Kabar Terkini

Semangat Sibelius, Deru Nasionalisme Finlandia


IMG_0270150 tahun lahirnya komponis nasionalis Finlandia Jean Sibelius mungkin tidak banyak diangkat di dunia musik simfonik di tanah air. Namun semalam, dalam kesempatan pagelaran perdana mereka mewarnai kancah dunia orkestra di Jakarta, Orkes Komunitas Concordia mengetengahkan komponis zaman romantik akhir yang berjasa dalam mendefinisikan musik bagi negara Skandinavia yang pada masanya sempat dijajah Kekaisaran Rusia dan berjibaku mencari jatidiri budayanya termasuk di dalamnya musik.

Dari sebuah negara yang kini melahirkan sistem pendidikan terbaik dan juga banyak dirigen kenamaan di bidang musik, kita diajak untuk menjelajah lebih dalam pergulatan musik mereka. Semalam di Usmar Ismail Hall, lewat arahan direktur musik Budi Utomo Prabowo, penonton diajak berpetualang dalam alam bunyi komponis yang kini namanya diabadikan sebagai perangkat lunak notasi musik ini.

Orkes Komunitas Concordia memainkan beberapa karya simfonik sedang di sisi lain, kelompok paduan suara besutan pengaba yang kini lebih banyak berkecimpung dalam pendidikan musik, Kamerata Vocale Jakarta membawakan karya-karya paduan suara dari komponis yang seumur hidupnya memperjuangkan musik tonal dan mendefinisikan musik Finlandia. Ketika dunia digoncang musik atonal, Sibelius tetap setiap pada idiom musik tonal ala Franz Liszt yang gemerlapan. Alhasil beberapa menyatakan komponis yang wafat tahun 1957 ini berjasa namun juga sekaligus terlampau konservatif dan seakan terpisah dari arus musik pada eranya.

Dibuka dengan karya symphonic poem Finlandia Op.26 yang megah dan kokoh, penonton diajak masuk dalam alam Finlandia yang menawan hati dengan kebesaran dan juga kengeriannya. Kamerata pun kemudian menjawab dengan beberapa nomor paduan suara acappella “Himne Finlandia” Op.27 no.7, “Aamusumussa”, “Koulutie” JS.112. Terlihat dari struktur bagaimana musik vokal di tangan komponis ini berangkat dari struktur himne strophic dan akhirnya mengambil bentuk komposisi bebas seperti “Drömmarna”, “Min Rastas raata”, “Till Thérèse Hahl” dan “Rakastava” op.14.

IMG_0269Paduan suara Kamerata yang didukung oleh pelatih vokal Joseph Kristanto Pantioso membawakan karya dengan keyakinan penuh dan ketelitian pada eksekusi vokal yang cenderung rumit dalam karya-karya ini. Tenor membahana dengan warna yang cemerlang, sedang bass walaupun tidak berdentum hebat dengan bobot namun tetap mampu menjadi penopang bagi suara-suara di atasnya. Alto pun memiliki warna yang beragam dan stabil. Sopran sendiri bernyanyi dengan baik dan didukung dengan teknik yang memadai, namun agaknya perlu memastikan bahwa eksekusi nada-nada tinggi dan ruang resonansi setiap vokalis terjaga untuk membantuk kejernihan tone dan ekspresi yang menjadi kunci karya vokal ini.

Orkes Komunitas Concordia pun bergantian dengan paduan suara membawakan Andante Festivo Op.117 untuk orkes gesek dan timpani, Valse Tristerse Op.44 no.1 dan akhirnya ditutup dengan Violin Concerto in d minor, Op.47 bagian I dengan solois Finna Kurniawati yang tampil memukau. Dengan berpakaian merah cemerlang, Finna dengan ketelitian melibas karya concerto yang sangat sulit ini dengan virtuositas yang patut angkat topi. Rentetan oktaf dan bahkan rangkaian triple stop berhias dalam cadenza dibawakan tetap bernyayi. Memang tidak seluruhnya sempurna dan terkendala akustik gedung, tapi dari sisi musik, permainan terjaga dengan baik dan tidak heran dara asal Surabaya ini dipercaya sebagai concertmaster beberapa orkestra di Indonesia, seperti orkes Institut Seni Indonesia, Twilite Orchestra dan orkes Central Conservatory Beijing dan juga pendiri String Orchestra of Surabaya, sebuah orkes gesek yang saat ini sedang naik daun di Surabaya.

Konser pun akhirnya ditutup dengan sajian di babak kedua oleh komponis pendahulu Sibelius yang membuka jalan romantisme masuk dalam musik simfoni yang kemudian ditiru oleh komponis Finlandia ini. Komponis tersebut adalah Ludwig van Beethoven dengan karya Simfoni No.1 Op.21. Sebagai karya simfoni pertama, Beethoven masih menggunakan pakem simfoni Haydn sembari mengeksplorasi teknik Strum und Drang dalam komposisi yang sering didapuk sebagai karya Beethoven di bawah supervisi komponis monumental lain F.J. Haydn.

Orkes Komunitas Concordia sebagai sebuah orkes komunitas semalam didukung oleh 11 orang pemain tamu. Namun demikian secara karakter, orkes ini sudah dibentuk dengan cakap oleh Budi Utomo Prabowo yang mengaba dengan metodikal dan jelas. Di tangannya setiap bentukan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah arsitektur karya. Malam itu, Budi Utomo Prabowo memang cukup banyak berperan sebagai polisi di persimpangan, memberi tanda jalan dan ruang bagi pemain untuk berkespresi lebih lanjut meskipun tidak tentu dipergunakan dengan leluasa oleh pemain.

Di seksi gesek yang didapuk kepimpinannya oleh concertmaster Ahmad Ramadhan bermain dengan kecermelangan tingkat tinggi, sebuah permainan yang jarang ditampilkan oleh orkes komunitas yang ada di Jakarta. Permainan yang bersih dan musikal sebenarnya bisa sedikit dipoles dengan proyeksi yang sedikit lebih berbentuk di aula yang memang secara akustik kering dan kejam bagi orkestra. Seksi tiup terutama di woodwind, sudah bermain musikal, namun memang perlu konsistensi dalam intonasi, sedang brass sudah menyala dengan mentereng.

Diisi oleh insan musik amatir dan musisi muda, orkes komunitas ini menunjukkan potensinya yang sedemikian besar dibawah arahan Budi Utomo Prabowo yang mendetail. Permainannya bernyawa dan menjanjikan terlebih apabila menyadari bahwa konser ini adalah konser perdana orkes yang dikelola oleh anggotanya ini di depan umum. Karenanya, Concordia bisa dipercaya sebagai tambahan menarik dari sajian musik di Ibukota dan sebagaimana Sibelius mendefiniskan kebangsaan Finlandia lewat musik, orkes ini juga mampu memberi makna bagi pertumbuhan musik di Jakarta.IMG_0266

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Semangat Sibelius, Deru Nasionalisme Finlandia

  1. Keren konsernya semalam. Musiknya enak, choirnya bagus, dan conductor dan solo violinistnya pro banget. Congrats, n ditunggu konser selanjutnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: