Kabar Terkini

Sydney Opera House Concert Hall Akustik dan Karakter


Sydney-Symphony-Orchestra-with-6-harps-at-the-Sydney-Opera-House-Concert-Hall

Sebuah auditorium gedung konser adalah sebuah instrumen yang berbeda satu dari yang lainnya. Sebagaimana setiap instrumen musik, setiap ukuran dan lekuk auditorium tersebut mempengaruhi karakter suara yang dihantarkan sekalipun musik yang dimainkan adalah musik akustik tanpa pengeras suara.

Guru penulis, Aisha Pletscher, pernah mengatakan, “Instrumentalis harus memiliki niatan besar untuk menaklukkan instrumen yang dimainkannya untuk mampu berbunyi sebagaimana yang diinginkan si pemain. Niatan ini harus besar, apalagi pianis yang harus menaklukkan piano asing yang baru ia temui dan menjadikannya seakan-akan miliknya sendiri dalam hitungan menit dan jam.” Dan bagi banyak orang, proses untuk mengenali instrumen itu butuh waktu seperti layaknya mengenali karakteristik seseorang.

Bagi sebuah ensembel, bermain di gedung auditorium yang tidak dikenal adalah sebuah kencan buta. Seakan tidak tahu siapa yang akan kita temui, tidak tahu pula bagaimana perilakunya dan kadang kita sendiri yang akhirnya kikuk dalam bersikap. Ada rasa khawatir, gugup tapi juga ada rasa meluap-luap dan bersemangat ingin melihat. Terlebih apabila kita mendengar kabar bahwa teman kencan kita adalah seseorang dengan reputasi baik dan tampaknya dikagumi banyak orang.

Inilah yang terjadi Sabtu kemarin di Sydney Opera House (SOH) oleh Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra. Tanpa uji coba panggung sebelumnya, sudah harus menjajaki panggung dan dalam hitungan menit mengenali karakter Concert Hall dengan kapasitas 2,600 orang ini agar mampu memaksimalkan potensinya.

Pdt. Stephen Tong sebagai desainer gedung konser satu-satunya di Indonesia dengan kapasitas di atas 1,200 orang mengatakan, “Mendesain gedung konser dengan kapasitas di atas 1,000 orang itu sulit. Harus dihitung benar bagaimana agar suara mampu tetap terdengar hingga ke pojok-pojok gedung.”

Sydney Opera House Concert Hall dari arah organ panggung orkes

SOH dengan kapasitas 150% di atas ambang batas pastinya sudah merupakan sebuah tantangan tersendiri. Apabila tidak didesain dengan baik, sebuah gedung konser hanyalah sebuah rongga beton yang menganga. Alih-alih memperkaya suara, bisa jadi malahan mempermiskin suara, merendahkan mutunya atau mungkin membanjirinya dengan suara-suara gema yang tidak teratur yang membuat penonton sakit kepala karena beradu dengan suara asli.

Didesain dengan dipenuhi plywood kuning kecoklatan yang berasal dari New South Wales utara, gedung konser ini memiliki resonansi hangat cerah yang menyerupai warna kayu tersebut. Kayu bukan saja menghiasi dinding dan langit-langit tapi juga setiap lantai yang digunakan. Susunan kayu ini membuat proyeksi suara lebih terukur dan terdengar lebih jelas tanpa gaung yang berlebih sebagaimana sebuah gedung berdinding beton dan keramik, namun juga tidak menyerap suara sebagaimana bahan-bahan kain dan karpet.

Di atas panggung berukuran 22.5m x 13.75 ini dengan langit-langit yang tinggi di atas panggung, desainer memilih menggunakan reflektor bening dari serat karbon berbentuk lingkaran dan diletakkan berjarak, satu dengan yang lainnya untuk meminimalisir gaung akibat tingginya langit-langit. Ini juga untuk menjawab permasalahan akustik di barisan terdepan panggung yang acap kali tidak kebagian suara karena suara langsung terlempar ke belakang. Bening juga memampukan tata cahaya panggung yang didesain agar tercurah dari atas dan meminimalisir bayangan yang tidak dikehendaki.

Karakter Sydney Opera House Concert Hall ini memang unik. Pemain dalam ensembel haruslah memiliki keinginan kuat untuk bermain dengan proyeksi penuh agar dapat tetap terdengar di telinga rekan-rekan pemain, padahal untuk suara lembut sekalipun bisa dengan jelas terdengar di telinga penonton. Memang untuk panggung seperti ini lebih sulit untuk dapat terus terdengar oleh rekan sepanggung daripada penonton karena memang akustik didesain untuk melontarkan suara ke arah penonton dan bukan ke arah sesama pemain. 

Mahawaditra di Concert Hall Sydney

 Orkes Mahawaditra sendiri cukup beruntung karena sudah diperingatkan oleh tutor gesek mereka, Leonardus Adi Pamungkas akan besarnya kemungkinan ini. Alhasil, musik direktur Metta Ariono dan penulis berusaha menstruktur latihan agar pemain tidak hanya terbiasa main berkerubung dengan kelompok instrumennya tapi juga melatih pendengaran dengan berlatih dengan konfigurasi seating yang tidak biasa dan juga berlatih di ruang terbuka untuk membiasakan proyeksi terbuka.

Di panggung, pengalaman memang berbeda. Seluruh pemain berusaha memasang indera setajam mungkin untuk memastikan kesatuan permainan. Dan ternyata memang akustik SOH sangat kaya dan hangat, suara yang terproyeksikan dengan matang seakan bersirkulasi di langit-langit dan menyebar ke penjuru auditorium seperti pada saat klarinetis Althea Averina melagukan rangkaian pentatonik dan flutis Chie Aoshima dari Mahawaditra berduet di atas panggung dalam kontrapung. Bunyi gaung ini pun juga bisa dinikmati oleh pemain di atas panggung dan cenderung menggetarkan.

Namun sayangnya, gema yang memperkaya ini juga dapat menjebak pemain dengan menantikan gaung yang datang terlambat, alhasil musik pun bisa jadi terhenti karena saling menunggu timbal balik gaung. Butuh kepekaan instan agar mampu mengontrol pola pikir dalam alunan nada dan akustik yang cenderung membuai. Namun bagi mereka yang mampu memaksimalkan peran panggung dan auditorium, Concert Hall ini adalah sebuah instrumen yang cukup ramah untuk para pemain yang baru menjejakkan kakinya di atas panggung. Dan tentunya pengalaman yang ajaib buat para pemain dari Universitas Indonesia yang sepanjang sejarahnya cukup banyak mencicipi berbagai gedung pertunjukan di sekitar Jakarta.

Sebagai pembanding, tidak ada yang lebih tepat daripada membandingkan pengalaman di atas panggung dengan pengalaman sang tuan rumah sendiri walaupun dari bangku penonton. Sydney Symphony Orchestra (SSO) sebagai orkes tuan rumah panggung ini, di Senin malam mementaskan Tchaikovsky Manfred (Symphony after Byron) Op.58 dan Violin Concerto Op.14 karya Samuel Barber dengan Gil Shaham sebagai solois biola. Sebagai pembuka, komposisi sang konduktor tamu yang malam itu memimpin SSO, Bramwell Tovey, Urban Runway membuka konser.

Dalam karya Urban Runway yang dibangun atas irama cakewalk dan mengambil inspirasi dari dunia fashion, Bramwell Tovey mengindikasikan gaya dan citra diri melalui irama yang kuat disertai dengan sapuan menawan dari seksi gesek. Violin Concerto menampilkan versi orkestra yang lebih minimalis dengan gaya yang cenderung intim. Sedang Manfred dari Tchaikovsky mengangkat bentuk besar orkestra dengan segala energi dan kemegahannya.

Namun demikian karakteristik Sydney Symphony malam itu cukup jelas terproyeksikan oleh gedung konser ini. Suaranya yang membahana dan mampu menggunakan setiap sudut ruangan Concert Hall ini bermodalkan kejernihan permainan dan presisi hingga mampu menaklukkan instrumen raksasa ini. Dan nyatanya aula ini mampu membentuk setiap suara hingga berkarakter hangat dan resonantif. Instrumen seperti French Horn dan Viola serta register tengah oboe seakan berjaya di gedung yang diresmikan di dekade 70-an ini sedang register tinggi tetap terbangun dengan jernih, dan register bawah cukup menggerung hangat.

Arahan Tovey yang lebih terfokus pada pembentukan kalimat memberikan kebebasan yang cukup untuk orkestra berekspresi namun tetap bertanggung jawab pada ketepatan eksekusi, sesuatu yang sebenarnya cukup menantang, namun terbukti SSO memiliki kualitas permainan ensembel yang cukup baik dan terbukti lewat karya konserto yang mampu berdialog dengan sang solois biola Gil Shaham asal AS.

Pebiola Gil Shaham sendiri memang memukau terutama dengan kemampuannya beradaptasi dengan pemusik dan kemampuannya menaklukkan gedung seluas SOH dan membuat aula ini berpihak dalam 3 penampilan terakhir kepadanya setelah terakhir bermain di gedung ini 14 tahun lalu. Permainannya yang bening mengkilat diselingi fase-fase hangat dari suara rendah biola Stradivarius buatan 1699 yang disebut “Countess Polignac” membahana.

Sambutan penonton semalam membuat penonton menyaksikan kemampuannya membina beragam alur suara dengan berbagai karakter lewat satu biola dalam musik dari Partita Bach yang dimainkan semalam. Tampil seorang diri, ia bukan hanya mampu menaklukkan dan mengeluarkan yang terbaik dari biola namun juga akustik ruangan lewat ketelitiannya membina karakter setiap alur suara sembari menggunakan gaung akustik ruangan seakan sebagai pedal sostenuto di piano yang mampu menyambung nada satu ke nada lain. Alhasil penonton pun bersorak meriah karena keterampilannya membuat biola seakan seakan sekelompok paduan suara yang bernyanyi bersahutan satu dengan yang lain.

Sebuah auditorium gedung konser juga merupakan sebuah stadium olahraga yang unik. Dengan karakteristik gedung yang unik juga publiknya yang berbeda, menjadikan setiap konser layaknya sebuah pertandingan kandang dan tandang. Pun dengan publik yang berbeda dan tentunya Sydney Opera House selain karena desain dan proyek ambisius kala itu telah menjadikannya salah satu marka penting bagi seni di belahan dunia timur ini.

~ingin lihat dalam Sydney Opera House? Silakan baca di sini

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: