Kabar Terkini

Musik Indonesia: Sebuah Pencarian


Setelah beberapa hari lalu dibawakan musik-musik dari komponis Finlandia Jean Sibelius oleh Orkes Komunitas Concordia, sedikit terbersit bagaimana musik menjadi simbol perjuangan kalangan rakyat untuk mencari nilai-nilai kebangsaan. Nasionalisme memang tidak bisa hanya lantang diteriakkan namun juga perlu dirasakan. Sebagaimana penyair Jerman Heinrich Heine menyatakan, “Musik dimulai ketika kata-kata terhenti,” musik pun menjadi sarana nyata dalam ungkapan kebangsaan.

Nasionalisme yang bergerak atas afinitas akan sebuah ide tak nampak, akan sebuah ikatan manusia di luar batasan fisik, seorang individu merasa menjadi bagian dari sebuah hegemoni yang lebih besar, berlandaskan ide dan kecintaan. Tumbuh pesat sebagai buah dari romantisme, nasionalisme dalam musik pun bertumbuh dengan pesat di abad ke-19 yang dimulai dari Frederick Chopin yang mencari jatidiri kebangsaannya lewat musik-musik yang ia tulis. Sebagai warga keturunan campuran Polandia dan Prancis, ia yang besar di Polandia namun banyak berkarya di masyarakat Prancis yang lebih terpandang kala itu. Tapi ia sendiri memilih untuk mendefinisikan diri sebagai seorang komponis Polandia dengan menulis musik-musik yang kental dengan irama tarian dan melodi Polandia, lewat puluhan Polonaise dan Mazurka.

Langkah pionir ini kemudian diikuti dengan banyak komponis-komponis lain yang mencoba melepaskan diri dari pengaruh tradisi simfonik Austro-Germanik yang secara budaya lekat dengan Kekaisaran Romawi Suci yang berkuasa lebih dari 900 tahun hingga tahun 1806. Belum lagi diperkuat dengan invasi ekspansif Napoleon yang menjadi pemicu kesadaran berbangsa banyak orang-orang di Eropa.

Di Indonesia 150 tahun kemudian, banyak dari kita berdebat tentang pembentukan musik Indonesia. Bagaimana cirinya, karakteristiknya dan musik seperti apa yang layak digadang-gadang sebagai musiknya orang Indonesia. Beragam tanggapan bermunculan akan musik apa yang sungguh Indonesia. Ada yang beranggapan bahwa musik Indonesia adalah yang tercipta setelah konsep ke-Indonesiaan ada, 1928. Tapi apakah dengan demikian kita menolak musik-musik tradisi dalam lingkup ini? Tapi apabila kita berkaca pada musik tradisi saja, dapatkah kita menerima bahwa musik yang dimainkan oleh band-band Melayu 10 tahun lalu itu tidak bisa disebut musik Indonesia ataupun pada musik dari etnis lain?

Tapi memang tanggapan etnomusikolog Rizaldy Siagian yang dimuat dalam Kompas tanggal 25 Mei tentang diskusi musik di Festival Musik Tembi 2015 kemarin adalah benar. Baginya, tidak ada musik Indonesia. Kita sedari awal hanya mengenal musik etnis dari asal daerah masing masing. Mungkin sekarang ditambah dengan serbuan musik kaum urban, agaknya kita masih kekurangan kearifan untuk mahfum bahwa memang tidak ada musik yang sungguh Indonesia.

Daripada berdebat mengenai ke-Indonesia-an, mungkin lebih baik kita melihat kembali bagaimana rasa kita pada keindahan yang sedapat mungkin terlepas dari jargon “Indonesia” yang terlalu dipaksakan. Di masa awal kemerdekaan memang terjadi proses pembentukan opini publik yang kuat akan apa itu musik Indonesia yang akhirnya banyak berlabuh pada musik gubahan komponis-komponis seperti Ismail Marzuki, Kusbini, C. Simanjuntak, Mochtar Embut dan Gesang yang meramu musik barat dengan musik-musik Indonesia, atau bahkan sama sekali tanpa muatan tradisi di dalamnya. Ismail Marzuki misalnya adalah pelaku musik populer barat, yang meramu karyanya dalam bahasa perjuangan dan kehidupan generasi muda kelas menengah pasca kolonial.

Apabila kita melihat sejarah musik yang terdokumentasi baik di Eropa beserta dengan penelitian-penelitiannya yang lebih mendalam, sebenarnya tidak ada musik dengan warna nasionalisme yang sungguh otentik dan mewakili kekayaan bangsanya. Seringkali mereka pun dalam upaya mencari jati diri musik kebangsaan, kembali pada apa yang mereka tahu dan mereka dapatkan. Franz Liszt mengangkat melodi Gypsi yang dahulu mendiami Hungaria walau itu bukan tulen musik Hungaria. Komponis Russia malah mencari-cari karakter dalam kisah-kisah dongeng lokal, nyanyian ritus keagamaan mereka dan tarian-tarian lokal dan banyak rentetan kisah lainnya. Juga komponis Spanyol akhirnya mendefinisikan diri dalam banyak kegairahan tarian dan ritme musik tradisinya.

Mungkin belajar dari sejarah, ada baiknya kita saat ini berangkat dari diri kita sendiri, dari akar kita di mana kita berasal. Musik apakah yang sungguh dekat dengan kehidupan kita sehari-hari yang mampu mendefinisikan kita. Jangan lagi kita sibuk menantikan titah dari langit bahwa Musik ABC adalah musiknya orang Indonesia, sebuah mosi yang juga tidak tentu bisa kita terima. Adalah percuma menantikan ksatria piningit yang datang menyelamatkan identitas musik kita.

Daripada itu alangkah baiknya bergerak dari yang paling dekat dengan hati dan mulai berkarya dari sana. Apabila memang anda dekat dengan musik tekno, garaplah musik itu, apabila dekat dengan gending, berangkatlah dari gending. Dan lihat bagaimana musik itu membawa Anda lebih mengenal diri Anda dan sekitar Anda. Sejalan dengan itu pula musik akan terus berevolusi dan bergerak, berasimilasi dan mengambil bentuk, sebagaimana musik keroncong yang bergerak dari musik Portugis menjadi milik sebagian masyarakat kita.

Dalam dunia Post-modern seperti saat ini, sekat-sekat menjadi obsolet dan kategorisasi menjadi usang. Dalam konteks ke-Indonesia-an yang juga tidak pernah berhenti bergerak, adalah mustahil kita mengharapkan musik akan statis. Dan dalam multi-fasetnya itulah ke-Indonesia-an dalam Bhinneka Tunggal Ika akan terlihat dan makna Indonesia akan semakin nyata. Selama musik tersebut dibuat oleh insan yang mengidentifikasi diri bahwa ia adalah bagian dari Indonesia terlepas dari apa itu bentuknya, musik tersebut adalah musik Indonesia dan karenanya apapun ia, musik itu pantas tumbuh di negeri ini.

Remember that wherever your heart is, there you will find your treasure.”-The Alchemist – Paolo Coelho

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: