Kabar Terkini

Konser Gratis Mendidik atau Membodohi?


Konser gratis selalu penuh. Selama beberapa tahun terakhir, fenomena konser gratis yang sesak selalu dapat kita saksikan. Namun banyak konser berbayar malahan sepi. Pertanyaan berikutnya adalah sungguhkah konser gratis itu mendidik masyarakat dengan tepat?

Sebuah problematika yang saat ini kita lihat adalah fenomena di mana nampak kepedulian yang kecil pada seni. Ketika ingin menonton pertunjukan musik terutama musik klasik dan harus bayar sepertinya cukup memberatkan bagi tidak sedikit orang. Pergelaran musik klasik yang terbilang tiketnya murah dibandingkan banyak pertunjukan musik populer seringkali dianggap tidak ekonomis, apalagi jika dibandingkan dengan konser serupa yang tidak berbayar di banyak pusat-pusat kebudayaan.

Bagi banyak pusat kebudayaan, sebuah pergelaran gratis tentunya menjadi langkah mereka untuk memenuhi tanggung jawab sebagai duta kesenian. Banyak pusat kebudayaan asing pun juga mengambil peran ini dan mendatangkan seniman-seniman mereka untuk memberi pertunjukan di sini dan tiket masuk diberikan secara cuma-cuma bagi para pengunjung yang berminat. Tidak sedikit dari mereka yang mungkin pertama kali mencoba untuk menyaksikan pertunjukan semacam ini dan terkesan dengan pertunjukan murah meriah ini.

Di sisi lain, konser gratis tidak mendidik penonton untuk menghargai seni lebih lanjut. Istilah ada uang ada barang juga seringkali tidak berlaku di dunia ini. Dikarenakan banyak seniman yang didatangkan adalah kaliber yang cukup baik, pertunjukan murah meriah ini sungguh meriah. Lain lagi dengan sejumlah pertunjukan yang digagas lokal yang seringkali tidak tergarap dengan maksimal walaupun sudah menarik uang tiket masuk. Alhasil azaz value for money dari tiket yang dibeli bisa jadi tidak dirasakan oleh penonton yang sudah menginvestasikan sejumlah kapital untuk tiket tersebut.

Pertunjukan gratis lepasan tidak mendukung perkembangan seni secara berkelanjutan. Pun kesediaan penonton untuk paling tidak mau untuk membayar untuk hadir dalam pertunjukan serupa tidak dipupuk. Permasalahan ini menjadi mayor juga dikarenakan banyak pertunjukan musik klasik yang digagas oleh banyak penyelenggara bersifat lepasan. Semacam istilah “hit and run”, setelah mengadakan pertunjukan sekali, ya tidak ada kelanjutannya sama sekali dan hilang. Demikian tidak ada strategi pemasaran yang dapat dijustifikasi dengan baik untuk mendorong penonton membeli dan mau menginvestasikan kembali uang selain memang pengalaman penonton itu sendiri yang berkesan.

Di satu sisi akhirnya semua hanya berlomba-lomba membuat pertunjukan yang berkesan tanpa memikirkan kelanjutan dari pengalaman menonton tersebut. Mereka yang menonton sekali pertunjukan gratis pun tidak tentu tertarik untuk menonton kedua atau ketiga kalinya terlebih apabila pertunjukannya berbayar.

Yang terjadi saat ini adalah fenomena konser gratis yang bukannya mencerdaskan melainkan membodohi. Budaya bahwa seni itu merupakan sebuah investasi baik dari sisi penonton tidak berhasil dibangun hanya dengan membagikan tiket pertunjukan gratis. Pun apresiasi masyarakat pada hal yang gratis seringkali rendah. Sama seperti ketika kita dibagikan penganan gratis di jalan, seringkali kita hanya mencicip lalu kemudian tidak tentu dimakan lagi dan langsung dibuang.

Kesadaran untuk mau berinvestasi demi seni harus dibangun perlahan dan untuk membuka jalan itu salah satunya adalah bentuk insentif secara bertahap yang bisa diberikan pada para penonton yang setia dan pelanggan tetap. Juga insentif bagi mereka yang baru saja bergabung.

Apabila penyelenggaraan konser bisa dilakukan secara berkesinambungan:

Terinspirasi dari kartu keanggotaan restoran:
Pelanggan bisa saja ditawari kartu keanggotaan yang berlaku untuk mendapatkan potongan harga ketika menonton semua konser. Bonus kue ulang tahun apabila merayakan ulangtahun di restoran bisa digantikan dengan pemberian gimmick bagi penonton anggota pada event-event khusus. Kemudahan dan prioritas dalam mereservasi tiket juga bahkan bisa menjadi kemudahan yang bisa ditawarkan.

Terinspirasi dari penawaran kartu kredit:
Katakan setahun 6 kali dengan 1 buah konser gratis, kita bisa mulai untuk penonton yang ingin merasakan pengalaman menonton konser dengan konser gratis. Untuk kali kedua, mereka yang kembali menonton berhak untuk mendapatkan penawaran diskon sebesar 40% dari harga tiket untuk seluruh kelas. Diskon ini pun kemudian tetap berlaku untuk pembelian ketiga dan keempat dengan persentase diskon yang menurun (katakan 15%). *syarat dan ketentuan berlaku

Kartu kredit untuk konsep belanja dan makan restoran saja bisa memberlakukan demikian, kenapa tidak dicoba untuk seni? Paling tidak memang harus ada benefit yang dialami oleh pelanggan baru maupun pelanggan lama yang setia.

Konser gratis tidak selamanya mencerdaskan, sisanya tergantung bagaimana penyelenggara menyiasati agar ada recurring business. But first thing first, recurring transaction is only available for continuous business, long term instead of one-time transaction only.

~sekedar orat-oret saja

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Lebih Dalam: Tiket Gratis dan Pengembangan Audiens | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: