Kabar Terkini

Aktualisasi Missa B minor Johann Sebastian Bach


Kali ini di KKL Lucerne, sekali lagi sebuah orkestra barok menampilkan makna yang mendalam dari sebuah karya monumental Johann Sebastian Bach, Missa B minor BWV 232 yang ditulisnya hingga akhir masa-masa produktifnya di tahun 1749. Bach sendiri di masa tua mengalami kebutaan yang memaksanya berhenti untuk menggubah karya dan pada akhirnya meninggal di tahun 1750.

Missa dalam B minor ini sendiri sebenarnya bukanlah suatu hal yang lumrah. Sebuah susunan missa tota dengan ordinarium lengkap berbahasa Latin ala ritus Katolik adalah sebuah hal yang sebenarnya sangat jauh dari pribadi seorang J.S. Bach yang adalah seorang Kristen Lutheran sejati. Motivasinya dalam menggubah karya ini pun masih menjadi perdebatan para ahli musikologi antara sebuah langkah karier yang diambil Bach ataukah sebuah bentuk aktualisasi diri. Karya ini pun tidak pernah ditampilkan secara utuh semasa Bach hidup, sehingga peruntukan komposisi ini menjadi tidak begitu jelas. Karya ini juga terentang selama dua jam pertunjukan dan adalah mustahil untuk ditampilkan dalam sebuah ibadah padahal komponis yang berkarier di Weimar, Köthen dan terakhir di Leipzig ini selalu dikenal dengan komposisinya yang pragmatis yang ditulis dan ditampilkan untuk keperluan/acara tertentu.

Dari segi bentuk sendiri komponis kelahiran Eisenach 1685 ini memecah ordinarium yang terdiri dari 5 bagian menjadi 27 bagian runut yang terpisah. Bach yang terpesona dengan numerologi diduga menggunakan rumusan 3x3x3 untuk menentukan banyaknya bagian yang dia harus susun. Dalam karya ini pun Bach tidak banyak menggunakan materi baru, melainkan melakukan daur ulang terhadap materi-materi lamanya dan ia kembangkan lebih lanjut, khas karya-karya Bach di masa tuanya. Namun banyak yang melihat bahwa karya ini menjadi salah satu magnum opus yang merupakan intisari karya-karya semasa hidupnya dan mengembangkannya lebih lanjut lagi. Choral, fuga, arioso, duet dan irama tarian terangkum dalam karya ini.

Dan malam ini tampil membawakan karya dalam segara kemewahan dan detail artistiknya adalah Monteverdi Choir dan English Baroque Soloists yang dipimpin langsung oleh sang pendiri sekaligus konduktor kawakan John Eliot Gardiner. Tiga puluh orang penyanyi bersama orkestra barok lengkap membawakan karya ini dengan sedemikian bertenaga seakan mewujudkan mimpi seorang J.S. Bach yang semasa hidupnya selalu kesulitan menemukan pemain dan penyanyi yang fasih untuk karya-karyanya yang kompleks namun indah.

Dan itulah persis yang dibawakan oleh Monteverdi Choir. Paduan suara yang dibentuk Gardiner tahun 1964 ini memang menjadi ahli dalam karya-karya barok, terlebih karya J.S. Bach. Tradisi paduan suara Inggris yang jernih, ringan dan bersih seketika berasimilasi dengan semangat dan bobot khas Jermanik yang diusung sang komponis. Alhasil, presisi dan kejernihan menjadi nilai tambah selain ketelitian mereka membangun musik dengan fokus dan sonoritas yang tidak bisa diragukan. Delapan orang solois dari paduan suara pun satu-per-satu maju dan bergantian membawakan nomor-nomor solo: sopranos Esther Brazil, Hannah Morrison,alto Katie Bray, tenors Peter Davoren, Nick Pritchard, and bass Alex Ashworth, David Shipley. Sementara perpaduan yang padat ini bergantian fungsi dari empat suara, enam suara, delapan suara hingga koor ganda sesuai penulisan Bach. Setiap diksi terucap dengan jelas dan bermakna, yang semakin menambah keistimewaan paduan suara ini.

Musik pun bergerak bebas dan luwes bersama dengan English Baroque Soloists yang adalah orkestra rekanan Monteverdi Choir. Permainan instrumen gesek dan tiup berkawan dengan iringan kontinuo harpsichord dan organ pipa positif. Flute pun duduk dibarisan depan bersama oboe dan biola 1.Sedang viola, cello dan biola 2 berada di belakang flute 1. Barisan terompet natural berdiri di belakang biola satu bersama dengan pemain timpani, solois horn natural yang bermain luar biasa malam itu pun duduk dengan manis disebelah organ positif. Orkes terdengar balans dan hidup serta memegang peranan pengiring yang mendukung ekspresi karya. Kemegahan komposisi Bach pun tersampaikan ke seluruh ruangan berkapasitas 1898 orang penonton ini.

Keajaiban interpretasi Bach ini tentunya tidak bisa lepas dari sosok konduktor Inggris yang memimpin konser malam itu Sir John Eliot Gardiner yang juga adalah pendiri dua kelompok musik yang tampil semalam. Selama setengah abad sosok ini telah membangun reputasi dan kecakapannya dalam sebagai konduktor ensembel kuno dan ahli garda terdepan dalam interpretasi karya komponis J.S. Bach dan komposisi barok-klasik. Secara ajaib konduktor yang semalam berbaju koko ala China ini mengolah dan mengawal seluruh ensembel melewati seluruh bagian Missa yang terbilang kompleks sembari terus membina garis panjang musik. Jeda diantara bagian-bagian karya terasa natural dan karya seakan melesat maju dengan keseimbangan bobot dan elegansi yang terjaga dan penuh vitalitas. Dan yang membuatnya semakin istimewa, John Eliot Gardiner memimpin karya yang sedemikian ini di luar kepala tanpa partitur, seakan musik sepanjang 2 jam ini sudah tercetak jelas di dalam ingatannya.

Alhasil hampir seluruh gedung berdiri meneriakkan bravo untuk penampilan Missa B minor ini. Dan dalam benak, hampir tidak bisa dipungkiri bahwa karya ini adalah aktualisasi diri seorang komponis besar dengan eksplorasi dan refleksi yang mendalam akan karier dan pencapaian dirinya, dan bukan sekedar karya pragmatis biasa. Dan penampilan Monteverdi Choir dan English Baroque Soloists sungguh membuktikan hal itu. Adalah kesempatan langka bisa menyaksikan sebuah ensembel dan konduktornya yang sudah identik dengan J.S Bach dan musik barok membawakan magnum opus ini, dan penonton malam itu pun bisa pulang dengan senyum menghiasi wajah mereka.

~penampilan mereka semalam di Lucerne adalah bagian dari tour mereka di Munich, Frankfurt, Lucerne, Aix-en-Provence, dan Paris di bulan Maret-April ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: