Kabar Terkini

Tulisan Tanggapan: IYSO dan Kronologis Sejarah Berdirinya


Oleh Alfian Emir Adytia
~ sebuah tulisan tanggapan untuk tulisan Membentuk Orkestra Pemuda yang Inklusif (1/4)

IYSO1

Nama saya Alfian Emir Adytia. Saya tergabung di IYSO sebagai Assistant Music Director/Conductor dari Maestro Kanako Abe. Di IYSO, Kanako Abe berperan sebagai Music Director dan dijejerkan dengan Fabio Luisi sebagai Music Advisor. Fabio adalah seorang conductor yang sangat terkenal di dunia orkestra simfoni dan opera. Kami sangat beruntung, dapat dibantu oleh 2 guru besar tersebut.

IYSO berdiri sejak awal Juni 2014. Embrio ini usianya baru 9 bulan. Para penggagasnya adalah Kanako Abe beserta 3 pemuda yang sangat haus dan lapar akan bunyi symphony orchestra yang sesungguhnya –Williebordus Wintang Samoedra (double bass), Bagaskoro Byar Sumirat (oboe) dan saya sendiri. 4 orang inilah yang berbincang di sore hari, di pinggir sawah desa Tembi. Orang ke-5 yang kami ajak berbincang adalah Bapak N. Nuranto (pendiri dan owner Tembi Rumah Budaya). Orang ke-6 yang kami ajak bergabung dalam perbincangan, sekaligus sekarang tergabung sebagai Chief Operating Officer, adalah Amanda Sapta Putri.

Sebelum saya lanjutkan, saya akan flashback 1 tahun sebelum berdirinya IYSO. Pada April 2013, Kanako Abe datang ke Yogyakarta tanpa ada ikatan institusi. Beliau datang untuk membantu Orkes Mahasiswa ISI. Pada masa itu, periode 2012-2014, adalah periode kepemimpinan saya bersama tim di Orkes Mahasiswa ISI. Tanpa berpikir panjang, kami langsung “acc” kedatangan Kanako Abe. Kami sama sekali tidak mengenal beliau, dan juga sebaliknya. Pada waktu itu, kami menyusun repertoire Rossini, Grieg dan Dvorak. Proses latihan dan konser berjalan lancar dan pengalaman satu minggu saja bersama Kanako serasa tidak cukup. Setelah kepulangan Kanako ke Paris, saya gencar setiap hari mengirim pesan ke beliau yang pada intinya meminta beliau untuk datang sekali lagi tahun depan. Kanako setuju untuk sekali lagi datang pada tahun 2014 dan kami menyelenggarakan konser pada bulan Mei tahun lalu di 2 kota, Jogja dan Surabaya, dengan repertoire Glinka Overture “Ruslan and Ludmilla”, Elgar Cello Concerto dan Tchaikovsky Symphony No. 5.

Pasca tur konser ini adalah detik-detik munculnya ide terkait IYSO. Kanako ingin melanjutkan musical journey ini di Indonesia. Akhirnya, 4 orang ini setuju untuk mendirikan sebuah orkestra yang mandiri, merangkak dari minus (bukan nol). Kemudian Kanako pulang ke Paris dengan memberi sedikit wejangan untuk kami.

Bagas sekarang di berada di Singapura. Saya, Wintang dan Amanda melanjutkan misi dengan merekrut beberapa anggota inti untuk menjadi bagian dari orkes ini. Selama 6 bulan, bongkar pasang pun terjadi. Kami brainstorming untuk menentukan arah orkestra, visi misi, problematika apa yang perlu kita selesaikan, serta strategi apa yang perlu diimplementasikan untuk mengatasi berbagai hal. Pada bulan Oktober 2014, saya menemui Mas Gatot D. Sulistiyanto, Mas Erie Setiawan dan Iwang P. Lituhayu untuk join the forces. Kehadiran mereka di dalam tim sangat penting. Setelah 6 bulan berjalan, kami telah beranggotakan sekitar 30-an orang yang loyal dan sepakat untuk mendesain program bersama-sama selama 6 bulan ke depan.

  1. LATIHAN RUTIN
    Satu minggu, satu kali. Latihan rutin belum pernah ada sebelumnya di lingkungan institusi pendidikan musik. Di sini kami mempelajari repertoire orkestra sesuai dengan syllabus yang kami susun. Kami berproses perlahan-lahan. Target kami adalah membentuk ensembleship, habit disiplin dan juga konsistensi.
  2. YOUNG PEOPLE’S CONCERT
    Young People’s Concert (YPC) adalah program bulanan yang bertujuan untuk membangun sebuah tradisi symphony orchestra, dimulai terlebih dahulu dari kota Yogyakarta di bagian selatan. Pertunjukannya semi edukatif; kami mengadopsi konsep program ini dari Leonard Bernstein. Dengan bahasa dan topik yang lebih ringan, kami mempresentasikan ke publik yang hadir tentang apa saja yang ada di orkes simfoni. Apa itu principal? Apa fungsinya? Kenapa tiup harus lebih soft ketika membentuk block chords, yang mana di waktu yang bersamaan, string sedang melodi. Hal-hal kecil/sepele seperti ini yang belum pernah diekspos oleh institusi pendidikan musik manapun di Yogyakarta. Kami pikir ini adalah bentuk tanggungjawab kami sebagai musisi untuk memberi “service” pada publik, mendekatkan musik yang dianggap eksklusif ini kepada publik, memecah paradigma musik klasik yang dianggap bikin ngantuk/berat, sekaligus membangun audiens di masa depan. Alhamdulillah, YPC sudah terlaksana 3 kali dengan tema “Apa Itu Orkes Simfoni?”, “Beethoven dan Simfoninya”, dan “Apa itu Konserto?”. Target kami adalah mengembangkan soft skills musisi, salah satunya dengan latihan berbicara di depan publik.
  3. FORUM DISKUSI IYSO
    Forum ini didesain untuk melatih pemikiran para musisi IYSO. Anggota digilir untuk jadi pembicara dari topik yang mereka pilih masing-masing. Topik ini kemudian didiskusikan bersama antar musisi IYSO. Forum diadakan sekali setiap 2 minggu. Target kami adalah membudayakan kebiasaan membaca dan berpikir kritis.
  4. WORKSHOP
    Diharapkan untuk rutin diadakan sebanyak 2 kali per semester dengan mendatangkan musisi-musisi senior untuk memberi workshop kepada musisi IYSO. Workshop sudah berhasil diadakan di 6 bulan pertama, mendatangkan Indra Sakti (viola) dan Joost Flach (oboe) untuk memberi workshop kepada orkes. Target pengadaan workshop adalah widening the knowledge and skills of the students.
  5. ANNUAL MUSIC CAMP & CONCERT TOUR
    Program ini bisa kami simpulkan sebagai grand finale untuk setiap satu periode program IYSO. Program ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus mendatang. Besarnya skala program ini tentunya paralel dengan kebutuhan dukungan yang sangat besar sekali dari segala aspek. Di program ini, kami berencana untuk membuka audisi untuk musisi-musisi muda di luar kota Yogya untuk bergabung. Kanako akan datang sebagai conductor di program ini. Ini adalah konser besar pertama kami, maka dari itu, kami belum bisa mendatangkan tutor-tutor musik untuk setiap lini orkestra. Akan tetapi, harapan kami di masa depan adalah, program ini akan menjadi ajang yang sangat  penting dan berpengaruh bagi musisi muda di seluruh Indonesia. Ke depannya, program ini akan terbuka untuk semua anak muda Indonesia (ketika kami sudah menggodok matang segala persiapan dan konsep kami).

Orkestra ini masih berusia 9 bulan, dan masih berupa embrio. Saat ini, kami berpartner dengan Tembi Rumah Budaya dan Forum Musik Tembi untuk pengadaan kegiatan-kegiatan kami. Art Music Today dan Rekam Bergerak juga membantu kami di bidang publikasi, research dan dokumentasi. Saat ini kami belum memiliki sistem manajemen dan patronage yang matang seperti yang dimiliki AYO yang didukung oleh Hong Kong, Great Britain yang didukung oleh Ratu Elizabeth, dan Simon Bolivar yang disponsori oleh El Sistema. Anggota komite kami hanya ada 4 orang yang dibantu juga oleh beberapa pemain orkestra.

Bulan Maret lalu, kami baru membuka audisi untuk anggota inti. Yang kami cari dari musisi-musisi muda ini bukanlah sekedar high level of skills. Skill tentu diperlukan, tapi kami juga menilai dari segi pemikiran, motivasi dan komitmen pada tim. Orkestra adalah sebuat tim. Tidak ada individualisme di dalam orkestra. Permasalahan yang klise di Indonesia adalah, banyak individu-individu yang merasa hebat dan tidak butuh proses, yang berakibat pada tidak pernah terwujudnya pembentukan orkestra yang baik. Melalui proses audisi ini, kami yakin bahwa 14 orang yang lolos ini mempunyai kriteria-kriteria utama yang kami cari untuk mewujudkan orkestra yang kita idealkan selama ini. Kini anggota inti orkestra mencapai hampir 50 orang.

Gagasan tentang orkestra ini tidak hanya berhenti sebatas lingkup orkes simfoni. Orkes ini didirikan untuk membangun anak-anak muda Indonesia di masa depan yang cinta akan seni dan budaya. Indonesia masih dalam kesusahan di sektor lain, tidak bisa juga kita salah dan sesalkan mengapa negri ini tidak mensupport kesenian dan sesuatu yg berbau Youth. Saya tidak begitu suka menyalahkan Indonesia. Memang sudah nasib kita, hidup dari hasil aktifitas-aktifitas orang-orang terdahulu yang kurang berpikiran panjang. Namun, di IYSO saya punya keinginan pribadi bahwa satu saat, segala hal-hal kecil di dalamnya akan membantu negri ini. Entah dalam bentuk apa. Kemajuan ekosistem seni? Kemajuan peradaban seni? Kemajuan nilai-nilai kemanusiaan? Apapun itu, pastinya baru akan terlihat dalam jangka waktu yang sangat panjang. Ini misi bersama. Mari kita bangun negri ini ke arah yang lebih baik.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Membentuk Orkestra Pemuda yang Inklusif | A Musical Promenade
  2. Persembahan Suara Muda: Antara Asa dan Amor – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: