Kabar Terkini

Winterreise dalam Muram


IMG_0657Menyanyikan sebuah siklus adalah suatu tugas yang menantang bagi seorang vokalis. Betapa tidak, dalam siklus Winterreise yang dinyanyikan malam ini 24 lagu dinyanyikan berturutan tanpa jeda yang berarti. Satu jam lebih penonton disuguhi rangkaian tembang puitik yang digubah oleh Franz Schubert dari rangkaian pusisi Wilhelm Müller. Ditulis tahun 1827, karya ini menjadi salah satu tonggak tembang puitik (lieder) dan gaya komposisi siklus seperti ini.

Ditulis untuk suara tenor dan iringan piano, siklus ini mengisahkan perjalanan di musim dingin yang penuh perjuangan dan kepedihan hati yang membekas, seakan berjuang untuk melihat sedikit harapan. Banyak yang mengemukakan bahwa karya ini ditulis oleh Schubert dalam kondisinya yang sudah menyadari syphilis yang dideritanya, penyakit yang pada akhirnya merenggut nyawanya kurang dari satu tahun kemudian.

Mungkin inilah yang dikemukakan oleh bariton Mak Chi Hoe asal Malaysia dalam penampilannya semalam di Erasmus bersama pianis Wong Chee Yean. Membawakan karya ini dengan nada yang disesuai dengan rentang bariton, karya ini semakin menunjukkan sisi gelapnya. Dengan suara baritonnya yang matang dan tebal, ia merambah 24 nomor karya ini dengan konsistensi dramatisasi yang luar biasa. Bisa dikatakan staminanya memang tiada putus selama pertunjukan ini. Nuansa gelap dan muram, penuh gemuruh menghiasi keseluruhan karya ini seakan Schubert tiada henti menangisi dan marah akan kehidupannya yang divonis akan meninggal muda di usia 31 tahun.

Wong Chee Yean sendiri bermain juga dengan kekuatan penuh. Piano bersuara dengan lantang, melibas cuplikan-cuplikan komposisi Franz Schubert dengan keyakinan teguh dengan permainan dinamika yang cukup deskriptif. Energi pun menjadi salah satu sentral dalam permainan pianis yang belajar di Indiana University, Bloomington AS ini. Ia pun di satu sisi juga harus mengimbangi tantangan stamina yang digadang oleh vokalis Mak di semua nomor semalam.

IMG_0658Dalam tembang puitik berbahasa Jerman ini, kemampuan Mak yang belajar vokal di Birmingham Conservatoire-Inggris dalam menyongsong diksi memang patut dipuji. Semua seakan terlontar secara gamblang dari mulutnya. Namun dari segi semantik dan pemaknaan, nampak bahwa Mak belum mampu menggarap lebih jauh pemaknaan puisi dan penggunaan majas dalam berbahasa. Padahal dalam karya sastra Müller maupun musik yang digubah Schubert, permainan nuansa menjadi sangat penting. Di sisi lain Wong di piano sekalipun gesit, belum dapat memberikan sentuhan warna dan dukungan yang cukup. Imajinasi yang menjadi kunci musik Schubert ini akhirnya berlalu tanpa nafas yang berarti.

Ironi dan metafora bertabur dalam kata dan musik yang membungkusnya, personifikasi dan ekspresi naif perlahan berubah menjadi pernyataan introspektif yang mendalam. Itulah sebenarnya yang menggambarkan imajinasi Schubert atas puisi Müller. Cinta seorang muda yang tertolak, dan penolakan orang-orang atas dirinya, tanya akan makna hidup bercampur dengan kekagumannya pada keindahan alam sekitar adalah bekal lamunan romantis yang berkembang lewat tangan komponis yang didapuk sebagai tonggak cikal bakal romantisme yang berkembang selanjutnya di abad 19 ini.

Namun semalam, nampaknya memang hanya keterpurukan dan amarah yang menjadi sentral penampilan yang terlihat bahkan sejak tiga puisi pertama dari duapuluh empat dinyanyikan. Mendengar karya yang cukup panjang tanpa jeda malam itu penuh dengan miniatur yang kelam mengungkung akhirnya cukup melelahkan bagi para penonton, terlebih apabila kita menyadari bahwa gubahan Schubert di atas kertas yang terpampang di benak pendengar memberi ruang yang sangat luas untuk eksplorasi.

Agaknya memang semalam adalah malam Winterreise Schubert dalam muram. Dan dalam pagelaran semalam, penonton sedikit banyak mengerti sisi kelam seorang Schubert di ambang pintu kematiannya, sebuah perjuangan hingga akhir.

 

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: