Kabar Terkini

Diplomasi Internasional dan Peranan Orkestra

Members of the North Korean audience listen to the New York Philharmonic orchestra led by Musical Director (conductor) Lorin Maazel during their inaugural performance in the North Korea capital, Pyongyang on February 26, 2008. The concert represents an unprecedented cultural exchange between North Korea and the United States, which labeled Pyongyang part of the "Axis of Evil" along with Iran and Iraq, prior to the US-led 2003 war. AFP PHOTO/Mark RALSTON (Photo credit should read MARK RALSTON/AFP/Getty Images)

Members of the North Korean audience listen to the New York Philharmonic orchestra led by Musical Director (conductor) Lorin Maazel during their inaugural performance in the North Korea capital, Pyongyang on February 26, 2008.  The concert represents an unprecedented cultural exchange between North Korea and the United States, which labeled Pyongyang part of the "Axis of Evil" along with Iran and Iraq, prior to the US-led 2003 war.     AFP PHOTO/Mark RALSTON (Photo credit should read MARK RALSTON/AFP/Getty Images)

Audiens Korea Utara menyaksikan New York Philharmonic di Pyongyang (Photo credit should read MARK RALSTON/AFP/Getty Images)

Musik telah lama dikenal sebagai bahasa yang mempersatukan lewat tuturnya yang selangkah di atas rumpun bahasa. Oleh karenanya musik seringkali didapuk sebagai bahasa universal. Menurut Cynthia Cohen dari Brandeis University, musik adalah medium yang hebat untuk ekspresi, komunikasi, pemulihan dan transformasi. Sedang bagi Dr. Felicity Laurence, ahli pendidikan musik dari Newcastle University, musik mampu memfasilitasi rasa solidaritas melampau batas budaya dan kebangsaan dan pada akhirnya menuju rasa universalitas dan kesadaran bersama.

Dan sedikit berbeda dari banyak jenis kegiatan lain yang membangun kreativitas, bermain musik adalah sebuah aksi kreatif yang dibangun bersama atas dasar kolaborasi. Nilai tambah sebagai sebuah aktivitas komunal inilah yang memampukan musik sebagai sarana yang baik untuk membangun komunikasi dan kerjasama di antara para aktivisnya. Hal ini telah disadari oleh Baldassare Castiglione, seorang diplomat ulung di abad 16, musik mampu membangun hubungan harmonis dan menekankan pentingnya permainan ensemble yang mengutamakan kebersamaan yang mampu membangun kerja sama dan kolaborasi.

Sebelum abad ke-20 bahkan para diplomat dan masyarakat berkolaborasi bersama untuk bermusik bersama. Dan sebagaimana gagasan ini banyak berkembang di Eropa, orkestra yang melibatkan banyak orang menjadi moda utama yang tepat untuk diplomasi yang menjangkau lebih luas. Orkestra seringkali menjadi media ideal pun dengan form yang besar selain kerjasama antar musisi, orkestra pun mampu menjangkau pendengar yang lebih banyak dengan volume suara yang terdengar cukup lantang di masanya.

Diplomasi Musik Abad-20

Di pertengahan abad ke-20, banyak orkestra profesional ikut serta untuk memperjuangkan perdamaian dan diplomasi. Dilanda Perang Dingin, banyak orkestra maju untuk menjadi duta perdamaian di antara dua blok yang saat itu memisahkan dunia politik internasional.

Phildelphia Orchestra di Beijing 1973

Boston Symphony Orchestra dari Amerika Serikat di tahun 1956 mengunjungi Uni Soviet yang kala itu berjuluk sebagai Negeri Tirai Besi dengan membawa pesan perdamaian. Tampil di Leningrad dan Moskow, Boston Symphony pun diceritakan mampu menggerakkan hati penonton hingga sempat mendapatkan standing ovation hingga selama 10 menit di Moskow. Empat tahun giliran Moskow State Symphony Orchestra yang berkunjung ke AS dan melakukan tur di 20 kota dan salah satunya ke New York. Pertukaran ini menjadi awal, saling silang hubungan antara Uni Soviet dan AS.Berselang beberapa tahun, Philadelphia Orchestra tampil di Beijing dan Shanghai  tahun 1973 sebagai kelanjutan dari diplomasi pingpong AS yang mencoba mencairkan ketegangan hubungan Negara Tirai Bambu pasca Revolusi Kebudayaan yang berbuah pada pengganyangan bentuk budaya barat, termasuk orkestra dan musisi-musisi Tiongkok yang memainkan instrumen barat.

Di tahun 1990, Berliner Philharmoniker berkunjung ke Tel Aviv dan menjadi pertunjukan perdana mereka setelah Perang Dunia II yang banyak memakan korban warga Yahudi di Eropa. Di tahun-tahun PD II memang orkestra ini secara berat dipolitisasi untuk kepentingan Reich Ketiga yang menyebabkan orkestra ini sempat identik dengan pendudukan NAZI. Namun demikian, konser ini menjadi tanda cairnya hubungan kaum Yahudi dengan Jerman, 45 tahun setelah Perang Dunia II berakhir.

Di tahun 2008, hadirnya New York Philharmonic di salah satu negara paling tertutup di dunia saat ini, Korea Utara juga menjadi salah satu tonggak diplomasi melalui musik dan kerja sama. Meskipun hingga kini hubungan Korea Utara dan AS belum cukup cair, namun pertunjukan orkestra ini mampu membawa budaya luar untuk pertama kali masuk ke dalam negara yang sangat tertutup itu. Konser yang disiarkan secara nasional di Korea Utara itu pun mampu menggerakkan para penonton lewat keindahan musik yang disampaikan hingga banyak yang menitikkan air mata.

West-Eastern Divan Orchestra sebagai kerja sama Arab-Yahudi

West-Eastern Divan Orchestra yang dibentuk oleh pianis konduktor Argentina-Israel Daniel Barenboim dan penulis budayawan Amerika-Palestina Edward Said menjadi salah satu bentuk orkestra yang memiliki misi pendamaian yang sungguh kental. Diawaki musisi-musisi muda dari Israel dan Palestina, orkestra ini menjadi medium pendamaian di antara dua negara yang bertikai, bahwa kerja sama dapat dibangun dan kesepahaman dapat terbentuk. Orkestra ini berdiri sejak tahun 1999 dan hingga kini masih tetap memperjuangkan idealisme perdamaian di antara masyarakat dan aktif melakukan pertunjukan di Palestina hingga Spanyol. Hingga kini masih banyak stigma yang dialami musisi Arab dan Yahudi peserta orkes ini dari sebagian masyarakat masing-masing, karena dianggap tidak nasionalis dan tidak mendukung usaha politik masing-masing negara. Hingga kini mereka bisa dikatakan adalah garda depan diplomasi antar manusia melalui musik.

Dua bulan lalu juga menjadi marka baru dalam kerjasama orkestral. Untuk pertama kalinya orkestra AS hadir di Kuba setelah Insiden Kuba di masa perang dingin. Adalah Minnesotta Symphony yang kali ini turun sebagai duta budaya publik AS untuk Kuba yang sekarang ini sudah lebih fleksibel dalam hubungan internasional dan dengan tetangga mereka Amerika Serikat.

Diplomasi musik lewat orkestra memang banyak digunakan oleh negara-negara yang menyadari kekuatan budayanya dan kemampuan orkestra sebagai sebuah wadah yang mengglobal dan mampu memfasilitasi kerja sama. Berikut, diplomasi musik Indonesia.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: