Kabar Terkini

Sudahkah Anda Menjadi Evangelist Musik?


~ tergerak oleh tulisan Guy Kawasaki di hbr.org

Evangelist memang seringkali identik dengan istilah dalam agama Kristen, namun dalam beberapa waktu terakhir diadopsi oleh banyak perusahaan teknologi informasi. Dan memang banyak dari peran evangelist ini dibentuk secara khusus oleh banyak perusahaan IT untuk menjadi ujung tombak dalam tim pemasaran mereka. Menurut Guy Kawasaki, Apple Macintosh adalah salah satu dari perusahaan yang mempopulerkan istilah ini di dunia IT di tahun 1990-an dan ia pun menjadi bagian dari sedikit tim yang dipercaya Steve Jobs sebagai Lead Evangelist di perusahaan tersebut.

Evangelist sendiri berakar dari Bahasa Yunani yang berasal dari kata “Eau” yang berarti “baik” dan “Angelis” yang berarti “pembawa berita”. Sehingga Evangelist sendiri secara akar kata bermakna “pembawa kabar baik”.

Di dunia IT, para evangelist ini memang dipercaya sebagai pembawa kabar baik. Mereka datang dan diutus kepada pelanggan maupun calon pelanggan untuk memberitakan kabar baik tentang teknologi yang mereka usung, melakukan syiar bahwa teknologi ini mereka percaya akan membawa dampak yang luar biasa dalam hidup penggunanya. Oleh karenanya mereka seakan tidak berhenti dan bersemangat dari satu kegiatan ke kegiatan lain, melakukan presentasi, diskusi dan terkadang secara langsung melakukan demonstrasi atas teknologi tersebut. Berpengalaman sebagai manager produk IT, penulis juga merasakan sendiri menjadi garda depan dalam membentuk opini dan kepercayaan akan teknologi yang penulis yakini secara penuh.

Jauh dari kesan berapi-api, kefasihan menjadi kunci utama dalam menceritakan dan berbagi selain tentunya keyakinan penuh akan berita yang disampaikan tersebut. Sayangnya hal tersebut masih jarang ditemui dalam dunia seni musik klasik di Indonesia.

You don’t just promote, you set example. -Guy Kawasaki

Mengingat musik klasik di Indonesia masih menjadi anak bawang dari dunia seni musik di Indonesia, secara riil kita membutuhkan banyak sekali pribadi-pribadi yang bukan hanya tergerak menjadi musisi namun juga menjadi evangelist dari musik tersebut. Mereka yang berkeliling untuk menjelaskan, dan berbagi kisah akan musik, bertukar pendapat dan kemudian membuat orang tergerak untuk mengapresiasi dan terlibat lebih jauh dalam dunia kreasi suara ini.

Dan sedihnya adalah banyak kalangan seniman sendiri yang mencibir pentingnya menjadi evangelist di bidang seni. Banyak yang terlalu sibuk berargumen bahwa peran evangelist ini malah mengecilkan peran musik yang secara magis mampu mengubah persepsi orang. Musik seakan menjadi panacea/obat serba mujarab yang mampu melawan ketidakacuhan publik akan musik itu sendiri. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa ini evangelisasi macam ini adalah gaya-gaya marketing saja yang tidak perlu digubris. Padahal kenyataannya, tanpa pasar yang membeli kreasi kita, musisi pun tidak bisa makan.

Walhasil banyak musisi yang hanya sibuk di studio maupun di ruang belajar untuk berlatih dan mempelajari intrikasi musik, tanpa mampu keluar dan menjadi corong yang layak untuk berbagi keindahan musik itu sendiri. Banyak di antara orang-orang ini seakan terhenti di sana, lalu lupa untuk mengembangkan kemampuan soft skill macam public speaking agar mampu menjadi evangelist yang dapat berbagi keajaiban musik bahkan bagi mereka yang belum pernah mendengarkan musik ini.

Penulis meyakini bahwa tidak ada yang lebih fasih untuk menjadi evangelist musik, selain para musisi sendiri yang setiap hari berkecimpung dalam jatuh bangunnya berproses dalam musik. Mereka pula yang meyakini secara penuh bahwa musik memiliki keampuhan yang telah menyokong mereka sebagai insan dan juga mereka yakini dapat menggerakkan hati para pendengarnya. Demikian juga dengan para guru musik yang setiap hari mengajar murid bermusik. Setiap mereka harus mampu membagikan suka cita musik itu minimal pada peserta didik, namun tidak terbatas di sana saja, bahkan orang tua murid dan masyarakat sekitar juga. Sungguh disayangkan apabila mereka yang sungguh percaya akan musik malah menjadi pribadi yang paling diam akan musik itu sendiri.

Peran evangelist ini sangat penting, untuk mengajak orang-orang untuk memiliki niat datang dan merasakan sendiri musik klasik itu. Mengajak teman, saudara adalah hal yang yang bisa dimulai sejak dini. Lalu kemudian berkembang lebih jauh untuk membuka diskusi yang lebih terbuka, menyentil keingintahuan. Pandangan bahwa musik akan bekerja sendiri adalah pandangan yang konyol. Niat untuk merasakan tidak akan muncul secara ajaib tanpa sentilan dari mereka yang rela berbagi pendapat dan mengajak mereka untuk mengecap sekali saja. Hanya segelintir orang beruntung yang menemukan piringan hitam musik klasik di pasar loak lalu kemudian berubah menyukai musik klasik karena keajaiban musik itu sendiri. Kebanyakan kita adalah mereka yang membutuhkan tokoh semacam Steve Jobs yang mampu mencerahkan calon penggemar musik untuk memiliki niat merasakan keajaiban musik itu.

Evangelism is not self-promotion. It’s about sharing the best of what you, your team, and your organization produce with others who can benefit. -Guy Kawasaki

Komponis Slamet Abdul Sjukur, kritikus Suka Hardjana adalah beberapa orang dari generasi terdahulu yang vokal dalam berbagi musik, bukan hanya di atas panggung tapi juga lewat ide tertulis maupun lisan. Evangelisasi ini kemudian banyak diteruskan oleh para pemusik selanjutnya, seperti Addie MS di media sosial, Teguh Sukaryo lewat forum Musik Klasik Indonesia, Erie Setiawan lewat Art Music Today dan bahkan Alfian Adytia lewat Kodaly Keliling. Cukup banyak juga guru-guru inspirasional yang mampu membuat awam menjadi pendukung setia musik klasik yang tidak bisa disebut satu persatu.

Pertanyaannya sekarang, apakah Anda menganggap diri Anda pecinta musik klasik? Sudahkah Anda menjadi pembawa kabar baik tentang musik klasik kita ke sekitar kita? Kalau belum, mari kita mulai sekarang menjadi Evangelist yang menginspirasi banyak orang.

~Untuk melihat bagaimana menjadi Evangelist, baca lebih lanjut tulisan Guy Kawasaki “The Art of Evangelism” di Harvard Business Review.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: