musik, sebuah hal yang tidak biasa untuk pagelaran orkestra modern tapi merupakan sebuah kelaziman di abad 17 dikarenakan dirigen di masa itu memang menghentakkan tongkatnya ke lantai seirama dengan musik.Musica Aeterna

Setiap pemain biola dan biola alto bergerak energik seakan menari bersama dengan musik dan konduktor dan bahkan sesekali juga ikut menghentakkan kaki bersamaan dengan sang konduktor, menambah semangat dari musik dan tarian yang ditulis abad 17 ini yang kaya dengan unsur perkusi seperti timpani, drum dan tamburin serta sesekali trompet natural untuk menambah warna kemeriahan.

Dengan musik yang begitu menghipnotis tidak heran seluruh orkestra seakan bergerak bersama dengan ayunan musik yang sedemikian kuat. Mereka yang berdiri leluasa berekspresi dengan permainan dan tubuh mereka, setiap mereka seakan mengambil peranan sebagai pemain-pemain solo yang independen dalam bermusik, namun herannya permainan ensembel mereka tetap terjaga dan solid.

Ekspresi kolektif mungkin jadi istilah yang tepat untuk permainan mereka ini, setiap bagian orkes pun berinteraksi dengan kompak dan fasih satu dengan yang lain. Kejernihan menjadi unsur utama, dengan semangat membara. Keindahanlah yang terpancar dari antara mereka. Sesekali orkes memainkan drone dengan biola satu senar dan bow yang diputar yang disebut hurdy-gurdy, lalu berpuncak pada permainan tutti/bersama orkes yang megah dan meriah.

Secara cerdas, momen-momen lagu cepat dalam konser, diikuti oleh momen-momen lambat dan terkadang karya-karya musik kamar sehingga tidak menjemukan. Ini tentunya adalah hasil buah karya sang konduktor yang sempat berjalan-jalan di atas panggung untuk mendengar seksi gesek bermain namun memikirkan konsep dengan jelas. Ini diperlukan karena di masa Rameau belum dikenal bentuk Simfoni yang berstruktur cepat-lambat-cepat terlebih yang ditampilkan malam ini adalah karya-karya yang berdiri secara independen.

Adalah konduktor Teodor Currentzis asal Yunani dan kelompok musiknya Musica Aeterna yang tampil semalam. Kelompok musik yang dibentuk konduktor muda ini di Rusia seusai studinya dengan paedagog dirigen legendaris Rusia Ilya Musin, telah memenangi Golden Mask of the Theatre Union of Rusia sedikitnya 17 kali, jumlah terbanyak dibanding orkestra opera manapun di negara itu. Debutnya di Lucerne malam ini bisa dikatakan sangat bersinar padahal berbeda dengan rencana program awal yang memasukkan karya J.S. Bach yang batal dikarenakan solois soprano yang harusnya hadir hari itu berhalangan karena terserang flu.

Orkes yang hidup ini bermain dengan cemerlang, dan sang konduktor walaupun apabila diliat dari kulit memang tergolong hiperaktif menari di atas pangung, namun secara istimewa konduktor dan direktur umum musik di opera Perm ini menunjukkan elemen musik dengan teliti dan tepat waktu. Orkes pun mau tidak mau terpengaruh dan bermain dengan sepenuh hati. Dengan spirit dan kecepatan permainan tinggi dan menawan hati, musik pun mencapai klimaksnya dan secara serentak seluruh pemain gesek melambungkan busurnya ke udara dan tepuk tangan meriah pun membanjir.

Tiga encore pun dipersembahkan untuk menjawab sorak-sorai penonton malam itu yang ekstatik dan berdiri di tempat duduknya untuk memberikan aplaus berkepanjangan. Sang konduktor pun akhirnya menggendong drum yang ada disebelahnya dan menabuhnya bersama iringan musik untuk memberi irama dan pulsasi yang mengarahkan kontras musik layaknya pemain kendang gamelan, sembari berjalan-jalan di sekeliling orkestra dan berinteraksi dengan pemain-pemain. Praktek yang mungkin tidak wajar di masa kini, namun wajar untuk musik Aix-en-Provence khas Prancis abad 16-17.

Pertunjukan yang luar biasa malam itu, dan memang Musica Aeterna menunjukkan kelasnya sebagai salah satu ensembel barok yang patut diwaspadai kini dan akan semakin mengukuhkan dirinya di kancah musik kuno dalam dekade-dekade ke depan.

Musica Aeterna (1)

Program hari ini dikarenakan banyak dan dirombak total

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: