Kabar Terkini

Buai Nyanyian Berulang, Mengantar Pendengar Melayang


canto1Malam ini di Erasmus Huis, konser diadakan dengan sedikit berbeda. Kali ini tenda dibuka di halaman depan tersorot sinar warna-warni, dan tiga buah piano berjajar menyudut satu dengan yang lain tepat di panggung di tengah tenda, sedang seluruh penonton duduk berselonjor di lantai, beberapa bahkan merebah di atas matras dan bantal besar di bawah ruang terbuka.

Walau dengan sedikit semilir cuaca hangat dan sergapan nyamuk malam itu, para penonton nampak menikmati sajian dari tiga orang pianis yang tampil semalam. Pasangan pianis suami-istri Sandra dan Jeroen van Veen bekerja sama dengan pianis Indonesia yang juga dididik di Belanda, Ananda Sukarlan, duduk berhadapan di depan piano masing-masing dan mengolah nada. Sedang penonton diajak bersantai bahkan beberapa merebahkan diri dan menutup mata menikmati musik yang berbalas dari denting tiga buah piano.

Karya yang disajikan memang sedikit berbeda, bertajuk Canto Ostinato atau Nyanyian yang Berulang. Karya yang ditulis oleh komponis Belanda Simeon ten Holt ini diselesaikan pada tahun 1976 dan diperdanakan pada tahun 1979. Sebagai karya yang ditulis pada masa keemasan minimalisme, Canto Ostinato dibangun atas 106 buah segmen-segmen yang dimainkan masing-masing berulang sesuai keinginan sang pianis. Segmen ini terus berjalan maju, sedang semua pianis dalam tempo 2/4 bersama-sama berusaha membangun struktur dan sekaligus ketenangan dari pola-pola nada dari segmen yang terus berulang dengan rangkaian harmoni yang terbagi atas episode-episode yang berulang dan dimainkan bergantung pada kehendak bebas sang pianis.

Satu demi satu pola membangun dan bersahut satu dengan yang lain, sedang yang lain berbalas dalam disonansi akibat not yang berdempet dalam pola yang dimainkan satu pemain dengan pemain lain. Pergeseran pun diharap berjalan mulus dari satu bagian ke bagian lain dengan rangka harmoni yang sama, maupun satu episode dengan episode lain dengan harmoni yang berbeda, alhasil di sepanjang karya yang dimainkan oleh ketiga pianis ini selama 1.5 jam terbangun nuansa yang berbeda yang kesemuanya berbalut dalam kerangka ostinato (pengulangan). Karya ini pun secara cerdik lewat permainan ritme juga membawa imajinasi masuk dalam warna permainanan ritme yang kompleks dalam permainan gamelan Jawa dan Bali dan juga kerangka musik klasik Raga dari India.

Karya ini di satu sisi mengingatkan penonton akan gelombang New Age yang menyerbu Eropa di dekade 1960-1980 yang mengangkat suasana meditatif dan mencoba mengulik nuansa transenden dalam pengulangan yang tiada henti namun menolak untuk menjadi statis. Beberapa penonton pun menyebut bahwa karya ini mungkin akan lebih mudah apabila dinikmati dengan selinting ganja yang mampu membawa penonton semakin melayang, sebuah praktek yang sebenarnya banyak dilakukan oleh penikmat musik minimalis di dekade 1970-an termasuk di Belanda.

Namun demikian sebenarnya tidak sulit untuk menikmati karya ini, selama kita mampu berdiam diri dan membiarkan diri terbawa dalam suasana musik yang mengalun. Seakan penonton bisa dibawa terbang, sembari sesekali diwarnai bias melankolis lewat kerangka dasarnya dalam tangga nada minor. Sayangnya hal ini sulit dilakukan dengan cuaca panas dan nyamuk yang giat menggigit di tempat terbuka malam itu. Pun sekali kucing berlari di antara para penonton yang membuat beberapa penonton terkesiap.

canto2

Ketiga pianis bermain dengan sebuah arloji terduduk di samping partitur untuk mengawasi waktu yang menjadi pakem ketiganya dalam menjalin repetisi dan transisi dari satu episode ke episode lain. Walaupun dikatakan sebagai musik kolaboratif tanpa dirigen, permainan malam itu sedikit banyak dikomandani oleh Jeroen van Veen yang setiap kali tampak mencoba menarik perhatian kedua pianis lain lewat tatapan matanya yang tajam lalu kemudian disusul dengan anggukan kepala yang menjadi penanda bagi ketiganya untuk bergerak dari satu episode ke episode lain.

Bagi banyak orang mungkin karya ini membosankan dan terasa mudah, notnya bisa dikatakan tidak keriting banyak dan rumit. Namun stamina dan jalinan kerja sama dalam menyusun dan menyelipkan nada tidaklah mudah. Bermain tanpa henti selama 1.5 jam sudah tentu sulit. Walaupun di awal transisi terasa mulus, namun menjelang akhir transisi berjalan cukup cepat dan agak mendadak. Alhasil, kesinambungan karya agak terganggu yang mungkin sebagai akibat mengejar target 1.5 jam sekaligus juga stamina yang mulai turun.

Namun salut bagi duo lulusan Konservatorium Utrecht ini dan Ananda yang lulusan Konservatorium Den Haag yang tetap berusaha menjalin nada dan warna sekalipun balans tata suara kurang terbina oleh penata suara untuk memancarkan beragam spektrum warna dan dinamika yang lebih kaya lewat speaker yang tersebar di empat sudut tenda. Penekanan nada dan pulsasi secara umum tetap terbina.

Konser semalam memang unik dalam pembawaan dan konsep. Penonton pun diajak untuk menikmati warna lain dari musik klasik masa kini yang baru berusia 40 tahun ini. Simeon van Holt sendiri wafat tahun 2012 lalu. Dan semalam ditemani matras dan bantal, musik berulang pun terasa memiliki nilai estetika yang kuat namun berbeda.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: