Kabar Terkini

Baru tapi Lama, Berbicara Lewat Keyakinan


IMG_0742Abad 20 adalah babak penuh gejolak dalam sejarah Rusia. Resital kali ini di Erasmus Huis bertumpu pada rangkaian peristiwa di salah satu negara yang pernah diklaim sebagai negara terluas di dunia ini. Adalah karya Arvo Pärt dan Dmitri Shostakovich yang menjadi pembuka dan penutup dari resital yang dipersembahkan trio pianis Teguh Sukaryo, pebiola Byrd Siripong Tiptan dan cellis Sietje-Jan Weijenberg kali ini.

Dibuka dengan karya Spiegel im Spiegel dari Pärt yang membius. Penonton dibawa dalam nuansa religius yang kental dan meditatif lewat alur melodi sederhana yang saling bertanya jawab antara biola Siripong dan cello Weijenberg. Sukaryo sendiri mengiringi dengan formasi yang syahdu. Karya ini mencirikan keterampilan Pärt dalam membentuk fondasi yang kuat lewat materi yang sederhana.

Setiap motif sebagaimana judul “Cermin dalam Cermin” dicerminkan satu dengan yang lain sembari bergerak lambat dari cello dan biola. Piano sendiri membingkai dengan harmoni yang terkesan sederhana namun memberi warna pekat. Sekali memang terasa Sukaryo ingin membawa musik berjalan lebih cepat, namun Siripong dan Weijenberg mampu mempertahankan ketenangan karya ini. Pärt sendiri adalah salah satu komponis simbol perlawanan terhadap sosialisme Uni Soviet di paruh kedua abad-20 lewat religiositasnya yang kuat tercermin dalam keseharian dan musik yang ditulisnya.

Babak kedua diisi dengan permainan Piano Trio no.2 Shostakovich yang ditulis tahun 1944. Shostakovich sendiri dikenal lewat pergulatannya melawan cengkeraman Stalinisme. Panggilan hatinya sebagai seniman berbenturan dengan dunia politik Uni Soviet yang mengekang kebebasan berekspresi. Shostakovich sendiri menyaksikan perang dunia kedua dan lewat karya ini mengungkapkan kekelaman Eropa Timur di masa-masa itu sekaligus kesedihannya sepeninggal seorang sahabat Ivan Sollertinsky yang adalah seorang serba ahli dan juga seorang musisi. Pun Piano Trio yang dipremierkan di Leningrad ini menjadi tanda kematangan seorang Shostakovich sebagai seorang komponis lewat karyanya yang terbangun lewat konsep yang kuat dan cermat.

IMG_0738Dengan berbalut disonansi, karya empat bagian ini mengetengahkan permainan harmoniks yang sulit di bagian pertama yang bertempo lambat yang kemudian berkembang menjadi sebuah fuga. Di bagian kedua, Allegro con brio berisikan tarian yang bertenaga mengisi karya sebelum masuk ke dalam nyanyian yang muram di bagian ketiga Largo. Sedang loncatan usil penuh not-not pendek mengisi bagian keempat sebelum melodi berlaras Yahudi dihiasi ritme tarian Timur Tengah bertanya jawab di antara ketiga instrumen sebelum seluruh tema di bagian sebelumnya kembali didaraskan.

Selain dari dua karya ini, Siripong dan Weijenberg bergantian memainkan nomor solo di bagian pertama diiringi permainan piano Teguh Sukaryo. Siripong memainkan 2 nomor dari 7 Chansons Populaires Espagnoles yang menyanyi lembut. Permainan yang bersih dan lincah juga ditampilkan dalam karya Zigeunerweisen oleh Pablo Sarasate. Weijenberg pun membawakan karya Elegie oleh Gabriel Faure yang begitu personal, juga karya Bohuslav Martinů Variations on a Theme of Rossini yang cerah bersemangat.

Memang agak jarang kita menyaksikan piano trio di panggung pertunjukan di Jakarta. Pun piano trio kali ini terbentuk dari personel yang tersebar di 3 negara berbeda. Teguh Sukaryo membina sekolah musik di Jakarta, Byrd Siripong Tiptan adalah concert master di Bangkok Symphony Orchestra dan adalah pebiola terpandang di Thailand, sedang Sietje-Jan Weijenberg adalah seorang principal cellis di banyak orkes di Belanda di antaranya Concergebouw Orchestra dan Nederlands Kamerorkest.

Tapi, dalam resital ini penonton menyaksikan kematangan ketiganya sebagai musisi yang handal dalam musik kamar. Keterampilan di alat masing-masing dan ekspresi tidak menghalangi mereka untuk bekerja sama dan atentif satu dengan yang lain. Pun permainan mereka hadir sebagai kesatuan yang utuh dengan konsep yang matang.

Permainan Siripong yang cemerlang dan sensitif, berpadu dengan kehangatan dan tenaga dari Weijenberg serta didukung dengan iringan piano yang kokoh dan bercitarasa dari Sukaryo. Penonton pun tentu akan menyangka pemusik ini telah bekerja sama sedemikian lama sehingga mampu bahu-membahu membina karya dengan sigap. Trio yang baru dibentuk ini seakan terasa sudah lama bekerja sama. Fleksibilitas mereka dalam merespon satu dengan yang lain tidak berpengaruh pada keyakinan mereka dalam membawakan pesan dalam musik. Karya-karya pun tersaji sebagaimana adanya dan mampu meyakinkan penonton akan pilihan interpretasi yang diambil.

Resital malam ini sama sekali tidak terasa berat di telinga penonton, sekalipun karya yang ditampilkan juga adalah musik-musik klasik yang serius. Memang penampilan dari ketiga ini patut diberi catatan tersendiri, dan sebagaimana penonton menyadari lewat tepuk tangan yang riuh semalam, ketiganya menutup konser dengan dua buah karya dari Astor Piazzolla sang ahli tango Argentina sebagai encore, Oblivion dan Muerte del Angel.

Penonton pun meninggalkan Erasmus Huis dengan perasaan puas. Resital yang menjadi bagian dari Chamber Music Tour empat kota ini memang layak untuk disaksikan.IMG_0737

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: