Kabar Terkini

Psikologi Musikologi Populer


Musikologi sebagai sebuah bidang ilmu sedang berjuang untuk membangun relevansinya di Indonesia saat ini. Sebagai sebuah bidang ilmu yang dibangun di atas fondasi keilmuan musik, sejarah, antropologi, sosiologi, dan psikologi bidang ilmu ini acapkali harus menjadi bidang yang tanggap terhadap fenomena di sekitarnya. Pertanyaan berikutnya adalah akankah musikologi menjadi bidang yang populer?

Pertanyaan ini sesungguhnya adalah pertanyaan yang bisa jadi hanyalah ungkapan angan belaka. Mungkin perlahan kita bisa berkaca dari kebangkitan psikologi populer.

Seratus tahun terakhir adalah tahun yang berkembang pesat untuk kedua bidang ilmu, baik musikologi maupun psikologi. Berangkat dari perspektif Pencerahan dan Romantisme yang berkembang di abad 18-19, keduanya lahir untuk menggali misteri hubungan fenomena dan rasa. Abad 20 adalah abad kebangkitan psikologi populer, sebuah gerakan yang meminjam psikologi sebagai kendaraan dalam menganalisa suatu fenomena. Analisa-analisa fenomena menjadi banyak bersentuhan dengan sisi psikologis manusia, pun banyak bertebaran buku-buku metode self-help yang meminjam kepakaran psikologi untuk proses perbaikan diri.

Walaupun tidak sepenuhnya akurat secara keilmuan, psikologi populer telah membantu bangkitnya minat masyarakat dalam budaya pop untuk mencerna apa itu psikologi dan bagaimana ia mempengaruhi perilaku orang-orang. Banyak orang tertarik untuk membeli dan merasa terbantu dengan banyak saran-saran berbau psikologis dari buku-buku self-help tersebut, walaupun buku itu bisa jadi bukan ditulis oleh seorang psikolog ataupun ahli psikologi.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah musikologi juga perlu berangkat dari musikologi populer supaya juga jadi tidak kalah populer? Bisa jadi ini diperlukan untuk mengasah pembaca dan juga penulis akan ketajaman menelaah fenomena musik yang terjadi di sekitar.

Hingga saat ini buku berbahasa Indonesia yang banyak beredar di toko buku kita mengenai musik pun memang banyak berorientasi pada self-help: Bagaimana bermain gitar dalam 1 minggu, buku-buku chord musik pop dan sejenisnya. Banyak buku memang berorientasi praktis namun sayangnya sedikit sekali yang beroritasi analisa maupun berkisah tentang histografi. Bahkan buku untuk band-band populer ataupun persona dalam dunia musik selama 3 dekade terakhir saja tidak banyak ditulis. Mungkin kita harus bergerak dulu di bidang ini untuk setidaknya membuka wawasan tentang efek dari pengetahuan dan ilmu yang mungkin dapat memperkaya pengalaman mendengarkan musik.

Seberapa banyak kita melihat buku-buku sejarah band internasional macam KISS, Beatles dan persona macam Michael Jackson mengisi rack toko buku internasional macam Kinokuniya, Times, Periplus dan lainnya? Banyak. Seberapa banyak kita melihat buku mengupas Harvey Malaiholo, Slank, Sheila on 7 hadir di toko buku kita? Tidak banyak. Padahal kita punya beberapa majalah musik pop yang cukup terpercaya, walaupun memang banyak didominasi brand luar negeri.

Ranah populer macam ini pun bisa dengan sangat mudah dimasuki oleh para pakar musikologi kita, jika mereka awas. Meskipun juga kepakaran kita masih sangat jarang. Tentunya akan sangat menarik apabila kita memiliki pakar bidang pop melayu yang berkembang saat ini, pakar perkembangan dangdut dekade 80-an dengan Soneta dan Rhoma Irama di garda depan, ataupun pakar fenomena festival jazz yang membanjir dan terus dapat bertahan dari waktu ke waktu. Akademisi pun memiliki ruang gerak yang lebih luas.

Keilmuan musikologi sangat penting, tapi sejujurnya tanpa dibuka jalan oleh musikologi populer sepertinya akan susah bagi dunia musikologi untuk melakukan penetrasi akan pentingnya keilmuan musik dalam spektrum yang lebih luas. Menulis buku musikologi populer tidak harus ilmuwan/musikolog, keingintahuan dan bagaimana pengemasan agar yang membaca terbantu untuk dapat lebih menikmati musiknya sudah lebih dari cukup.

Di balik musikologi populer yang giat, mungkin baru dapat kita lihat keilmuan musikologi bergeliat.

 

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Psikologi Musikologi Populer

  1. andreasarianto // 13 Juni 2015 pukul 8:12 am //

    Reblogged this on Andreas Arianto's Blog and commented:
    Ternyata Indonesia masih memerlukan begitu banyak penulis, termasuk penulis musik dalam genre apapun yang mengulas tokoh-tokoh musik nasionalnya sendiri. Silakan simak tulisan cermat mengenai hal ini dari teman gue, Mike B. M.

  2. Terimakasih infonya sangat bermanfaat

1 Trackback / Pingback

  1. Peran Cendekiawan dalam Musik dan Budaya | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: