Kabar Terkini

Menyenangkan dan Idealisme Acacia Youth String Orchestra


Acacia2Menyenangkan, mungkin inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana di Auditorium IFI Bandung di minggu sore ini. Bilamana tidak, di dalam auditorium yang terisi penuh, sebuah group orkestra gesek mempersembahkan pertunjukan yang menarik dan menjadi magnet para penonton yang didominasi generasi muda.

Acacia Youth String Orchestra sore kemarin tampil dengan format yang bersahabat. Diperkuat oleh 16 orang pemain muda yang sebagian besar amatir, orkestra gesek yang dibentuk tahun 2013 ini sudah menunjukkan kualitas yang dapat dibanggakan. Dengan program yang tergolong idealis untuk sebuah orkes gesek tercetak di lembar acara, nampaknya orkestra yang dipimpin oleh violinis muda Arya Pugala Kitti ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk meyuguhkan program-program yang berkualitas.

Dibuka dengan karya Italiana dari Ancient Airs and Dances Suite No.3 dari Ottorino Respighi, Acacia kemudian langsung menyuguhkan reperatoar standar orkes gesek Holberg Suite dari Edvard Grieg.

Dari frase pertama dari Respighi, langsung terdengar bahwa orkes gesek ini memiliki nilai tersendiri yang patut diperhitungkan. Memilih program yang cukup berat nyatanya diimbangi dengan tanggung jawab akan kualitas. Ensembel yang padu dan solid dilengkapi dengan intonasi yang cukup terjaga. Pun dalam karya komponis Norwegia Grieg, Acacia dengan Arya duduk bermain sebagai concertmaster sungguh terlihat menggarap karya dengan mendalam. Eksekusi yang jernih disertai greget semangat muda menjadikan karya yang dipersembahkan tersaji lengkap berkarakter.

Permainan Arya yang cemerlang di babak pertama juga diimbangi oleh para prinsipal orkes yang dibentuk, Ahsan Fathoni yang tanggap dan peka pada biola dua, Meirita Artanti Putri dengan permainan yang tangkas pada viola, Mega Ariani dengan permainannya yang melodius pada cello dan Delfi Kurniawan yang ajeg pada doublebass. Arya, Ahsan, Meirita dan Mega juga tergabung dalam Kuartet Gesek Domus yang tentunya menjadi fondasi kematangan kolaborasi di antara mereka.

AcaciaBabak kedua dihiasi karya-karya nuansa Prancis yang mungkin disajikan karena bertepatan dengan Festival Printemps Francais. Dua buah Pavane, masing-masing  “Pavane” dari Gabriel Faure dan “Pavane for a Dead Princess” dari Maurice Ravel mengeksplorasi warna-warni musik romantik ala Prancis. Orkestra gesek ini juga mencicip karya Georges Bizet Les Toreadors yang diambil dari opera Carmen.

Cita rasa orkes simfoni dan karya piano solo ini dibawa menuju rasa orkes gesek. Walaupun di satu sisi kehilangan warna banyak instrumen tiup, namun Acacia mampu menghadirkan pendekatan yang mengingatkan penonton dengan citarasa orkestrasi asli yang ditulis oleh masing-masing komponis. Karya Vivaldi Concerto No,2 dalam G minor “Summer” dari rangkaian concerto biola “Four Seasons” juga dipersembahkan dengan Arya sebagai solois dan concertmaster.

Sempat terkendala stamina, intonasi sempat menjadi isu di babak kedua. Namun perlahan tapi pasti, lewat keriaan yang mengambil inspirasi ritme musik tarian kulit hitam di Amerika Selatan Acacia kembali ke performa awal. Karya Debussy “Golliwog’s Cakewalk” dari buku piano “Children’s Corner” lah yang menjadi titik balik tersebut. Aransemen salah satu anggota cellis Ulung Siberuang untuk karya Ennio Morricone untuk soundtrack “Cinema Paradiso” mampu menggerakkan penontonnya lewat alunan melodi yang menggugah.

Konser pun akhirnya ditutup dengan karya Arya Pugala Kitti “Variations on Naik Delman”. Dengan tema dari lagu anak Pak Kasur ini, orkes gesek membawa penonton seakan menjelajah jauh ke alam yang berbeda melompat benua demi benua. Meter tripel menjadikan Naik Delman dalam gaya waltz, berlabuh dalam kemurungan dalam tangga nada minor sebelum didistorsi dalam spektra disonansi yang pekat. Secara cerdik, Delman sejenak menjelma menjadi caravan unta lewat modus phrygian yang lazim digunakan dalam musik Timur tengah sebelum akhirnya sekali lagi bertransformasi dalam petikan dan pukulan sumpit ke senar dalam pentatonik Asia Timur Tiongkok, yang mengingatkan pada instrumen kecapi dan yangqin. Delman nyatanya sungguh bervariasi di benak seorang Arya yang disepanjang konser dengan santai memberikan pengantar pada karya-karya yang dimainkan.

Tepuk tangan meriah memaksa orkes ini menyajikan dua buah encore, Frére Jacques dan sekali lagi Golliwog’s Cakewalk yang ternyata pada kali kedua terdengar lebih lepas dan asyik.

Bertandang ke Bandung di Minggu sore ini memang berbeda. Orkes gesek yang terdiri dari pecinta musik dan baru berusia dua tahun ini memang semarak. Nyata bahwa kerja keras dapat berbuah manis dan adalah kesenangan tersendiri melihat cita rasa dan idealisme tersaji lengkap dalam sebuah pagelaran. Tentunya besar harapan, Acacia Youth String Orchestra ini dapat terus berkarya dan semakin meningkatkan kualitas dan menjaga jiwa mudanya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: