Kabar Terkini

Esther Darmahkasih Berkisah


Mengisahkan pilu dan bermandikan resah, itulah warna resital vokal Sabtu malam ini di Goethe Haus Menteng, Jakarta. Namun dalam sedih, harapan itu tetap bersinar cemerlang yang perlahan mengembalikan keceriaan dan tawa. Tangis pun berubah menjadi senyum.

Inilah yang dikisahkan soprano muda Fidelia Esther Darmahkasih dalam resital perdananya di Indonesia semalam. Soprano yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana musik di Bowling Green State University (BGSU), Ohio AS melantunkan kisah hidupnya dalam ragam karya vokal ditemani permainan piano Ivana Tjandra, alumnus BGSU di bidang piano kolaboratif. Flutis Jacqueline Berndt juga hadir memberi warna yang berbeda.

Dibuka dengan karya Mozart Exultate Jubilate yang berwarna ceria, Esther telah menunjukkan keinginannya untuk mengeksplorasi ruang auditorium pusat kebudayaan Jerman yang berkapasitas 300 orang ini. Dengan piano di atas panggung, Esther berjalan-jalan kecil di selasar auditorium, memberikan efek kejut sekaligus nuansa yang lain. Panggung pun bukan hanya sekedar berada di depan namun sungguh berada di skeliling penonton.

Konser sendiri dibagi dalam tiga bagian besar dengan refleksi pertama “Badai Pasti Berlalu”. Dibukan dengan bagian III-Allegro, Sonata untuk solo flute dalam A minor karya CPE Bach dibawakan oleh Berndt dengan ketelitian jalinan polifoni yang kuat register bawah mengakar berbalas alur register tinggi yang terbalut rapi. Berturut rintihan dan doa dinyanyikan oleh Esther: “Seufzer, Tr√§nen, Kummer, Noth” dari Cantata BWV 21 karya JS Bach, “En Priere” karya Gabriel Faure dan “Ich folge dir gleichfalls” dari Passio Johannes juga dari Bach, dengan yang terakhir diiringi flute.

Di bagian kedua dengan tajuk “Dalam kehilangan orang terdekat” Esther membawakan “Ah Love but a day” karya komponis Amy Beach asal Amerika Serikat. Dilanjutkan dengan karya Brahms “Auf dem Kirchhofe” dan karya tembang puitik komponis Indonesia Ananda Sukarlan “Sajak Ibu”. Jacqueline Berndt juga sempat membangun nuansa yang magis dengan memainkan karya solo flute Syrinx dari Debussy yang membius dari sudut belakang panggung yang membuat suara seakan melimpahi pemirsa. Penonton pun dibuai dalam rangkaian nada yang mengundang imajinasi melayang dengan tonenya yang solid. Babak pertama pun ditutup dengan berani lewat karya Messiaen Resurrection yang bergaya atonal dengan piano menirukan dentang lonceng gereja dan alur vokal berlandaskan modus gereja.

Babak kedua diisi oleh bagian ketiga “Dalam Patah Hati”. Tiga Sajak Pendek dari Ananda Sukarlan yang berupa tembang miniatur disusul dengan lantunan karya Charles Gounod “Je veux vivre”, bagian Adagio dari Sonata flute CPE Bach dan “O Quante volte” dari Bellini. Konser pun ditutup dengan nomor trio “Der Hirt auf dem Felsen” dari Schubert yang menutup konser dengan seruan harapan.

Fidelia Esther sendiri menunjukkan usahanya untuk mengeksplorasi karya lebih jauh dari sisi artistik. Karya Cantata dan oratorio dibawakan dengan penghayatan dan gerak yang memperkaya interpretasi tanpa menjadikannya berlebihan. Di lain pihak, kematangan vokal siswi Christopher Scholl ini memiliki fleksibilitas yang tinggi diikuti eksekusinya yang tenang dan rileks seakan memang ia terlahir untuk berada di panggung. Walaupun di beberapa tempat Esther menunjukkan instabilitas intonasi, namun secara mengejutkan ia mampu mempertahankan inti musikalitasnya secara konstan sehingga ia mampu mempertahankan konsistensi karya. Ini adalah buah musikalitas dan keyakinannya pada pesan karya yang ia bawakan.

Ivana Tjandra sebagai pianis memang tampak tenang berada di latar. Kemampuannya untuk mendukung vokal dan permainan flute tampak solid. Memang di saat-saat terakhir tampak mulai kehilangan fokus, namun di tangannya piano menjadi pilar yang kokoh bagi musisi lain tanpa harus mengambil peran utama panggung lewat permainannya yang elastis.

Persembahan kemarin memang mengawali langkah Esther sebagai vokalis resital di Jakarta. Dan solidnya resital semalam menjadi bukti kecintaan dan musikalitasnya. Dan perlahan namun pasti, ia mentransformasi musik untuk menjadi ungkapan perasaan yang jujur dan personal yang tentunya dinantikan oleh penonton di ibukota.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: