Kabar Terkini

Inspirasi Indonesia Dalam Cello dan Piano


photo 1Erasmus Huis Jakarta semalam menjadi ranah penampilan perdana dua komposisi Indonesia. Pun hampir 85% dari konser ini didedikasikan untuk karya-karya baru yang ditulis oleh komponis-komponis abad 21 yang hingga kini masih terus aktif berkarya. Ya, konser yang istimewa sebab mengetengahkan karya musik yang berusia maksimal tiga tahun. Ini adalah konser yang memperkenan kita melongok sedikit dalam dunia komposisi musik klasik terkini.

Resital ini dibuka oleh karya komponis kelahiran 1980, Gatot Danar Sulistiyanto dengan judul “Ilalang (Imperata cylindrica)” yang terinspirasi dari gerakan-gerakan rumput ilalang yang berdiri tinggi melambai. Komposisi ini terbagi menjadi 4 subbagian yang masing-masing mengeksplorasi dunia bunyi piano dan cello. Franz van Ruth berdiri membungkuk di depan piano, menggelesir dawai grand piano yang dimainkan seakan meniru semburat angin yang menggoyang ilalang, sesekali mengetuknya. Rangka piano pun tidak luput dari pukulan tangannya. Piano pun berdengung ragu ketika dawainya bergetar tersentuh karet penghapus yang berjatuhan diatasnya. Cello yang dimainkan Doris Hochscheid bergeletuk terpetik diselingi nada-nada panjang berdecit tinggi, dan sesekali dihias warna pentatonik dalam modulasi yang tidak berbatas seakan terus bergerak. Gatot sendiri mengungkapkan karya yang dimainkan perdana di depan umum ini merupakan eksplorasinya terhadap ritme.

“Kan Dhang an” karya komponis Iwan Gunawan yang juga adalah penggerak ensembel Gamelan Kyai Fatahillah, mengambil inspirasi musiknya dari kendang Pasundan yang bertenaga dan gegap lalu menerjemahkannya pada piano dan cello. Laras pentatonis menghiasi karya ini berjalin dengan melodi yang lirih pada cello, sebelum permainan ritme kendang berhias di piano dan cello yang dipetik menirukan permainan kendang. Nada kendang yang naik yang kental dalam gamelan Sunda juga dimainkan lewat glissando cello lalu kemudian cello dan piano berbalas dalam satu suara yang jernih. Strukturnya yang kuat menjadikan karya ini menarik untuk disimak. photo 2Babak pertama kemudian ditutup dengan permainan duet cello piano asal Kerajaan Belanda ini dengan karya yang lahir dari tangan komponis Belanda abad 19 Alexander Batta. Mengambil tema-tema dari komposisi opera Italia yang ditulis Giuseppe Verdi, Alexander Batta meramu lagu-lagu dari opera Il Trovatore menjadi sebuah Fantasia yang apik menggoda telinga lewat melodi-melodi manis opera Italia yang hangat. Piano dan cello seakan kembali kepada kebiasaan lamanya memainkan nada-nada nyanyian dengan cello sebagai instrumen melodis yang berpadu dengan iringan dari piano. Frans van Ruth sendiri mengisahkan bahwa jenis gubahan fantasia macam ini sangatlah populer di masa itu. Petikan-petikan opera yang populer kemudian digabung ala “mash-up” dan diaransemen untuk alat musik rumahan. Namun sayangnya gubahan macam ini kini sudah banyak terlupakan dari khasanah musik klasik.

Babak kedua, van Ruth dan Hoschscheid bekerja sama dengan komponis dan juga presenter Gema Swaratyagita sebagai narator. Enam buah karya musik baru untuk cello dan piano dituliskan tahun 2012 dan direkatkan dalam sebuah narasi tentang kisah Sang Kantjil dalam “Kantjil’s Birthday”. Kisah Kantjil yang berlomba lari dengan sang Raja Siput yang menginspirasi Doris Hochscheid untuk membuat sebuah lapisan presentasi atas enam buah karya musik baru ini. Gema menceritakan dengan penuh semangat, sembari sesekali melirik ke arah kertas naskah duduk di sisi kiri panggung, sedang Hochscheid dan van Ruth lantas menjawab kisah dengan alunan musik piano dan cello.

Enam karya dari komponis Belanda yang pernah bersentuhan dengan Indonesia seakan mengangkat kisah anak-anak yang ternama ini naik dan turun, walaupun sebenarnya ditulis secara terpisah tanpa terpaut dengan kisah ini secara erat dengan kesederhanaan musik baru yang bisa dimainkan anak-anak. “Bihaq” karya Sinta Wulur yang terinspirasi dari melodi bihaq India dan ritme gamelan menjadi karya pembuka manis bagi karya Roderik de Man “Annotatione Eventuali” yang mengisahkan tanda tanya. “Santai” kembali membuai penonton dalam kisah yang sejuk. “3 Fratsen” karya Guus Janssen seakan memelintir pendengarnya secara kocak, lewat lompatan nada yang bersahutan. Karya Mathias Kadar “Deux petites histoires: Bel ami & Arrivé” bernyanyi cantik sebelum ditutup dengan rancak dengan karya Joey Reukens “Ritje (Little Ride)” yang asik, tergesa untuk menutup konser ini.

Permainan duet ini begitu padu, dalam nafas dan nada. Musik pun terasa ekspresif walaupun di beberapa tempat penulis mengharapkan keleluasaan yang lebih seperti terasa pada register tinggi yang dimainkan oleh Hochscheid yang bisa lebih terang menyala untuk merespon nada-nada tengah cello yang tambun. Entah sebuah kebetulan atau tidak, banyak karya-karya yang dimainkannya membutuhkan ekspresi warna register atas yang kaya yang tidak selalu dapat tercipta.

Namun demikian sajian semalam adalah sajian yang unik. Tidak acap kali, publik bisa melihat suguhan musik baru Indonesia dan terinspirasi dari kekayaan Indonesia dalam sebuah resital baku, termasuk resital piano dan cello seperti semalam, sebuah sajian yang asik yang menjadi rangkaian dalam Yogyakarta Chamber Music Festival 2015 yang dibawa ke beberapa kota di Indonesia.

photo 3

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: