Kabar Terkini

4 Sosok 6 Skill Pemimpin Ensembel yang Wajib Dimiliki


Berlin sedang mencari dirigen kepala, New York juga sedang mencari direktur musik dan banyak ensembel saat ini sedang mencari banyak talenta untuk memimpin ensembel mereka, dimulai saja dari dirigen paduan suara di perhimpunan dekat Anda.

Apa yang dicari dari sebuah pemimpin ensembel? Mari kita coba menggali beberapa kriteria yang dicari dalam seorang sosok pemimpin ensembel secara artistik:

  1. Memiliki kepemimpinan musikal yang baik
    Sang pemimpin diharapkan memiliki kepemimpinan artistik yang baik, entah sebagai vokalis atau instrumentalis yang baik ataupun dirigen yang terbekali. Memiliki kemampuan untuk menggali musik dan mengerti musik yang dibawakan oleh kelompok yang memilihnya. Dan satu hal penting adalah memiliki visi, akan dibawa ke mana fokus artistik ensembel tersebut, akan membawakan musik macam apa dan membangun nilai pembeda ensembel tersebut dengan ensembel lain di sekitarnya.
  2. Mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari musisi anggota konstituen
    Bukan hanya memiliki skil dan visi artistik, musisi pun memiliki andil yang besar karena di ujung proses, musisi dan vokalis lah yang akan menciptakan musik lewat bebunyian. Maka dari itu kepercayaan dan dukungan anggota menjadi hal yang sangat berharga. Tanpa dukungannya, dengan visi artistik yang baik tapi tidak mampu memenangkan hati musisinya dan membawanya seperti sebuah kapal besar, ensembel tidak akan bergerak ke mana-mana.
  3. Memiliki kemampuan untuk berelasi dengan birokrasi
    Ensembel seringkali tidak bergerak sendiri, namun juga di satu sisi mau tidak mau harus bersinggungan dengan birokrasi, baik pemerintah maupun institusi lain. Membina relasi dengan faktor-faktor di luar keanggotan musisi menjadi penting, karena dukungan pada institusi seni tidak didapat dengan cuma-cuma, tapi dimenangkan dengan susah payah. Kemampuan untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan donatur, sponsor, organisasi pelindung juga diperlukan. Contoh sederhana dari paduan suara gereja: sang pemimpin ensembel pun paling tidak harus mampu membina relasi baik sebagai perwakilan ensembel dengan majelis gereja ataupun dengan sang pendeta. Ini dialami oleh penulis sendiri ketika menjadi koordinator kegiatan paduan suara di gereja.
  4. Bersedia menjadi wajah ensembel bagi publik
    Mau tidak mau pemimpin haruslah menjadi wajah organisasinya bagi publik. Sang pemimpin haruslah mampu menjadi salah satu faktor yang menentukan citra dari ensembel tersebut, sebagai ensembel dengan jiwa dan cita rasa muda misalnya atau ensembel konservatif. Bisa juga citra lain bahwa ensembel ini memperhatikan aspek manajemen dan administrasi ataupun mungkin sedang berfokus pada pembenahan internal. Semua tergambar dari bagaimana sang pemimpin ensembel memproyeksikan dirinya dalam berbagai kegiatan. Hal ini pada akhirnya tidak terlepas dari laku profesional sekaligus juga personal brand dari sang pemimpin. Menarik adalah bagaimana IBM Indonesia memproyeksikan Presiden Direktur baru mereka Gunawan Susanto 2 tahun lalu di berbagai media sebagai eksekutif muda yang akan membawa angin segar bagi IBM dan dunia IT.

Dari keempat peran ini ada beberapa kemampuan yang harus dikembangkan oleh pemimpin ensembel berikut adalah 6 di antaranya:

  1. Kemampuan teknis musikal
    Kemampuan sebagai musisi bisa menjadi nilai tambah yang baik bagi sang pemimpin. Walaupun mungkin tidak terjun sendiri, tapi kemampuan ini bisa membangun kepercayaan diri sekaligus memudahkan sang individu dalam membangun relasi dengan bidangnya. Bidang seni memang cukup terspesialisasi. Kemampuan teknis yang mencukupi akan mampu memenangkan organisasi. Lack of technical skill dalam bidang spesialisasi ini bisa jadi batu sandungan yang cukup besar dan kemampuan teknis pastinya apabila mencari seorang pemimpin yang sembari bermain ataupun konduktor haruslah memiliki kemampuan teknis yang mencukupi.
  2. Kemampuan interpersonal
    Kemampuan interpersonal untuk membangun relasi adalah hal vital dalam menjalin hubungan. Tanpa kemampuan ini sulit sekali untuk membangun kepercayaan dan komunikasi yang jelas antar pihak baik internal maupun eksternal. Sang pemimpin harus mampu menggandeng dan menginspirasi musisi yang ada dalam ensembel sebagai tanggungjawabnya untuk memotivasi, mampu membina hubungan komunikasi yang baik dengan kepala bidang perlengkapan yang mengelola tempat mereka mengadakan kegiatan rutin misalnya.
  3. Kemampuan administratif dasar
    Pekerjaan pemimpin ensembel seringkali bukan hanya pekerjaan yang hanya mewajibkan sang individu untuk duduk bermusik saja, tapi juga dibutuhkan kemampuan membereskan administrasi dasar macam mereview surat kontrak, membangun perencanaan dan mengerti seluk beluk administrasi dan proses bisnis.
  4. Kemampuan komunikasi, presentasi dan negosiasi
    Dengan banyaknya pihak yang akan terlibat dalam sebuah organisasi, kemampuan untuk mampu mengemukakan pendapat, melakukan presentasi di depan jajaran pemangku kepentingan dan juga keahlian bernegosiasi menjadi hal yang sangat lumrah untuk dimiliki. Program sebaik apapun tidak akan berjalan apabila tidak mampu disampaikan dengan meyakinkan kepada pemusik, pemangku modal, pelindung, ataupun masyarakat umum. Demikian juga kemampuan negosiasi untuk mencapai kesepakatan bersama. Skill set macam ini memang belum terbangun sempurna di antara pemimpin seni dan  bahkan masih langka di dunia kerja secara umum dikarenakan tidak masuk dalam banyak struktur pendidikan dan pelatihan mereka.
  5. Kemampuan komunikasi publik
    Organisasi seni tidak mampu hidup tanpa publik. Karenanya kemampuan untuk membangun komunikasi publik, baik secara lisan maupun tertulis, secara dering maupun konvensional harus dibangun. Kemampuan mengoptimalkan media sosial, dan bahkan membangun persona yang representatif harus dilatih dan dipelajari. Beberapa cakupan dalam keahlian ini tercakup dalam ilmu public relation. Ini bukanlah hal yang tabu dalam seni, karena seni juga adalah bidang yang secara tidak langsung harus berkompetisi dengan banyak tawaran dan bidang lain yang membanjir dewasa ini. Bagaimana memenangkan mindshare baik sebagai pribadi maupun sebagai organisasi wajib untuk dimengerti dan dilaksanakan.
  6. Kemampuan bekerja dalam tim
    Kemampuan ini tidak bisa diganggu gugat. Walaupun terkesan terpisah namun one man show hanya akan menghasilkan one man organisation with one man results. Hanya kolaborasi yang efektif yang mampu menelurkan hasil yang bernilai, pemimpin pun dituntut untuk memiliki kemampuan tersebut. Hanya dengan kolaborasi pula regenerasi internal kepemimpinan bisa terbentuk dengan lebih mudah, dikarenakan pembagian tanggung jawab yang bisa dilakukan. Selain itu semakin banyak komponen harus dirangkul demi suksesnya organisasi, bekerja dalam tim adalah esensial.

Jika diperhatikan kepemimpinan organisasi seni tidak jauh beda dengan organisasi lain. Menarik? Masih ada yang kurang? Ditunggu masukan Anda.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: