Kabar Terkini

Seruan Batin Orkestra Lewat Nada


SWR (2)Di tengah kemelut, musik bisa jadi menjadi pelipur lara bagi pendengarnya. Namun malam Jumat ini, musik menjadi media ekspresi dan pernyataan dari seluruh orkestra di KKL Luzern di Lucerne Festival at Easter ini.

SWR Simfonieorchester Baden-Baden und Freiburg yang berasal dari barat daya Jerman adalah sebuah orkestra radio yang dibina oleh radio pemerintah Südwestrundfunk. Dan memang hampir selama setahun ini, orkestra ini dalam keadaan terombang-ambing karena kesulitan modal. Keputusan perusahaan radio pun semakin bulat di Kamis kemarin untuk melakukan merger orkes Baden-Baden dan Freiburg ini dengan orkes tetangga serupa di Stuttgart. Kebijakan merger ini tentunya akan berpengaruh pada lapangan pekerjaan para pemain. Beberapa pemain mungkin terpaksa mundur karena alasan jarak, sedang yang lain mungkin akan dirumahkan.

Simfoni no.6 dari Gustav Mahler menjadi medium ekspresi dari seluruh orkestra. Nuansanya yang sendu berbuah pada nama sebutannya sebagai Simfoni “Tragis” walaupun Mahler sendiri tidak pernah menyebut simfoni ini dengan sebutan yang demikian. Karya inilah yang dipilih oleh SWR SO Baden-Baden und Freiburg untuk dimainkan dalam tur mereka ini yang disiarkan langsung oleh Südwestrundfunk dan Bayerischen Rundfunk.

Di bagian pertama dan kedua Simfoni, orkestra yang dipimpin oleh konduktor tamu  Ingo Metzmacher ini memang tampil seakan statis tanpa arah yang jelas, seakan berkubang di dalam keriuhan musik yang sedemikian deras. Interpretasi karya yang ditulis di penghujung romantisme ini seakan menjadi titik kulminasi ekspresi yang tiada berbatas dengan kesimpang-siuran di mata orkestra ini. Ekspresi pun selalu tertahan tanpa nafas yang lepas seakan musik hanya bergerak rapi tanpa ada koordinasi dan terjebak dalam kebingungan. Leitmotif/motif musik utama yang selalu muncul memang terdengar jelas di berbagai seksi, namun seakan berlalu begitu saja. Alhasil hanya ketegangan yang terasa di telinga pendengarnya. Scherzo yang menjadi bagian kedua pun seakan menjadi lelucon yang terlampau serius dan humor yang tertelan waktu. Empatpuluh menit dalam keputusasaan.

Namun pada bagian ketiga Andante moderato, seakan perlahan orkestra ini lepas dari belenggunya untuk menyanyi indah. Tiup kayu perlahan menembang indah, sedang gesek pada akhirnya berani untuk bernyanyi lirih. Di bagian lambat ini seakan setiap pemusik terlibat di dalamnya tergerak untuk berkisah dan berani berharap, sebagaimana di babak pertama konser Ingo memimpin SWR Vokalensemble Stuttgart menyanyikan tiga buah psalm untuk dua paduan suara acapella karya Felix Mendelssohn: “Psalm 2 Warum toben die Heiden”, “Psalm 43 Richte mich, Gott” dan “Psalm 22 Mein Gott, warum hast du mich verlassen” yang berkisah tentang kepedihan hidup dan harapan kepada Tuhan. Paduan suara ini pun tampil dengan tenaga 45 orang dan pendekatan yang berpegang pada tradisi vokal paduan suara Jerman yang kuat dan tegas. Karakter tergambar dengan kokoh di sini.SWR (1)Kekalutan yang terjadi di bagian pertama dan kedua perlahan sedikit terkuak lewat melodi indah yang mengalun sendu di bagian ketiga simfoni. Perlahan memang kekakuan itu cair dan berganti dengan rintihan dan seruan lantang dari orkestra, seruan akan nasib dan kebimbangan masa depan namun entah apakah tetap berani berharap atau tidak. Lonceng sapi yang menjadi bagian integral dari simfoni ini menjadi tonggak imajinasi padang rumput yang memberikan ketenangan dan kelegaan setelah muncul di bagian-bagian awal, mendapat peran sentral.

Di bagian keempat “Finale” yang menutup seluruh simfoni berdurasi satu setengah jam ini, kembali seakan takdir berputar, bergerak untuk melahap harapan dan nyanyian itu. Seluruh orkestra pun seakan berseru untuk mempertahankan agar harapan itu tetap hidup, namun di titik klimaks, pukulan palu kayu besar di atas panggung seakan memaku pintu-pintu harapan yang sempat terbuka di bagian ketiga simfoni. Suaranya yang keras membahana dan mengagetkan seluruh penonton yang memenuhi Konzertsaal malam itu. Orkestra pun kembali meraih momentum, namun untuk kedua kalinya palu itu berbunyi hingga hampir memadamkan semangat hidup. Dan untuk terakhir kalinya orkestra berseru hingga akhirnya lenyap dalam kehampaan.

Tepuk tangan membahana, namun di sisi lain bagi mereka yang menyadari kondisi orkestra ini, tepuk tangan ini bukan hanyalah untuk permainan mereka, tapi juga bentuk doa untuk para pemain yang terlibat dalam acara ini. Karya Mahler yang melibatkan sekitar 100 orang pemain orkes bisa jadi adalah kesempatan terakhir bagi pemusik ini untuk bermain bersama sebagai sebuah orkes lengkap.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kemudian, tepat setelah pagelaran ini, setelah pemain dan konduktor berdiri memberi hormat beberapa kali, ketika para pemain ini bubar dari panggung, tampak pemandangan yang jarang terlihat untuk sebuah orkes profesional di panggung. Banyak di antara mereka saling memberi selamat dan berpelukan satu dengan yang lain, seakan ini adalah pagelaran perpisahan mereka. Sebuah pemandangan yang menggerakkan hati dan memang pagelaran kemarin adalah sebuah seruan batin yang bergaung di hati.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Seruan Batin Orkestra Lewat Nada

  1. So sad. Saya sering nonton ini dulu. Orkes ini bagus sekali termasuk sekelas Berlin.

1 Trackback / Pingback

  1. Satu Nafas Terakhir Orkes Radio Stuttgart – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: