Kabar Terkini

Lintas Generasi, Lewat Piano Memadu Rasa


IMG_0667Piano sebagai instrumen telah menjadi bagian dari hidup para musisinya. Inilah yang diketengahkan dalam “Life on Piano” sebuah konser yang mengetengahkan pianis lintas generasi dan testimoni hidup mereka yang terekam dalam tarian jemari mereka di atas piano.

Dibuka dengan penampilan dari 5 pianis muda, Jove Winston (10 tahun), Steven Ryan Priatna (8 tahun), Ravel S. Gunardi (9 tahun) membuka konser dengan karya-karya piano untuk anak gubahan Levi Gunardi yang termuat dalam buku “Imaginary World”. Melinda Elextra yang berusia (9 tahun) memainkan karya Debussy “Doctor Gradus ad Parnassum” dengan kecermatan tinggi, sedang Adam Putra Pertama (14 tahun) mampu menampakkan sisi kedalaman seorang Sergei Rachmaninoff lewat Prelude Op.23 No.7.

Setelah sajian pembuka, Twilite Orchestra yang menjadi orkes tuan rumah dalam acara ini mengambil tempat di panggung Balai Sarbini ini dan di bawah baton Addie MS, memainkan karya Edward Elgar yang populer di tanah Britania Raya, Pomp and Circumstance Marches No.1 Op.39 yang selalu menjadi menu wajib dalam penutupan festival musik klasik Promenade di London di mana seluruh penonton riuh rendah menyanyikan bagian anthem di tengah karya.

Kemudian dua pianis muda Nadya Janitra dan Bella Widjaja, mengambil tempat untuk memainkan karya Camille Saint-Saëns “The Carnival of the Animals” R.125 yang menggambarkan secara imajinatif dan kocak keanekaragaman satwa bersama orkestra gesek, flute, klarinet dan perkusi. Karya yang cocok dinikmati untuk anak-anak ini juga sebenarnya ditulis oleh Saint-Saëns sebagai bentuk parodi dari berbagai musik yang populer ketika karya ini ditulis di tahun 1886. 14 bagian dimainkan dengan mengandalkan solois ini tampak seru dimainkan, flute Andika Candra lincah menari dalam Aviary, klarinet oleh Nino Wijaya menirukan dekut burung kukuk yang menetap dan nyanyian angsa yang demikian merdu dalam permainan cello Ade Sinata. Seksi kontrabas pun tidak luput dengan menggambarkan tarian gajah. Dua balerina Winda Batangtaris dan Carolin Windy pun turut membangun suasana lewat tarian mereka yang menyita perhatian.

Dua solois Nadya dan Bella tampak bermain dengan kokoh dan kompak. Permainan mereka yang musikal dan rapat menjadi sajian tersendiri yang patut diacungi jempol dan saling menjalin dengan orkestra yang agaknya cenderung rigid di babak pertama ini. Kepiawaian keduanya dalam bermain musik kamar nampaknya memampukan keduanya untuk berjalan beriringan dengan Twilite Orchestra yang semalam dikomandani oleh concertmaster Fafan Isfandiar.

Di tangan Addie MS, Twilite tampak bermain dengan rapih dan cukup konsisten. Warna orkestra pun terdengar cukup padu, walaupun sempat terbersit kendala penalaan instrumen. Tapi agaknya dalam permainan, perlu diperhatikan keleluasaan yang belum banyak terbentuk sebagai bagian dari ekspresi. Nada-nada tersusun runut namun beberapa kali kehilangan sentuhan senandung merdu yang diperlukan dalam karya-karya romantik ini.

Tarian Polonaise dari Eugene Onegin dari Tchaikovsky menjadi sajian pembuka diikuti dengan premier karya untuk piano dan orkestra dari pianis Jonathan Koe, “Elegie to Pangandaran”. Duduk di bangku solois, Jonathan Koe membuka karya ini dengan tema yang dimainkan dengan piano solo dalam nuansa pentatonis yang kemudian ditimpali oleh seksi gesek orkestra yang membuai indah. Ditulis di tahun 2007, karya ini mengutip karya “The Dancer” pianis Levi Gunardi yang menjadi penggagas konser semalam. Orkestrasi menjadikan karya ini membuai indah. Jonathan sendiri adalah pianis Indonesia yang menamatkan pendidikannya di Manhattan School of Music dan kini mendalami ilmu Ekonomi di New York.

Piano dan denting nada nyatanya mampu mengubah suasana semalam. Itulah pernyataan yang tergambar lewat permainan pianis senior Indonesia, Iravati M. Sudiarso yang tampil di babak kedua dengan bagian kedua dari Piano Concerto No.2 karya Sergei Rachmaninoff. Memasuki panggung dengan perlahan, Iravati menunjukkan kalibernya sebagai seorang empu pianis Indonesia lewat nafas permainan pianonya di bagian lambat konserto yang terkenal sebagai salah satu konserto tersulit.

Serombongan pemusik dalam Twilite Orchestra arahan Addie MS semalam pun serentak berubah rupa di hadapan warna suara ini. Lewat nada yang berkisah penuh melankoli, Iravati yang berpengalaman menjadi solois bersama New York Philharmonic Orchestra ini menggugah seluruh orkestra semalam dalam kepekaan yang tidak sekalipun muncul sebelumnya. Secara ajaib, Twilite Orchestra yang kali ini banyak didukung pemain muda masuk dalam alam aural yang berbeda, mendengarkan permainan solois dengan seksama dan menunjang setiap nada yang terurai lewat permainan pianis yang menjabat sebagai Direktur Utama Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik.

Walaupun bermain tanpa terlalu banyak mengambil resiko dari sisi permainan rubato dan perubahan tempo, Iravati terlihat menjalin nada demi nada dengan kecermatan yang sedemikian tinggi hingga piano seakan bernyanyi dengan khusyuk bersambut dengan orkestra. Kekakuan orkestra yang ada sebelumnya seakan cair begitu saja dan sehingga terdengar bernafas dan hidup. Sedikit kehati-hatian memang berdampak pada klimaks yang bisa lebih paripurna, namun demikian, kondisi yang dibesut oleh rasa mesra ini menjadi pengantar yang sempurna untuk bagian ketiga konserto yang dimainkan oleh Levi Gunardi.

Sang penggagas acara ini pun tampil dengan keyakinan tinggi. Kecakapannya dalam teknis, mampu mempesona penonton dalam permainan bak kembang api di bagian ketiga konserto yang tergolong sangat sulit ini. Tampil bertenaga, Levi menjelajah seluruh area papan nada dalam permainan yang berapi. Meski eksekusinya belum sepenuhnya bersih namun rancang bangun musik nampak berdiri kokoh dan bersambut dengan orkestra yang juga semakin tanggap. Levi sendiri sebagai salah satu pianis Indonesia menunjukkan kelasnya sebagai pianis virtuos yang mampu mengundang kekaguman. Walaupun sempat terjadi kebingungan di tengah karya di sisi orkestra dan kejelasan konduktor, karya ini menjadi penutup yang semarak untuk konser lintas generasi ini.

Dua encore disajikan oleh Levi Gunardi untuk menjawab keriaan penonton semalam, transkripsinya untuk piano solo untuk tema The Simpson dan kemudian aransemen piano dan orkestra untuk lagu wajib nasional Indonesia Pusaka. Dalam kepiawaiannya meniti nada, Levi juga dalam konser ini menunjukkan perannya sebagai komponis yang patut diperhitungkan. Addie MS pun kemudian mengajak penonton bertepuk tangan dalam ritme dan dalam iringan tepuk tangan itu Twilite pun akhirnya menutup dengan Trepak dari karya ballet Tchaikovsky The Nutcracker dalam kemeriahan.

Masing-masing seniman semalam menunjukkan kedekatannya dengan musik, dan kecintaannya pada instrumen piano.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: