Kabar Terkini

Musik Panggung dan Layar Lebar dari Panggung Orkestra


Sing-along concert mungkin bukan sebuah suguhan yang biasa dialami publik musik di Jakarta ataupun di Indonesia. Sebuah konser pop simfonik untuk penikmat musik klasik di mana para penonton disuguhi musik-musik yang familiar di telinga dan penonton pun diajak menyanyi.

Ya, ini bukanlah konser musik pop. Rebecca Tong selaku konduktor pun menyampaikan bahwa ia ingin sedikit membawa warna yang berbeda untuk Aula Simfonia Jakarta dan Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) yang selama ini berkomitmen untuk menyuguhkan musik-musik simfonik dalam repertoar standar.

Mengambil tema Broadway & Movies, JSO membawakan karya-karya yang populer dari layar lebar dan panggung teater musikal dalam format simfonik. Soundtrack dan musik latar musik dimainkan dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk karya terpisah maupun medley. Karya pertama “Salute to Cinema” yang ditulis Carl Strommen langsung meminjam banyak musik film lawas Hollywood seperti “Singin’ in the Rain”, “Over the Rainbow” dari Wizard of Oz, “As Time Goes By” dari Casablanca dan “A Day in the Life of a Fool” dari Black Orpheus dan diramu menjadi satu medley. Berturut-turut Cinema Paradiso, The Pink Panther dibawakan sebagai karya mandiri.

Sabtu sore pun dimeriahkan dengan “Tale as Old as Time” dari animasi Beauty and The Beast yang mengajak penonton bernyanyi dengan 16 orang vokalis muda di atas panggung yang berpakaian warna-warni. Namun tampaknya tidak semua publik penonton terbiasa untuk bernyanyi bersama di gedung konser ini, entah karena memang tidak familiar dengan lagu yang dibawakan atau memang rikuh saja. Alhasil tidak semua menyanyi dengan leluasa, padahal memang jarang-jarang penonton diajak bernyanyi bersama dalam gedung konser. Keputusan untuk memilih penyanyi muda yang secara vokal belum matang juga dapat berkontribusi pada kerikuhan ini, dikarenakan para vokalis tidak semua siap untuk menatang seluruh penonton lewat vokal mereka. Demikian juga terjadi dengan lagu “A Whole New World” dari animasi Aladdin.

Nomor Solo dan Medley
Solois instrumen juga maju membawakan karya-karya soundtrack yang dikenal dengan instrumen solonya. “Gabriel’s Oboe” dari The Mission karya Ennio Morricone dibawakan oleh prinsipal oboe Daud Harianto Zhu yang mengambil kebebasan memberi warna ornamentasi yang berbeda dengan yang biasa diperdengar. Concertmaster Wen Wen Bong juga mendapat bagian membawakan rintihan dari solo biola “Schindler’s List” yang menyayat hati.

Seksi tiup logam juga memilih berdiri ketika memainkan karya “Seventy-Six Trombones” dari musikal yang juga sukses diangkat ke layar lebar The Music Man. Konser macam ini seakan tidak lengkap jika tidak mengikutsertakan karya musik film dari komponis John Wiliams yang populer lewat soundtrack film Star Wars, ET, Superman dan Indiana Jones. Tema Darth Vader dari Star Wars dan cuplikan beberapa karya dalam bentuk medley “A Tribute to John Williams” dimainkan malam itu.

Musikal bergenre rock opera dari dekade 1980-an yang bertahan selama hampir 30 tahun, “Phantom of the Opera” dari Andrew Lloyd-Webber juga dibawakan semalam, bersama dengan karya musikal populer lainnya “Mamma Mia” yang ditulis tahun 1999 dengan mengangkat lagu-lagu dari grup pop Swedia ABBA. Karya lain dari Monty Norman, “James Bond” yang mudah ditangkap telinga juga dimainkan, sebelum dimainkan “Tribute to Charles Strouse” yang menulis musikal Annie dan film seperti Bonnie and Clyde serta All Dogs Go to Heaven.

Perseteruan bajak laut dan petualangan seru Kapten Jack Sparrow dikemas dengan cantik oleh Klaus Badelt dalam musik film “Pirates of the Caribbean” sedang keindahan Austria dan petualangan Maria dalam seleksi dari “The Sound of Music” dari Rodgers dan Hammerstein menghias malam tadi sebelum ditutup dengan quodlibet yang cerdik dari Schonberg, Boublil dan Kretzmer dari karya “One Day More” dari musikal yang diangkat dari novel Victor Hugo Les Miserables. Encore pun tidak lupa disampaikan dengan medley dari sebuah film animasi musikal yang dua tahun lalu sempat booming di kalangan anak-anak dan remaja, Frozen.

Seru dan menantang
Dari segi musik, konser yang dipimpin oleh kakak-beradik Rebecca Tong dan Eunice Tong Holden dikemas dengan menarik dan meneruskan tradisi konser serupa tahun lalu yang mengambil tema opera. Walaupun ini seringkali dianggap sebagai konser pop yang seru-seru, namun secara teknis, karya-karya ini tergolong sulit. Rangkaian not bertebaran dalam lagu dan menuntut eksekusi yang cemerlang. Rebecca Tong tampil dengan keyakinan dan daya cengkeram yang kuat sedang Eunice Tong Holden bisa sedikit lebih jelas dalam mengaba dan membentuk suasana.

Kerapihan memang menjadi salah satu kunci yang walaupun sudah berbentuk malam ini, namun JSO semalam belum sepenuhnya mantap. Dalam karya-karya yang sarat tiup logam, french horn dan trombone sudah bermain dengan cukup kuat tapi tidak didukung trompet yang sigap di register-register tinggi, sekalipun gaya permainan blues yang dibawakan di beberapa nomor sudah tersaji cantik. Tiup kayu sudah bermain manis, sedang di beberapa tempat timpani bermain meyakinkan dan seksi perkusi cukup stabil. Seksi gesek malam ini pun akan lebih punya karakter dan daya dukung apabila mampu membentuk tubuh suara dari orkes ini. Pun di beberapa tempat pemilihan tempo juga cenderung cepat untuk mampu dinyanyikan bersama ataupun untuk mampu mematangkan nada dan harmoni.

Memang sulit untuk memainkan karya-karya ini, karena bagaimanapun pendengar punya memori pendengaran yang cukup kuat untuk musik-musik yang dipilih. Mau tidak mau, sadar tidak sadar, penonton akan langsung membandingkan dengan suara LA Philharmonic, London Symphony, New York Philharmonic dan Boston Pops yang sudah terpatri dengan kuat lewat rekaman-rekaman otentik karya-karya ini yang diputar dalam film-film ini. Kondisi ini yang sebenarnya menuntut konduktor untuk telaten menggarap warna dari orkestra. Tidak adil memang, tapi itulah resiko memainkan karya-karya drama musikal dan soundtrack film yang sedemikian ternama.

Alangkah pun demikian, tepuk tangan dan standing applause memang tidak pernah lepas dari penonton-penonton di ASJ. Konser semalam memang konser yang menghibur dan besar kemungkinan sambutan meriah penonton adalah bukti kuat kenyataan itu. Dan mungkin lain kali Sing-Along Concert seperti ini perlu juga untuk diadakan kembali.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: