Kabar Terkini

5 Langkah Untuk Seni Kampus Berorientasi Komunitas


Banyaknya institusi pendidikan berdiri di Jakarta dan banyak yang sebenarnya merambah ke dunia seni pertunjukan, baik dari yang bersifat akademis intrakurikuler maupun yang bersifat ekstrakurikuler. Banyak yang sudah menjalankan fungsi utamanya, entah sebagai bagian dari kegiatan akademis, maupun sebagai medium minat dan bakat peserta didik.

Pertanyaan yang harus diajukan berikutnya adalah apakah kegiatan ini menjadi modal utama perkembangan seni pertunjukan bagi lingkungan sekitar kampus? Di kota seperti Jakarta, seakan banyak kegiatan seni kampus menjadi konsumsi seluruh ibukota, padahal sebelum meluas kegiatan seni hendaknya memberdaya lingkungan intra dan ekstra kampus terutama di periferinya. 

Berikut adalah langkah dasar yang dapat kita lakukan untuk melangkah ke sana:

  1. Pertunjukan seni kampus terbuka bagi komunitas sekitar
    Langkah ini bisa terbilang sederhana, namun nyatanya sulit untuk diwujudkan dengan konkrit. Pertunjukan teater mahasiswa di kampus seringkali tidak terdengar oleh komunitas-komunitas di sekitar kampus. Seringkali yang menyaksikan malah orang luar kampus yang berjauhan dari lokasi kampus. Publikasi pun nampak tidak gencar untuk lingkungan di sekitar kampus untuk menjaring pemirsa dari lingkungan sekitar kampus.

    Sebuah survey kecil-kecilan bisa dilakukan dalam sebuah kegiatan katakan konser, seberapa banyak penonton yang sungguh berasal dari lingkungan 1 kelurahan atau 1 kecamatan tempat di mana kampus itu berada, untuk melihat langsung apakah pertunjukan tersebut terdengar oleh komunitas sekitar di luar civitas academica.

  2. Kegiatan seni bersama komunitas
    Selama ini kegiatan seni kampus memang banyak bersentral pada mahasiswa, ataupun peserta didik di lingkungan sekolah seni pertunjukan. Tidak banyak kegiatan seni yang dibidani kampus berwujud pada kegiatan komunal bagi warga di sekitar kampus. Ambillah contoh kegiatan organisasi pecinta seni lukis kampus seringkali hanya berhenti di kalangan mahasiswa saja, padahal klub semacam ini adalah organisasi yang bisa terbuka bagi pecinta seni lukis di sekitar kampus untuk ikut serta dalam kegiatan mingguan bersama seperti sesi studio bersama.

    Kegiatan semacam ini juga bisa menjadi sentra kegiatan seni di sekitarnya dan bersifat terbuka bagi warga di lingkungan sekitar kampus dengan iuran keanggotaan yang bisa dibebankan kepada warga yang ingin ikut tersebut. Klub pecinta fotografi kampus bukan hanya beranggotakan mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum di sekitar kampus yang juga memiliki hobi yang sama. Kegiatan hunting bisa dilakukan bersama. Alhasil bukan hanya komunitas luar kampus yang terbekali, tapi juga mahasiswa sendiri karena belajar dari para senior-senior ekstrakampus yang mungkin memiliki pengalaman yang bisa dibagikan bagi anggota intrakampus. Hal yang sama juga berlaku untuk kegiatan lain seperti seminar, lokakarya dan kegiatan lainnya.

  3. Membangun sentra seni
    Jujur saja, peran sentra seni saat ini di kota seperti Jakarta lebih banyak dikelola oleh pihak swasta dibandingkan pemerintah. Dan organisasi seperti ini tidaklah banyak. Salah satu inisiatif yang berhasil bisa kita lihat bagaimana Komunitas Salihara menjadi pemberdaya lingkungan di kisaran Pasar Minggu dan Pejaten. Berawal dari Komunitas Utan Kayu di Jakarta Timur, lalu kemudian berpindah ke Jl. Salihara Jakarta Selatan tujuh tahun lalu, komunitas ini secara nyata bukan hanya memboyong komunitas mereka dari Utan Kayu tapi juga membangun akar di Jakarta Selatan, sebuah proses yang menarik.

    Peran sentra seni ini sekarang bukan hanya bisa dibidani organisasi seni namun juga oleh lingkungan kampus. Banyak kampus-kampus kita berada di lingkungan yang tidak terjangkau oleh sentra seni pemerintah maupun swasta, dan ini adalah potensi sekaligus tanggung jawab lingkungan kampus untuk membangun seni di wilayah tersebut.

    Fasilitas kampus pun bisa dibuka untuk tujuan sentra seni semacam ini. Katakan membuka salah satu auditorium untuk tempat berlatih bersama komunitas tari di lingkungan sekitar kampus. Penyewaan juga dapat diberlakukan apabila kampus membutuhkan kontribusi komunitas untuk perawatan fasilitas.
    Apabila kampus mampu membuka fasilitas khusus untuk seni alangkah lebih baik lagi. Universitas Indonesia pernah merencanakan membangun Art Center untuk kampus dan lingkungan sekitar Depok, namun hampir 3 tahun ini proses pembangunan tertunda padahal Depok sebagai kota dan wilayah pemukiman yang tumbuh pesat membutuhkan sentra seni ini. Sungguh sayang.

    The Howard Performing Arts Center, Andrews University Michigan

  4. Mendirikan organisasi pengelola
    Apabila gambar besar sudah terbentuk dan kegiatan sudah merambah ke komunitas sekitar kampus, memang kegiatan seni ini tidak bisa mengandalkan organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa yang dikelola oleh mahasiswa, karena memang bukanlah tempat yang tepat bagi mahasiswa yang belajar berorganisasi bereksperimentasi dengan sentra seni ini. Pun seperti kebanyakan organisasi kemahasiswaan, kepengurusan berganti setiap tahun sehingga sulit untuk membangun kesinambungan dari kegiatan seni komunal yang memang membutuhkan waktu panjang untuk dipupuk dan dirawat.

    Pihak kampus pun pada akhirnya untuk memastikan kegiatan ini berjalan dengan lancar membutuhkan manajemen purnawaktu yang terdiri dari para profesional. Manajemen ini bisa berdiri di bawah Divisi Kemasyarakatan kampus ataupun apabila berbentuk manajemen fasilitas, dapat berdiri secara terpisah ataupun dibawah kendali Divisi Operasional. Dengan demikian organisasi seni mahasiswa dapat lebih berfokus pada pengembangan kemahasiswaan, sedang tanggung jawab kampus dalam seni dan budaya kemasyarakatan dapat dibina secara profesional berkesinambungan dan mandiri.

  5. Menjaga kesinambungan program
    Keberadaan sentra seni dan pengelolaan dapat berjalan beriringan. Penggunaan fasilitas kampus menjadi lebih terarah dan semua pihak dapat merasakan manfaatnya. Dewan Kuratorial dapat dibentuk oleh tim dan diangkat untuk mengawasi arahan artistik dan kuratorial organisasi. Dewan ini bisa dibentuk dari internal kampus maupun oleh ahli-ahli di bidangnya. Program pun bisa dibuka kepada umum dan meluaskan jaringan lebih luas lagi.

    Dengan strategi program yang cerdas dan kaya pada akhirnya akan memperkaya kehidupan seni budaya dalam kampus dan institusi pendidikan dan akan dituai kembali oleh peserta didik. Pun statur kampus akan semakin kuat dan kontribusinya semakin nyata bagi masyarakat.

    Yale School of Drama Theatre

Jika banyak universitas yang memiliki sekolah kedokteran membuka rumah sakit, bahkan dengan spesialisasi seperti Rumah Sakit Gigi dan Mulut untuk kedokteran gigi, tempat dosen dan profesional berpraktek bersama para ko-asisten, mengapa dalam seni tidak bisa dibangun hal serupa? Banyak rumah sakit universitas itu malah menjadi rujukan dan rumah sakit handal di lingkungan sekitarnya, seharusnya juga demikian dengan kegiatan seni dan sentra seni pertunjukan kampus dan semua harus dimulai dari sebuah visi.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: