Kabar Terkini

Refleksi Jiwa Muda Mendelssohn dan Ravel lewat Gesekan


IMG_0806Berpuluh tahun orang di Eropa menantikan lahir kembali seorang jenius musik cilik yang akan meneruskan trah Wolfgang Amadeus Mozart sebagai anak ajaib yang mempesona Eropa dengan bakat dan kemampuan musiknya di usia balita. Harapan pertama mereka jatuh kepada Felix Mendelssohn yang lahir pada tahun 1809, 54 tahun setelah Mozart dan 18 tahun setelah sang jenius pertama wafat.

Hadir di keluarga filsuf dan bankir yang mapan, Mendelssohn menunjukkan bakatnya yang luar biasa juga sejak muda. Banyak dari mereka menganggapnya sebagai jenius baru yang sebagaimana Mozart telah mampu menuliskan karya sejak usia balita. Bakatnya pun terasah dalam lingkaran keluarga Yahudi yang terdidik, dan ayahnya memfasilitasi proses belajar anaknya dengan dukungan kelas wahid. Dalam tumbuh kembang kariernya, sejarah mencatat semua berjalan dengan mulus dan lancar.

Hal inilah yang membekas hingga Felix Mendelssohn dewasa yang pada usia 28 tahun menggubah String Quartet No.3 Op.44 No.1. Keceriaan seakan tidak lepas dari pria yang setahun sebelumnya terpilih sebagai direktur musik di Duseldorf. Musiknya memiliki nilai keriaan dan elegansi yang dapat disandingkan dengan gaya masa-masa 50 tahun sebelumnya, ketika Mozart, Haydn dan Salieri merajai musik di Eropa.

Dibangun atas 4 bagian, karya ini selain cukup konservatif juga merujuk Mozart dengan menukar pakem bagian kedua yang lambat dengan bagian ketiga yang berupa tarian minuet dan trio. Dibangun atas pengembangan tematik yang kuat, Mendelssohn menunjukkan kepiawaiannya menggarap tema dan getar-getar romantisme sebagaimana Mozart tunjukkan dalam gubahan 6 kuartet Haydn yang ditulis Mozart untuk menghormati sang pencipta gaya komposisi tersebut, yang penuh dengan kecemerlangan.

Setelah disuguhkan dengan kuartet dari Mendelssohn, String Quartet dalam F Mayor dari Maurice Ravel meninggalkan kesan tersendiri. Ditulis di usianya yang ke-27 sejalan dengan Mendelssohn, Ravel yang lahir tahun 1875 menunjukkan kepiawaiannya dalam menggarap kuartet gesek, sebuah format yang seringkali dianggap paling sulit untuk dituliskan.

Ditulis untuk mengikuti komposisi Prix de Rome 1904 yang merupakan kompetisi komposisi paling bergengsi ketika itu, karya ini dinyatakan kalah di lomba tersebut. Walaupun telah ditulis dengan sematang mungkin oleh Ravel dan menggunakan format yang paling sulit untuk digubah, karya ini dinyatakan kalah dan mendorong Ravel untuk mundur dari Conservatoire de Paris dan dari bimbingan gurunya Gabriel Faure. Namun tanpa disangka, karya ini jugalah yang melejitkan nama Ravel sebagai komponis terdepan kala itu dan memenangkan simpati banyak orang.

IMG_0808

Keterampilan Ravel dalam meramu nuansa dan cikal-bakal tersohornya sebagai seorang orkestrator ulung terlihat lewat karya yang ditulis seperti karya Mendelssohn yang ditampilkan sebelumnya dengan empat bagian. Bagian kedua yang penuh petikan kuartet gesek bersahutan mengambil tempat sebagai Scherzo/lelucon yang pada abad ke 19, mulai menggantikan peran Minuet dan Trio. Eksplorasi Ravel dalam hal harmoni mengingatkan penulis akan cita rasa Paris, Prancis yang melekat kuat pada idiom musik Debussy dan Ravel sendiri, yang juga adalah tokoh impresionis yang patut dicatat.

Lewat guratan penanya, permainan ritme, pergerakan harmoni dan melodi bergerak seakan membuai pendengar berbelok dari arah satu ke arah lain tanpa pernah seakan berhenti. Walau hanya bersenjata 2 biolin, 1 biola dan 1 cello, kita bisa sedikit mengintip benak Ravel yang berpikir dalam koridor konsep orkestra. Dalam buaian itu, kecemerlangan tergambar jelas sebagai sebuah kontradiksi terhadap konsep ekspresivitas yang kental di akhir abad 19.

Alangkah demikian, pilihan Ravel untuk banyak mengetengahkan biola alto dengan warnanya yang khas menyisakan sendu dalam derai tawa. Mungkin ini adalah beberapa penyebab, mengapa Ravel dinyatakan kalah dalam kompetisi tersebut namun sesungguhnya menunjukkan kekhasannya sebagai komponis dan menjadikan karya ini sebagai salah satu karya utama dalam format kuartet gesek.

Bicara soal Mendelssohn dan Ravel semalam tidak bisa terlepas dari Schelm String Quartet yang kemarin tampil di Auditorium Gloriamus. Kuartet yang beranggotakan biolin Masayuki Kino dan Takuto Matsunoki, biola Kaito Ikeda dan cello Sakura Taishiro Peatey. Kuartet yang beranggotakan pemusik dari dua generasi berbeda dengan Kino sebagai figur bapak sekaligus pemimpin di biolin 1, sangat padu dan resik. Keindahan terpancar lewat kejernihan masing-masing musisi menggarap karya dengan langkah yang natural dan konsisten. Kejernihan ini yang semakin menambah istimewa pendekatan mereka akan karya Mendelssohn maupun Ravel yang mengandalkan kualitas tersebut.

Musik bertutur dengan lugas tanpa bertele-tele, meluncur lewat biolin Kino yang kini menjabat sebagai concertmaster Japan Philharmonic Orchestra. Matsunoki, biolin 2 yang pernah besar di Indonesia dan kemudian meneruskan pendidikan kembali ke kampung halamannya, mendukung dengan penuh di belakang. Ikeda yang juga seorang konduktor, dengan biola altonya bukan hanya piawai mendukung, tapi juga memimpin ensembel lewat garis melodi hangat yang tergarap. Peatey yang kini masih menyelesaikan studi paskasarjananya sebagai anggota termuda, menunjukkan musikalitasnya yang memancar kuat lewat kualitas permainannya yang mampu bersanding dengan Kino yang 25-30 tahun lebih berpengalaman.

Keempatnya memiliki kualitas yang seimbang dan saling mendukung dengan eksekusi yang teliti dan tergarap. Tidak ada momen yang dibiarkan berlalu begitu saja. Semuanya tergarap secara mendetail dengan masing-masing mengambil tanggung jawab yang berbeda namun sungguh sadar dan peka dengan apa yang dimainkan koleganya. Bila tidak, Ravel yang semalam disajikan tidak akan sampai ke taraf yang demikian.

Tepuk tangan membahana di ruang yang kaya gaung di bilangan Jakarta Barat itu. Dua buah encore disajikan, dan penonton pun pulang dengan puas. Nama “Schelm” bisa berarti setan usil, tapi mungkin malam kemarin hanya kekaguman penonton yang mereka usili dan dengan cerdas mengarahkan kekaguman itu pada Ravel dan Mendelssohn.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: