Kabar Terkini

Membentuk Orkestra Pemuda yang Inklusif


Asian Youth Orchestra

Adalah kisah yang menarik bagaimana beberapa tokoh musik di Indonesia membentuk sebuah orkestra pemuda dengan idealisme membentuk sebuah orkestra yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak muda-mudi calon musisi yang akan menghiasi wajah belantika musik Indonesia, khususnya musik klasik kita. Indonesian Youth Symphony Orchestra, begitu nama orkes ini disebut.

Sebagai sebuah inisiatif baru yang belum genap setahun, orkestra ini dibentuk di atas fondasi musik klasik lokal dengan wilayah pembibitan yang kuat, yakni Yogyakarta yang memang menjadi bengkel banyak musisi klasik. Orkes ini pun didukung banyak musisi lokal berpengaruh, Tommy Prabowo sebagai konduktor mentor, Michael Asmara sebagai pendiri(1),  dan bahkan musisi internasional dengan reputasi yang luar biasa seperti konduktor Kanako Abe yang bertugas sebagai Direktur Musik dan Fabio Luisi sebagai Penasehat Musik. Namun pertanyaan berikut yang harus dijawab adalah bagaimana membawa orkes ini berjalan maju untuk menjadi perwakilan Indonesia yang seutuhnya.

Dengan Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dan Institut Seni Musik, Yogyakarta memang menjadi magnet yang kuat dan tepat untuk membentuk cikal bakal orkestra pemuda ini. Bisa dikatakan tidak pernah habis suplai musisi berkualitas dari Kota Pelajar yang terletak di Selatan Jawa ini. Selain memang dibentuk di atas fundamental yang cukup kuat, kehidupan komunitas musik di Jogja juga unik dengan hasil yang baik untuk pembibitan musisi muda. Selain itu idealisme banyak tokoh seni di kota ini pun masih terjaga sehingga menjadi pendorong yang baik bagi banyak pemuda dan peserta didik. Kegiatan pun dapat berjalan dengan dukungan audiens yang tidak sedikit.

Di sisi lain, pertanyaan besar memang muncul yakni strategi apa yang sudah dikembangkan untuk melebarkan sayap orkestra ini ke depan untuk seluruh Indonesia. Harus dikatakan bahwa mimpi IYSO saat ini memang masih terbatas di areal Yogyakarta saja di tahun pertama ini. Open recruitment yang diadakan pun masih terbatas di Rumah Tembi Yogya yang diadakan satu hari. Pun tertulis di prasyarat yang harus diisi bahwa calon anggota harus bersedia mengikuti setiap kegiatan IYSO yang banyak berisi kegiatan rutin sebulan sekali yang dilakukan di Yogya.

National Youth Orchestra of Great Britain

Sepintas memang tampak bahwa IYSO saat ini masih sebatas mengharapkan insan yang berdomisili di Jogja saja yang bergabung dengan kelompok ini. Setelah penulis melakukan klarifikasi, memang didapati bahwa memang pendaftaran ini hanya untuk anggota inti dan IYSO akan membuka pendaftaran untuk anggota tambahan untuk konser utama di waktu mendatang di tengah tahun. Tapi memang tujuan itu kurang tergambar dengan baik dalam poster yang disampaikan ke khalayak ramai. Yang terjadi malah mungkin kesalahpahaman bahwa memang orkes ini hanya dikhususkan bagi musisi muda di Jawa Tengah, khususnya Jogja.

Betapa banyak orkestra lain di masa lalu dengan nama besar, belum berhasil dalam mewujudkan mimpi menjadi orkestra yang mewakili Indonesia khususnya generasi muda. Yang dahulu sempat terdengar dengan rentang sayap yang lumayan luas adalah NYOI (National Youth Orchestra Indonesia) yang digagas Musik Remaja Indonesia yang sejak tahun 2002 terdaftar sebagai anggota Jeunesses Musicales International. Namun agaknya walaupun merupakan konsep yang baik, tetapi orkes ini tidak mampu bertahan hidup lama dan akhirnya menghilang.

Adalah baik bagi IYSO untuk merambah dunia online untuk melakukan promosi. Tentunya jangkauan pemirsa pun untuk berbagai informasi pun menjadi lebih luas. Informasi yang disebar pun menjadi lebih inklusif karena memang terbuka untuk banyak pihak. Akan tetapi nama Indonesian Youth Symphony Orchestra adalah nama besar yang apabila sesuai dengan namanya haruslah mulai mencanangkan untuk meluaskan sayap ke daerah lain di luar wilayah Yogyakarta Hadiningrat.

Setelah proses diseminasi informasi yang menggunakan online yang murah dan terbuka, proses yang lebih luas pun bisa dilakukan untuk proses awal, yakni audisi penerimaan anggota. Penerimaan anggota bisa dikatakan sebagai proses paling awal dan sederhana, dikarenakan audisi dan wawancara calon anggota sebenarnya dapat dilakukan langsung di sebuah bilik kecil dan tidak perlu modal yang besar. Dan adalah baik apabila audisi ini bisa dilakukan di beberapa kota sekaligus di Indonesia yang dianggap representatif dan mampu menjaring lebih banyak peminat. Memang tidak bisa terlalu banyak kota, tapi 3-4 kota saat ini bisa menjadi opsi yang baik untuk memulai. Hal ini baik untuk dilakukan sedari awal sehingga keterwakilan Indonesia menjadi lebih luas.

Adalah baik apabila sedari awal diberikan klasifikasi yang jelas antara orkestra reguler yang tampil di setiap bulan di Jogja dengan orkestra festival yang mungkin tampil di konser utama setiap tahun dengan anggota yang terbuka untuk semua orang di mana saja. Klasifikasi ini menjadi penting untuk memberikan kejelasan bagi mereka yang berminat namun berhalangan untuk bisa mengikuti kegiatan rutin orkestra ini. Klasifikasi yang jelas ini pun juga membuka pintu keadilan bagi anggota maupun calon anggota.

Dengan visi konser utama yang berkualitas, tentunya keadilan dalam memilih personel yang terbuka dari dalam dan luar menjadi hal yang penting. Kesulitan tanpa klasifikasi ini adalah mungkin kursi terisi oleh mereka yang sudah jadi anggota “inti” yang menjadi bagian orketra reguler, sedang anggota non-inti untuk orkes festival terasa dinomorduakan. Dalam kurun waktu panjang, ini pun bisa menjadi penghalang IYSO menjadi kebanggaan para anggotanya di seluruh Indonesia. Apakah memang anggota riil IYSO adalah anggota “inti” ataukah termasuk mereka yang hanya bermain di konser utama tahunan, ini adalah tanya yang harus dijawab dan tentunya berkaitan dengan identitas kelompok musik. Proyeksi kelompok skala lokal atau nasional memang harus disiapkan dan dibahas sejak awal mula, untuk kejelasan keanggotaan.

Simon Bolivar Symphony Orchestra

Sebagai tolak ukur, kebanyakan orkestra pemuda nasional suatu negara umumnya berbentuk sebagai orkestra festival yang berlatih bersama dan mengadakan tur bersama untuk kurun waktu yang sangat pendek, sekitar 1-2 bulan. Contohnya adalah National Youth Orchestra of Great Britain, Asian Youth Orchestra, Australian Youth Orchestra, Lucerne Festival Orchestra dan banyak orkestra remaja lainnya. Simon Bolivar Symphony Orchestra dari Venezuela adalah kekecualian dengan bentuk yang lebih kepada orkestra reguler dengan kegiatan tur dan konser rutin, walaupun skalanya nasional.

Selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah tempat penampilan konser. Apabila memungkinkan, variasi tempat dalam penampilan memang harus dibangun sedari semula untuk mewujudkan kepemilikan luas dari orkestra ini. Sebuah orkestra dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap kehidupan kultural masyarakat terutama lewat pertunjukan musik. Merambah banyak tempat penampilan di berbagai kota baik untuk konser reguler maupun konser tahunan dapat diusahakan untuk membangun citra yang kuat.

Memang untuk membangun orkestra yang melakukan tur bukanlah hal mudah dan dana yang tidak sedikit. Pagelaran tidaklah perlu ekstravagan, yang penting dekat dengan penonton dari berbagai kalangan di beberapa tempat di Indonesia. Paling tidak, lebih banyak pihak yang mampu tersentuh oleh musik yang dipersembahkan oleh orkestra ini.

Asian Youth Orchestra yang mungkin bisa jadi salah satu contoh, setelah berusia 25 tahun hanya mampu mengadakan audisi di 11 kota, dan konser di 8 kota. Tidak ada satupun kota di itu yang berada di Indonesia. Indonesian Youth Symphony Orchestra belum genap satu tahun dan punya banyak kesempatan untuk menancapkan kaki sebagai orkestranya pemuda Indonesia. Dan kunci dari itu semua adalah membangun orkestra yang inklusif untuk Indonesia yang majemuk sesegera mungkin. Bukan pekerjaan rumah yang mudah, namun bagi Indonesia yang sudah lama merdeka, adalah suatu hal yang mendesak untuk segera dicanangkan.

=======
(1) RALAT: IYSO didirikan oleh Kanako Abe bekerja sama dengan Alfian Adytia. Atas kesalahan informasi, penulis mohon maaf. Tulisan tanggapan dari Alfian Emir Adytia selaku assistant music director dan co-founder bisa dilihat di sini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Membentuk Orkestra Pemuda yang Inklusif

  1. Markus Yuwono Herbayu // 15 Desember 2015 pukul 1:57 pm //

    Selamat Siang Pak Mike,
    Saya berkeinginan untuk mewujudkan sebuah kelompok Orkestra untuk peserta didik saya, tetapi rasanya itu masih jauh sekali karena tidak serta merta mengumpulkan 60 anak lalu memanggil konsultan (pelatih) untuk membentuk, karena saya sdh pernah coba dan tidak berhasil. Kira2 apa ya langkah2nya dengan target terbentuk 2 s/d 3 tahun kedepan. Kalau seandainya ada bolehkan dikirimkan ke alamat email saya : [email protected] atau [email protected]. Mohon pencerahannya.

    Salam,
    Markus Yuwono Herbayu

1 Trackback / Pingback

  1. Tulisan Tanggapan: IYSO dan Kronologis Sejarah Berdirinya | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: