Kabar Terkini

Siapa Layak Disebut Maestro?


Beberapa waktu ini kembali terdengar perdebatan beberapa pihak mengenai pengenaan kata “Maestro”. Sepertinya kata sebutan ini sudah mendapat tempat yang spesial bahkan cenderung keramat di antara para seniman musik. Saking keramatnya kata ini, akhirnya terjadi perdebatan siapakah yang berhak menyandang predikat ini dan prasyarat seperti apa yang harus dipenuhi sebelum layak disebut sebagai maestro.

Memang di dalam kehidupan bangsa yang sibuk mencari dan bahkan menempelkan predikat pada orang lain ataupun pada diri sendiri, predikat “Maestro” seakan meninggikan derajat pribadi tersebut, menunjukkan bahwa pribadi tersebut memiliki pencapaian tertentu dalam kehidupan bermusiknya. Akhirnya banyak yang ingin segera menyebut diri “Maestro” ataupun menempelkan panggilan ini pada setiap orang untuk menyenangkan orang tersebut. Namun demikian tidak sedikit pula yang menolak panggilan macam ini.

Menurut kamus Bahasa Inggris Merriam-Webster, kata “maestro” berasal dari bahasa Latin Magister yang kemudian diserap dalam Bahasa Inggris sebagai “master” ataupun “maestro” dalam bahasa Italia di awal abad 18. “Maestro” sendiri pun dalam kamus ini diartikan sebagai “: a man who is an expert at writing, conducting, or teaching music; a master usually in an art; especially :  an eminent composer, conductor, or teacher of music.” Wikipedia sendiri mendefinisikannya sebagai panggilan hormat dalam konteks keilmuan dan keguruan.Maestro Maestro2Oxford Dictionaries online pun mendefinisikan sebagai berikut:

Maestro3

Pertanyaan selanjutnya memang lebih pelik. Apakah memang semudah ataupun sesulit itu untuk disebut sebagai “Maestro”?

Kembali pada makna maestro dalam wikipedia, ada setidaknya tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengidentifikasi peran kejuruan dari seorang maestro:

  • Keilmuan dan keahlian yang kuat
  • Sifat keguruan yang tercermin dalam perannya mengarahkan yang lain
  • Karya-karyanya yang sangat dihormati

Bagi Aditya Setiadi, seorang pengamat musik dan pianis di Jakarta, gelar “Maestro” haruslah disematkan oleh orang lain kepada pribadi tersebut. Tidaklah valid baginya apabila gelar tersebut diklaim oleh orang itu sendiri dengan menyebut diri maestro. Amir Sidharta sendiri seorang tokoh di bidang seni rupa sempat melontarkan pertanyaan, apakah seorang maestro juga harus diidentifikasi lewat karya-karya masterpiecenya yang diketahui orang.

Membahas pernyataan Amir Sidharta, memang harus dikatakan pernyataan yang sempat dibuatnya sangat kontroversial. Lewat pernyataan ini memang kita melihat apakah memang sebuah predikat “Maestro” hanya disematkan pada berdasarkan popularitas karya dari seniman tersebut. Tapi apabila kita simak lebih jauh, berdasarkan banyak definisi yang kita sebut, gelar “Maestro” tidaklah diidentifikasi berdasarkan popularitas. Apabila demikian, sebutan ini hanya akan disematkan pada seniman-seniman yang populer dan tidak ada tempat bagi seniman-seniman lain. Kita akan lebih memilih One Direction yang kemarin pertunjukannya dihadiri ribuan orang sebagai “maestro” dibandingkan dengan komponis macam Ludwig van Beethoven yang kini konsernya syukur-syukur dihadiri 1000 orang di Jakarta. Kesimpulan pun bisa ditarik bahwa menyematkan “Maestro” berdasarkan popularitas karya adalah sebuah omong kosong yang hanya sembari lalu.

Tidak bisa tidak bahwa seorang “Maestro” tercermin dari keahliannya dan pengetahuannya di satu bidang. Hanya mereka yang memiliki ilmu yang dirasa cukup yang dapat lolos dari salah satu kriteria untuk disebut maestro. Seakan tidak ada yang rela apabila predikat ini disandangkan kepada mereka yang tidak dapat berpikir jernih dan memiliki kecakapan tertentu. Namun pengetahuan dan kecakapan bukanlah faktor satu-satunya.

Maestro dalam akar katanya sebagai master, melambangkan perhambaan seorang murid dengan seorang guru. Di sini sifat keguruan yang berkualitas menjadi penentu yang esensial. Kemampuannya untuk menjadi suri tauladan bagi mereka yang dibimbingnya adalah penentu kunci apakah orang ini bisa disebut maestro. Tidak ayal bahwa semakin banyak murid berkualitas yang dibentuk dan diajar oleh seseorang, lebih besar kemungkinan orang tersebut disebut sebagai maestro dibandingkan yang hanya memiliki 1 orang.

Maestro dalam kapasitas seorang guru, memiliki arti yang lebih luas. Bahwa keberadaan pribadi tersebut haruslah berdampak bagi banyak kehidupan orang. Lewat teladan dan pengajarannya, banyak orang yang tercerahkan atau paling tidak memikirkan kembali makna hidup dan bidang tertentu. Maestro hanya disandangkan bagi mereka yang membentuk dan berdedikasi dalam memberikan dampak bagi banyak orang. Tanpa dampak, seniman bahkan mungkin bisa jadi dipertanyakan kembali kesenimanannya. Apalagi jika berhubungan dengan kemaestroannya.

Di sisi lain, bagi seniman dampak bagi banyak orang bukanlah cuma monopoli kegiatan ajar mengajar. Karya yang berkualitas pun memiliki potensi pesan yang kuat yang dapat menjadi sumber pemikiran yang terus digali. Inilah sebabnya karya-karya yang merupakan hasil pemikiran mendalam dihormati banyak orang, maestro pun juga berhubungan erat dengan kecakapan orang tersebut dalam membuat karya yang dihormati.

Bicara tentang dampak, kita memang harus melihat dampak seni dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Dampak yang hanya bagaikan riak air yang sebentar tenang itu tidak dapat dikualifikasikan sebagai dampak seorang maestro. Kedalaman menjadi salah satu elemen utama. Di sisi lain, dampak jugalah sebuah fenomena yang dirasakan orang lain dan bukan oleh diri sendiri. Maka sangatlah tidak masuk akal apabila seorang oknum merasa sangat berdampak bagi banyak orang, sedang orang-orang di sekitarnya tidak merasakan demikian. Pernyataan Aditya Setiadi pun akhirnya harus diiyakan kebenarannya, bahwa gelar maestro, sebagaimana dampak yang dihasilkannya, tidak bisa diklaim oleh orang itu sendiri namun hanya bisa disematkan oleh pribadi yang merasakan dampak keberadaan pribadi itu. Menyebut diri maestro adalah sebuah langkah yang bisa jadi bahan tertawaan.

Maestro bukan sekedar gelar kosong dan memang tidak sembarang disematkan. Nama ini juga bukan sekedar mainan. Memang tidak ada pembatasan tentang bagaimana dan siapa yang bisa dipanggil “Maestro” selama gelar itu disematkan oleh orang lain yang memang respek terhadap pribadi ini. Setiap orang bisa disebut maestro. Katakanlah seorang pembuat sepatu bisa saja dipanggil maestro oleh orang-orang sedesanya yang menghargai kerja dan karyanya.

Di ujung cerita, bukan seberapa banyak orang yang memandang pribadi ini sebagai maestro, tapi seperti apakah orang-orang yang rela memandang diri rendah dan menganggap diri sebagai murid dan mengagumi sosok sang “Maestro”. Kualitas dari murid-murid inilah yang akhirnya dapat menggambarkan kualitas diri sang “Maestro” dan taraf “Maestro” macam apakah yang disematkan padanya.

Sebagaimana sang pembuat sepatu di desa kecil itu, walaupun karyanya tidak banyak, nyatanya bukan hanya warga desanya yang memanggilnya maestro. Setelah melihat karyanya yang tidak kunjung berhenti dan terus berinovasi selama bertahun-tahun, atas dasar kekaguman dan hormat, seluruh pembuat sepatu di seantero negeri memandangnya sebagai seorang maestro.

~ “maestro” yang sama tapi terasa berbeda bukan?

====
PS: Amir Sidharta sudah menarik post statusnya ini dari lini masa
beberapa waktu lalu…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: